alderine

Sepatah Kata

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa: Andrianto Handojo

leave a comment »

doe set free.

Dear Tesa,
Email sudah saya terima dengan baik dan rekomendasi akan saya siapkan.
Bagaimana cuaca di Finland sekarang? Panas?
Semoga Tesa tetap baik2 dan sehat.
Salam,
Andri Handojo

View original post 1,131 more words

Written by Alderine

May 21, 2014 at 11:13 pm

Posted in Uncategorized

Who am I to Judge?

leave a comment »

“If a person is gay and seeks God and has good will, who am I to judge?” – Pope Francis, 2013

Who am I to Judge is considered as the most powerful five word phrase in 2013. It has both blissful and beautiful effect. Pope atau yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut Paus, yang diakui dengan legitimasi penuh sebagai pemimpin umat kristen (terjemahan bebas saya dari Christian) di dunia ini, tentu kita dapat berkata bahwa secara posisi, Paus lah yang paling tinggi tingkat spritual-religiusnya digolongan umat kristen dunia. Namun Paus Francis menegaskan pada kita semua dengan frasa 5 kata yang sangat menyadarkan kita, Who am I to Judge?

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi dibalik suatu peristiwa. Yang kita lihat mungkin hanya pelaku pembunuhan, pelaku kriminal, dan berbagai kesalahan lainnya. Namun pernahkah kita merendahkan hati untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi? Di dalam hati dan di balik pikiran pelaku? Tetapi sayang, meskipun kita mencoba memahami, kita tak akan pernah benar-benar mengerti apa yang terjadi dengan orang lain. Tidak akan pernah benar-benar seutuhnya mengerti dan memahami.

Lalu mengapa kita masih begitu arogannya menghakimi orang lain,
yang memiliki pendapat berbeda?
yang metode menyembah Tuhannya berbeda?
yang dilahirkan dengan suku berbeda?

Kemudian kita mengkotak-kotakkan manusia.
Berdasarkan sukunya.
Orang Minang memiliki kemauan demikian.
Orang Jawa memiliki cara bekerja demikian.
Orang Batak memiliki tabiat demikian. dan seterusnya….

Padahal siapa kita sehingga berhak menghakimi?
Kita bukan malaikat Atid yang mencatat seluruh keburukan manusia,
Juga bukan malaikat Raqib yang mengetahui seluruh kebaikan manusia
Terbukti, penilaian kita sering salah..

“Eh si anu ternyata baik banget loh, gak nyangka padahal bla bla bla…”

 

 

Jadi, siapa kita sehingga berhak menghakimi?
Padahal kita bukan Tuhan yang tahu segalanya.

Written by Alderine

April 9, 2014 at 3:30 am

Posted in Opini

Catatan Dera

leave a comment »

Dera. Nama itu yang muncul untuk sebuah karakter fiksi kemarin sore yang baru aku ciptakan. Setelah Nara. Kurasa Nara tidak cocok untuk karakter Dera.

Nara pengagum ilalang,
Dera berdansa dengan awan kelabu.

Dan semua bayangan Dera sekarang samar-samar, dibawa air hujan yang membasuh ingatan.

 

Dera, aku yakin aku akan menemukanmu dibalik awan kelabu.
Selamat memulai catatan baru, Dera!

Written by Alderine

April 9, 2014 at 3:24 am

Posted in Prosa Prematur

Fiksi Hijab yang Memang Terlalu Fiksi

with 19 comments

Tulisan ini diilhami oleh fiksi seseorang yang cukup membuat saya panas hati. Fiksi itu (mungkin) bagi sebagian orang mengilhami, membuat berhati-hati, tapi berbagai argumen dan metode yang diungkapkannya acapkali amat prematur dan membuat saya mengernyitkan kepala sembari berkomentar, “Ini orang mikir gak sih pas nulis?”

Kesalahan pertama: Film Disney

Si aa’ yang nulis pikir dengan film disney, ada 60% cewek yang melepas jilbab. Hallooo, aa’ sehat? Saya tumbuh sebagai generasi Disney. Buku bacaan saya sewaktu kecil Donald Bebek, yang mengajarkan kita harus berusaha tekun dan jangan bermalas-malasan maupun mengharap cara instan seperti Donald, tidak baik untuk pelit dan kikir seperti Paman Gober, Desi Bebek mengajarkan untuk mandiri dan seimbang, serta trio kwak kwik kwek mengajarkan untuk selalu ingin tahu. Mana pesan cantiknya?

Selain Donald Bebek saya bisa lanjutkan ke Miki Tikus yang berusaha membasmi kejahatan, Mulan yang ingin membahagiakan ayahnya, Pinocchio yang tidak boleh berbohong, 101 Dalmatians tentang anjing yang menyelamatkan diri, Lilo and Stitch juga Brother Bear tentang keluarga, Bambi serta The Lion King tentang berkorban untuk rakyat, Gajah Dumbo serta Itik Buruk rupa tentang melihat potensi diri. Masih banyak lagi, The Jungle Book, Winnie The Pooh, Robin Hood, 20000 Leagues Under The Sea, The Three Musketeers, dan.. masih sangat banyak lagi teman masa kecil saya. Beranjak agak dewasa, konsumsi Disney saya menjadi lebih luas. Star Wars, Pirates of Caribbean, Tron. Serta film keluaran studio Pixar yang masih saya ikuti terus perkembangannya hingga kini.

Gadis cantik di Disney? Mengajak membuka aurat? Apa anda sudah berfikir sebelumnya? Mari kita tengok Disney Princess yang khusus membahas wanita. Mungkin anda hanya terpaku pada cerita semacam Cinderella, Ariel di The L:ittle Mermaid, Snow White, Belle di Beauty and The Beast, Pocahontas, Jasmine-Aladdin, Aurora-Sleeping Beauty, dan Tiana si Putri Kodok. Tapi sebagai anak kecil pengkonsumsi film Disney yang kini sudah beranjak dewasa, dari film-film tersebut di atas yang saya ingat adalah jalan ceritanya, bukan kecantikan para putri maupun pola hubungan mereka berpacaran dengan laki-laki. Selain itu, jangan lupakan bahwa masih ada Princess yang tidak hanya sekedar cantik tetapi juga pandai memanah dan memenangkan perang China seperti Merida dan Mulan.

Anda terlalu terburu-buru menulis Disney membuat 60% pemakai jilbab melepas jilbabnya. Karena saya mengkonsumsi Disney sejak bisa membaca sebelum TK, sedang saya memakai jilbab baru saat SD kelas 4.

Oh ya. Mengapa anda menulis Disney, yang jelas merupakan tontonan bermutu tinggi bagi anak kecil. Dibanding film India yang bercerita tentang seorang wanita yang berselingkuh dengan seekor ular yang saya tonton saat TK dengan penuh ketidak mengertian hingga saat ini. Mengapa tidak anda kritik habis-habisan film horor Indonesia yang isinya tidak lebih dari membuka aurat dan jeritan sensual. Atau mungkin sinetron dari Taiwan, China, mungkin Korea untuk saat ini, hingga produksi lokal yang mengajarkan saya untuk berpacaran.

Kesalahan Kedua: “Nir-Historis dan Timeline yang Berantakan” jika diterapkan di Indonesia

Anda menulis seolah Disney mengajak melepas jilbab. Lupakah anda bahwa Disney sudah berproduksi sejak 1930an? Sedang wabah jilbab di Indonesia baru dimulai sejak di atas tahun 2005. Oh ya mungkin anda perlu mengetahui bahwa memakai jilbab dahulu itu cukup sulit, baik pada masa Orde Baru hingga sekitar 5-7 tahun setelah reformasi. Mungkin anda cukup rendah hati untuk mencari tahu perjuangan menggunakan jilbab pada saat-saat itu, atau analisis yang cukup komprehensif tentang jilbab dan hijab.

Perbaiki timeline anda. Mungkin karangan bebas anda berlaku di negara Timur Tengah. Tapi tidak di sini, di mana kini wanita berjilbab sedang bertambah dengan pesat. Minimal tidak di Asia Timur, Tenggara dan Selatan, tidak di Eropa dan tidak juga di Amerika.

Kesalahan Ketiga: Kesalahan Sepenuhnya Pada Wanita

Mungkin ada benarnya bahwa iklan kosmetik mengajak wanita menghamba pada kecantikannya. Mungkin bagi saya yang saat remaja hanya menggunakan Eskulin setelah bermain basket tidak terlalu berpengaruh. Tapi benarkah itu hanya semata-mata karena wanita mudah ditipudaya? Benarkah wanita berdandan karena mudah dirayu dan digoda untuk berdandan?

Saya sendiri baru menyadari bahwa “wanita harus cantik” karena kebetulan saya memiliki teman laki-laki. Dia menyepelekan saya yang tidak pernah menilai orang dari penampilannya dengan berkata, “Ah lo mah ga ada apa-apanya dibanding (sebut saja seorang wanita cantik)”. Ah tentu saya ada apa-apanya dong, dia kan menang cantiknya aja.

Tapi satu kejadian itu dalam hidup saya yang memberi saya pengetahuan bahwa laki-laki otaknya itu cuma seperempat, buktinya menilai perempuan aja pake nafsu. Yaa mungkin gak semua laki-laki. Lalu salah perempuan kah kalau perempuan berlomba ingin memenuhi standar laki-laki, yang juga bisa aja kan gampang kena pengaruh pendefinisian cantik di media.

 

Jadi aa habib, punteun pisan. Kalo nulis dipikir dulu ah. Bikin gatel nih hehehe.

Written by Alderine

April 1, 2014 at 3:52 am

Posted in Opini

Angel dan aula tempat memuji Tuhan

leave a comment »

Rusdi GoBlog

Multiracial Hands Surrounding the Earth Globe Tidak ada satu ayat di Al Quran juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah.

View original post 286 more words

Written by Alderine

March 27, 2014 at 3:33 am

Posted in Nilai dan Budaya, Opini

Kembali

leave a comment »

Di atas pembaringan kapuk, dengan jamur yang lapuk. Tubuh membusuk. Digerogoti idealisme semu yang merampok kesadaran majemuk.

————————————————————

Dalam perjalanan mengorbankan diri, merelakan hidup untuk tergelincir dalam lumpur pekat tak bercahaya.

“Temukan kami sesuatu yang berharga!”

Sesekali jua kembali ke permukaan untuk memberikan hasil temuan itu. Tetapi, apa menariknya bagi yang hidup di daratan, di permukaan. Dengan sofa, ranjang, permadani. Pertanian, peternakan, perdagangan. Permainan. Sejahtera.

Sedang yang berlumuran lumpur. Memberikan temuan yang juga penuh lumpur. Nyatanya tak ada yang bersedia membantu menyemir, mencuci, atau mengurusi barang temuan penuh lumpur.

“Hanya ikan dan udang yang kau bawa. Kami butuh emas! Kami ingin intan!  Kami memerlukan berlian!”

“Tetapi aku sendiri, tanpa penerangan dan bahaya mengancam nyawaku. Hanya udang dan ikan yang sanggup kubawa.”

“Tidak bisa! Kami sudah cukup dengan makanan. Kami sudah memiliki sumber dari segala sumber. Beri kami perhiasan!”

“Aku belum bisa memberi perhiasan, meski kalian sudah cukup dihormati karena dapat membuat perhiasan sendiri.
Lihatlah di negeri sebelah, orang berbondong-bondong berkubang mencari perhiasan. Tentu mereka mendapat banyak. Namun negeri itu ingin mempekerjakan kita agar perhiasan mereka bertambah. Aku tidak akan membiarkan itu.”

“Apa peduli kami?!”

————————————————————

Kembali. Di atas pembaringan senyaman kapuk. Dalam tubuh yang kian menyusut. Idealisme usang itu kian lapuk. Digantikan oleh cahaya yang menyelinap, beringsut, ke dalam dada.

Aku jatuh. Dalam dada ku ada lubang, tanpa kubangan, yang terus menarikku seperti gravitasi. Tidak semakin gelap di dalam. Putih. Semakin terang. Ribuan kilometer. Lebih dalam dari samudera. Menyesakkan.

Lalu aku kembali. Pada dekapanmu, Tuhan kah engkau?

Bandung 9 Februari 2014
bukan kasih yang aku cari.
tapi kebenaran.

Written by Alderine

February 9, 2014 at 4:24 pm

Peluit Sunyi

leave a comment »

Peluit itu sudah ditiup. Ia menjelma menjadi hempasan udara. Yang sekilas merapat dan merenggang. Membawa kabar ke segala penjuru. Namun tak ada satu manusia pun yang mendengar.

Peluit dengan angin dan logam yang berputar. Memberikan suara gemerincing yang keras dan nyaring. Tapi tetap, malam ini, tidak ada yang mendengar.

Dan manusia kini menunggu dibunyikan peluit itu sambil gelisah. Semakin lama menunggu semakin kehilangan akal. Dan bergerak kian tak tentu arah. Bagai buih buih angin yang tak pernah terkendali. Mengepak badai. Menyemai bencana.

Hanya karena tak dapat (atau mungkin tak cukup ingin), mendengar peluit itu.

Written by Alderine

February 6, 2014 at 2:21 pm

Posted in Prosa Prematur