alderine

Sepatah Kata

Posts Tagged ‘buku

Sembunyi, Tuhan, dan Cacat

leave a comment »

“Aku tahu siapa kamu sebenarnya, meskipun kamu selalu bersembunyi,” kata Saras ketika mereka mulai dekat.
Budi mula-mula masih mencoba untuk megelak. Tapi karena terus-menerus ditatap akhirnya ia menyerah juga.
“Siapa yang sudah mengkhianati aku?” tanyanya kemudian setelah mereka mulai intim.

Saras hanya tersenyum.

“Kenapa mesti harus ada seorang pengkhianat untuk membuat yang gelap jadi terang. Apa kamu pikir kamu sudah begitu hebatnya lari menyembunyikan diri kamu, sehingga Tuhan pun tidak bisa melihatnya?”
“Kamu jangan bawa-bawa Tuhan.”
“Kenapa?”
“Karena persoalannya tidak akan bisa lagi diamati obyektif kalau belum apa-apa kamu sudah membawa nama Tuhan.”
“Apa lagi yang bisa aku bawa untuk membuat orang yang begitu pe de seperti kamu untuk mengerti dan berpikir kembali, bahwa kamu tidak sepintar yang kamu sangka, kalau bukan Tuhan?”
“Ternyata kamu sama saja!”
“Maksudmu?”
“Membuat Tuhan sebagai tempat pelarian!”
“Itu bukan pelarian!”
“Apa pun yang mau kamu sebut, silakan. Tapi kamu sudah mempergunakan Tuhan!”
“Aku tidak mempergunakan, aku yang sudah Dia pergunakan! Dan aku membiarkan diriku untuk dipergunakan sebab aku percaya!”
“Itu sama saja, hanya cara mengatakannya lain.”
“Kamu salah!”
“Terserah! Itu persoalan kamu! Siapa yang sudah menceritakan siapa aku kepada kamu?”
“Aku sendiri!”
“Bohong!”
“Hah! Kamu selalu mengira semua celah sudah kamu tutupi! Padahal?”
“Celah yang mana?”
“Masak kamu tidak tahu?”
“Aku yang bertanya!”

Saras tersenyum.

“Tidak perlu terlalu pintar untuk melihat kekurangan orang lain. Yang memerlukan kepintaran adalah melihat kekurangan diri sendiri.”
“Nyindir kamu?”
“Boleh dianggap nyindir, tapi itu sebenarnya kritik. Kritikku kepada kamu.”
“Kenapa mesti mengkritik aku, emang kurang kerjaan.”
“Sebab aku sudah menganalisa kamu.”
“Kenapa? Emang lhu tertarik sama gue?”
“Ya! Karena kamu terlalu sombong. Aku tidak pernah melihat orang sesombong kamu.”
“Kamu aja yang mengatakan itu kesombongan. Aku hanya berusaha tidak mengganggu orang lain.”
“Nah. Hanya orang yang tidak mau diganggu yang selalu berusaha menghindar dari orang lain. Dan orang yang selalu menghindar dari orang lain adalah orang yang punya rahasia. Dan rahasia yang paling ditakuti anak muda brilian yang memiliki masa depan cemerlang adalah kalau ia memiliki cacat.”

——————————————————–
dialog yang paling saya sukai di novel ‘Mala’, buku kedua tetralogi dangdut karya Bapak Putu Wijaya.

Written by Alderine

July 17, 2012 at 9:57 am

Posted in Buku dan Sastra, Prosa Prematur

Tagged with ,

Aforisma dalam Prosa yang Prematur

leave a comment »

The only way to read a book of aphorisms without being bored is to open it at random and, having found something that interests you, then immediately close the book and meditate.
Prince Charles-Josef de Ligne (1735 – 1814), Austrian field marshal and writer

Kau berlindung di balik bayangan dirimu sendiri. Bayangan yang kau pahat dengan sempurna, dan melesakkan bit-bit pesona yang mengesankan.

Kau bilang prosa satu dekade. Mereka bilang kau tak menggurui. Namun terlalu dini menyebutnya prosa. Dan aforismamu tergesa. Rimamu pun menari terbata. Turbulen. Serupa angin bertiup, tak sama di sini dan di atas langit. Kata-kata bercuat tak beratur, bagai buah fikir pada ambang peradilan.

Meski prosa dan aforismamu prematur. Masih kau sajikan secarik filosofi dihadapnya. Tak perlu risau, tak semua dapat mengambil setumpuk makna darimu.

Karena sastra bagai warna. Sastra hanya representasi lain dari seni. Preferensimu menggambar kecocokan emosi bagi mereka.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Sebua kritik untuk seorang penulis, mungkin karena brandingnya terlalu bagus, antara endorser dan isi buku tak seiring.

Coba tak vulgar, belajar figuratif. Karena saya sendiri tak tertarik dengan sastra yang vulgar.

Written by Alderine

May 2, 2012 at 10:38 pm

Posted in Prosa Prematur

Tagged with ,

Sepetak Tanah

leave a comment »

Didasari atas keserakahan manusia yang akhir-akhir ini terlihat di mana-mana, saya ingin mereview cerita lain dari Leo Tolstoy, How Much Land Does A Mand Need?
Cerita ini mengenai seorang petani. Dia merasa kurang dengan lahan yang dia miliki. Kemudian, dia berambisi untuk memiliki lahan seluas-luasnya. Dia berkata, “Jika saja aku punya lahan yang luas, aku tidak akan takut dengan setan!” Tanpa sepengetahuannya, setan berdiri di belakangnya mendengar ucapan petani itu.

Tidak lama kemudian, ada seorang pemilik tanah dekat rumahnya menjual tanah miliknya. Orang beramai-ramai membeli tanah miliknya sebanyak yang mereka mampu, begitupun petani itu. Akhirnya petani itu memiliki tanah yang lebih luas. Namun, dia masih berambisi untuk memiliki tanah yang lebih luas lagi.

Akhirnya petani itu pindah ke kota lain, dengan lahan yang lebih luas lagi tentunya. Di sini ia hidup berkecukupan, dengan hasil bercocok tanam yang lebih banyak pula. Namun ada hal yang mengganggunya, lahan tempatnya bercocok tanam merupakan tanah sewaan.

Untuk itu, ia pergi ke seorang pemilik tanah, dan menawar harga tanah miliknya semurah mungkin. Akhirnya pemilik tanah itu menawarkan tanahnya dengan kesepakatan yang unik. Untuk harga 1000 ruble (mata uang Rusia, maklum karangan Tolstoy), ia dapat memiliki lahan seluas yang ia mau, dibatasi parit kecil yang dibuat dengan sekop. Ia boleh memulai sejak matahari terbit, dan berhenti saat matahari terbenam. Jika ia dapat kembali saat sebelum matahari terbenam, seluruh tanah di dalam area yang ia tandai dengan parit menjadi miliknya. Tapi jika ia belum kembali ke tempat asalnya sebelum matahari terbenam, maka ia kehilangan uangnya dan tidak menerima tanah sedikitpun.

Petani itu senang sekali, membayangkan ia akan mendapat tanah seluas yang ia mau. Malam itu ia menyiapkan diri untuk esok hari. Namun ia bermimpi buruk. Dalam mimpinya, petani itu melihat dirinya terkulai mati di bawah kaki setan yang sedang tertawa.

Keesokan harinya, petani itu berusaha untuk menandai tanah sejauh yang ia bisa. Hingga ia tersadar, matahari sudah terbenam separuh. Namun ia terlalu jauh dari titik mula. Ia berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai titik mula. Akhirnya petani itu sampai ke titik mula di mana pemilik tanah menunggunya, tepat saat matahari terbenam seluruhnya. Pemilik tanah menghargai hasil kerja petani itu, dan memberikan seluruh tanah yang sudah ditandai parit kecil itu menjadi miliknya. Namun karena terlalu kencang berlari, petani itu mati kelelahan. Pesuruhnya kemudian menguburnya dalam tanah berukuran 2 x 1 meter.

——————————————————–
Ironis, bukan?
(ditulis pada perjalanan pulang di tol Cipularang πŸ™‚ )

Written by Alderine

April 12, 2012 at 5:41 am

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,

Selagi Hari Terang, Aku Akan Selalu Ingat

leave a comment »

While The Light Lasts — Agatha Christie

Kumpulan cerpen ini merupakan satu-satunya buku Agatha Christie yang saya punya πŸ™‚ Kebetulan saya jarang beli buku, lebih suka parasit buat pinjem orang atau perpustakaan atau sekalian cari e-booknya. Tapi buku ini jaman saya masih SMP kelas 1 (atau kelas VII nyebutnya, hehe), saat e-book belum se widely used sekarang.

Meskipun bukan Agatha Christie pertama yang saya baca, buku ini merupakan salah satu Agatha Christie favorit saya. Buku ini tidak banyak mengisahkan pembunuhan yang psikopat maupun sadistik khas Agatha, tapi lebih banyak menonjolkan sisi psikologis manusia. Meski mungkin juga bercerita tentang kematian, tapi lebih banyak karena faktor psikologi si pemeran. Saya rasa salah kalo dibaca anak dibawah umur, karena saya sendiri pas baca pertama kali agak traumatik juga sama kontennya πŸ™‚

Ada 9 cerita di kumpulan cerpen ini, dan temanya macam-macam juga. Ada yang bertema petualangan seperti Petualangan Puding Natal (Christmas Adventure), Sang Aktris (The Actress) dan Manx Gold, sayang dua cerita ini nggak recommended karena adventurenya level anak kecil, nggak se kompleks Dan Brown sekarang, mungkin karena faktor cerpen juga. Ada juga yang tentang misteri pembunuhan, Misteri Peti Baghdad (The Mystery of the Baghdad Chest), yang munculin Hercule Poirot. Walaupun cuma satu yang pake bunuh-bunuhan tapi masih menggunakan alur khas Christie. Ada juga yang temanya romance macem Dewa yang Kesepian (The Lonely God) dan Selagi Hari Terang (While the Light Last). Menurut gue dua cerita ini, apalagi yang The Lonely God, bagus banget πŸ™‚

Ada quotes bagus dari cerita While the Light Lasts, yang juga saya suka πŸ™‚

While the light lasts, I shall never forget.
After the dark comes, I will always remember.

— While the Light Lasts, Agatha Christie

 

Tapi cerita favorit saya di buku ini ada 3, belum dibahas sama sekali. Temanya nggak jelas apa, romance nya ada, bunuh-bunuhan nggak tapi ngomongin kematian, cemburu, sakit jiwa, yah begitulah.

Favorit saya yang pertama Di Balik Dinding (Within the Wall). Sampai sekarang pun alurnya masih bikin penasaran. Gelap banget, terlalu banyak analogi yang nggak bisa dijelasin. Ceritanya tentang pelukis yang terjebak dalam cinta segitiga. Endingnya nggak jelas, diakhiri dengan teka-teki belum terpecahkan yang dibahas hampir seabad kemudian sampai sekarang (dari tahun 1926). Β Teka-tekinya itu’

Dalam dinding seputih susu,
dalam tirai selembut sutra,
bermandikan laut sejernih kristal,
muncullah apel emas.

Bahkan pembahasan tentang apel emas ini nggak habis-habis sampai sekarang.

Selanjutnya Tepi Jurang (The Edge) dan Rumah Impian (The House of Dreams). Dua cerita ini bener-bener bahasannya antara cinta dan psikologis manusia.

Buat remaja yang menuju dewasa, yang masih newbie masalah Agatha Christie, buku ini kumpulan cerpennya cocok banget buat jadi starter.

Written by Alderine

April 7, 2012 at 3:24 am

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,

What Men Lives By

leave a comment »

Ada cerita (semacam fairy tale, tapi bukan) yg pernah gw baca waktu masih kecil. Mungkin pernah didongengin juga cuma agak lupa persisnya, tapi kemungkinan besar baca sih.

Dan cerita ini punya quotes yg gw suka banget πŸ™‚

What dwells in men is love.

What is not given to men is to know his own needs.

What men lives by is thatΒ love exist in man.

—Β Leo Tolstoy, inΒ What Men Lives By

Ceritanya sebut saja tentang Simon, si pengrajin sepatu. Simon ini sangat miskin 😦 . Ceritanya udah mau winter, jadi dia susah-susah nabung buat beli bulu domba untuk dibikin coat di musim dingin (aih so sweet ya πŸ™‚ ). Simon mulai nabung, sampe akhirnya lumayan lah bisa buat beli, meski dia masih harus ngorbanin uang makan punya istrinya. Nah, berangkatlah Simon ke pasar.

Tapi sampai di pasar, ternyata uang dia ga cukup 😦 karena frustasi uangnya malah dipake buat minum-minum sama judi (namanya juga pasar, banyak godaan 😦 ). Tapi abis minum-minum dia nyesel, bingung mesti gimana. Bahan bikin coat ga ada, duit buat makan abis dipake minum-minum.

Di tengah kegalauannya itu, dia ketemu sama orang kurus kering di pojokan, ga pake baju. Simon bingung mesti gimana, tolong atau biarin aja?

 

Penasaran kan? Makanya baca bukunyaa πŸ˜€ #tabok

Written by Alderine

April 6, 2012 at 3:45 pm

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,