alderine

Sepatah Kata

Archive for the ‘Seputar Saya’ Category

Menyematkan Cinta

leave a comment »

Cinta, ke mana saja kau sudah menyematkan cinta kita?

Aku sudah menyematnya ke dalam tembok, pintu, serta langit-langit di ruang tempat kita bersama. Di kamar tempat aku berangan-angan tentang dirimu. Di tepi aspal dan trotoar tempat kita berjalan bersama. Pada titik-titik hujan yang kutitipkan bulir kesedihan yang lupa kubendung.

Pada pena yang menuliskan berbagai cerita kita. Pada kertas-kertas dan buku tulis yang berserakan. Di tuts-tuts keyboard laptop tua milikku tempat ia mengetik berbagai hal. Pada telpon genggam yang acapkali memberikan notifikasi atas namamu. Dan ia yang dipecah menjadi remah-remah digital seperti saat ini.

Tolong beritahu aku di mana kau menyematkan cintamu, agar dapat kureguk tanpa mengusik tata hidupmu.

Written by Alderine

December 8, 2014 at 11:26 am

Meda – Singe People in the World

leave a comment »

Kamu cuma mengisi hidup kamu dengan masalah, kalau kamu mencari pasangan untuk mengatasi masalah kekosongan hati kamu sendiri.

Theres a lot things to do in the world, right?

Written by Alderine

June 10, 2014 at 4:14 am

Posted in Seputar Saya

Kembali

leave a comment »

Di atas pembaringan kapuk, dengan jamur yang lapuk. Tubuh membusuk. Digerogoti idealisme semu yang merampok kesadaran majemuk.

————————————————————

Dalam perjalanan mengorbankan diri, merelakan hidup untuk tergelincir dalam lumpur pekat tak bercahaya.

“Temukan kami sesuatu yang berharga!”

Sesekali jua kembali ke permukaan untuk memberikan hasil temuan itu. Tetapi, apa menariknya bagi yang hidup di daratan, di permukaan. Dengan sofa, ranjang, permadani. Pertanian, peternakan, perdagangan. Permainan. Sejahtera.

Sedang yang berlumuran lumpur. Memberikan temuan yang juga penuh lumpur. Nyatanya tak ada yang bersedia membantu menyemir, mencuci, atau mengurusi barang temuan penuh lumpur.

“Hanya ikan dan udang yang kau bawa. Kami butuh emas! Kami ingin intan!  Kami memerlukan berlian!”

“Tetapi aku sendiri, tanpa penerangan dan bahaya mengancam nyawaku. Hanya udang dan ikan yang sanggup kubawa.”

“Tidak bisa! Kami sudah cukup dengan makanan. Kami sudah memiliki sumber dari segala sumber. Beri kami perhiasan!”

“Aku belum bisa memberi perhiasan, meski kalian sudah cukup dihormati karena dapat membuat perhiasan sendiri.
Lihatlah di negeri sebelah, orang berbondong-bondong berkubang mencari perhiasan. Tentu mereka mendapat banyak. Namun negeri itu ingin mempekerjakan kita agar perhiasan mereka bertambah. Aku tidak akan membiarkan itu.”

“Apa peduli kami?!”

————————————————————

Kembali. Di atas pembaringan senyaman kapuk. Dalam tubuh yang kian menyusut. Idealisme usang itu kian lapuk. Digantikan oleh cahaya yang menyelinap, beringsut, ke dalam dada.

Aku jatuh. Dalam dada ku ada lubang, tanpa kubangan, yang terus menarikku seperti gravitasi. Tidak semakin gelap di dalam. Putih. Semakin terang. Ribuan kilometer. Lebih dalam dari samudera. Menyesakkan.

Lalu aku kembali. Pada dekapanmu, Tuhan kah engkau?

Bandung 9 Februari 2014
bukan kasih yang aku cari.
tapi kebenaran.

Written by Alderine

February 9, 2014 at 4:24 pm

Rekam

leave a comment »

Dalam setiap peristiwa yang kita lewati bersama. Entah bagaimana ia selalu terekam.

Kita, dimulai dari perkenalan yang dienkripsi dalam bit-bit ASCII, dan perbincangan seputar dunia tempat kita berotasi&berevolusi, masih dengan bit-bit ASCII yang dienkripsi bahasa PHP. Ah, dunia kita yang semu itu, mengenalkan.

Kadang aku melihatmu, dalam bayangan yang nyata dan tegak. Tanpa perbesaran dan pengecilan, hanya jarak yang menjadi perbandingan linear bayanganmu. Dengan jaket merah himpunanmu, di gerbang belakang kampus kita. Kadang dengan sepedamu. Seringkali kau terbenam dalam dimensi suara yang sepenuhnya hanya kau, Tuhan, dan playlist mu yang tahu. Aku membiarkan. Hanya melihat pun cukup, tak perlu ada sapa karena dimensi suara kita terpisah dalam ruang yang berbeda. Ah, masa itu.

Lalu pertemuan tak sengaja itu. Meski diawali kecerobohan, namun tetap bit-bit itu yang membawa kita bertemu. Suaramu dipecah menjadi bit-bit frekuensi digital, ditransmisi, lalu dikembalikan menjadi suara. Mengalun lewat telepon genggam, mengabarkan berita. Lalu membawa kepanikan padaku, yang segera menghampirimu. Ah. Pertemuan pertama kita itu, bukankah Tuhan yang memberikan skenario?

Lalu kita sampai pada waktu di mana kita mencipta ruang bagi kita sendiri. Yang tak terdefinisi oleh dimensi jarak sama sekali. Hanya terjemahan dari sinyal-sinyal elektris, yang melaju secepat cahaya. Mencipta bayang yang seakan dekat, menemukanmu dalam chatbox yahoo messengerku. Atau kotak masuk smsku. Juga mention twitterku.

Tempatku berotasi&berevolusi. Menjelma menjadi sebentuk rasa yang disampaikan terbata. Memaksa kita menjadi lebih dekat lagi pada dunia yang sebenarnya. Tuhan memberi kita waktu di mana kita bisa bersama.

Di waktu kita bersama itulah aku mulai mengumpulkan remah-remah digital itu. Membuka kembali history chat kita. Melihat dan menertawai pertemanan kita. Membaca lagi pesan singkat antara kita. Dan aku takut, jika berpuluh tahun waktu terlewati nanti, remah-remah digital itu hilang. Tak berbekas dalam hati, ingatan. Maka kusemat bit data digital itu menjadi sebuah memori dalam hati.

Setelah waktu berjalan, banyak hal yang telah kita lewati bersama. Tak ada bit data yang tahu, hanya aku menuangkan memori itu, atau kertas-kertas catatan yang berserakan. Hanya Tuhan, aku dan kau yang menjadi saksi seutuhnya. Kita berotasi&berevolusi tidak lagi pada bit data, namun juga pada dinding, lantai, langit kota, hujan, payung, tanah, pepohonan, kursi tempat kita duduk, meja tempat kita menulis, lampu-lampu dan lilin, hingga pendingin ruangan. Tak ada yang pernah menjadi saksi penuh, mereka hanya menonton secuplik dari adegan kita berdua.

Tapi, kau tahu, sayang, meski tak ada bit data yang tahu, jalan panjang yang pernah kita lewati itu, serta tiap nada dan gerak gerik yang kita lakukan bersama, terekam. Dalam memori yang Tuhan beri padaku. Dalam rekam yang mungkin akan lenyap dimakan waktu, digerus momen-momen kita yang lebih baru.

Kini ruang kita tak lagi sama dalam dimensi jarak. Kini kita mencipta ruang lagi dalam bit-bit data, mengatasi jarak. Kini kau selalu hadir dekat, dalam telepon genggam yang tersinkronisasi dengan semua akun. Kini, aku masih juga merekam, rasa kita dalam enkripsi digital.

Sayang, bagiku, digital-atau nyata, hadirmu sangat berarti.

Bandung, 30 Oktober 2013
Menyampaikannya pun dalam digital, bukan?

Written by Alderine

October 30, 2013 at 4:42 pm

Sepatu

leave a comment »

Hampir setahun yang lalu, Bapak membelikan aku sepatu. Sepatu manis berwarna krem bersemu kemerahan seperti warna buah apricot. Dengan hak tipis sekitar 4 centimeter. Dan tidak ada pernak pernik berlebihan, sederhana. Itu yang membuatku suka.

Memilih sepatu ini membutuhkan perjuangan. Toko sepatu wanita terbesar dan terlengkap di kotaku, aku mengitarinya sekitar 3 jam hingga akhirnya menentukan pilihan. Dari segi kenyamanan, mencari yang berbahan kulit, bukan plastik agar tidak iritasi. Lalu hak tidak boleh terlalu tinggi agar aku tidak varises dan masih sanggup berjalan. Tampilannya harus sederhana, aku tak suka yang mencolok. Warnanya pun harus lembut dan cocok dipadukan dengan berbagai busana. Akhirnya terpilihlah dia..

image

Aku bingung mengapa bapak mengajakku membeli sepatu yang seperti itu. Sehari-hariku lebih cenderung tomboy, dengan sneakers converse yang nyaman untuk beraktifitas dan kaos kaki tebal. Bapak bilang, itu untuk digunakan ke pesta, supaya “mantesi”. Baiklah, aku menyimpannya di rumah dan akan menggunakannya di saat yang cocok.

Lalu tiba saat itu, saat digunakan pertama kali. Terasa lain, karena tidak biasa menggunakan. Tapi pujian mengalir dari Bapak dan Ibu. Setidaknya aku menyenangkan mereka karena (akhirnya) berpenampilan pantas. Tapi tidak dengan orang lain, biasa saja. Sepatu seperti itu terlalu umum, terlalu biasa digunakan. Jadi aku tidak merasa penolakan. Tetapi kakiku tetap merasa asing.

Setelah kugunakan, sepatu itu kusimpan rapi di rumah Jogja, rumah warisan nenek yang kini menjadi hak milik penuh Bapak. Agar nanti bila ada acara lain suatu waktu dapat kugunakan lagi.

8 bulan kemudian, saat lebaran. Sepatu itu hilang.

Bapak bilang, rumah ini memang sedang sering kehilangan. Rupanya orang masih merasa memiliki rumah itu sebagai rumah nenek, maka barang didalamnya banyak diambil dan dibawa pulang, dijadikan kepunyaan mereka. Termasuk barang pribadi milik bapak ibu dan keluargaku.

Aku tidak terima. Aku marah karena sepatu itu satu satunya yang Bapak berikan padaku.

Tetapi Bapak hanya berkata, dengan bijaksananya,

Relakan saja dek. Juga tidak berkurang kecantikan adek tanpa sepatu itu. Juga tidak bertambah kecantikan adek saat pakai sepatu itu kalau tujuannya pamer. Maksud Bapak sepatu itu cuma untuk menghargai, supaya rapi. Selama adek hatinya bersih, pakai baju yang rapi pun sudah terlihat anggun.

Dan aku terharu :””)

Agustus 2013,
Saat adek mulai sayang Bapak.

Written by Alderine

August 12, 2013 at 3:13 pm

Posted in Seputar Saya

Sampai di Mana Jahimmu?

leave a comment »

Setahun yang lalu saat awal mula kami masuk menjadi kader Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik – Institut Teknologi Bandung. Saat itu di bawah hujan, di bawah pohon, sebelah barat pusat gaung DPR kampus, kami dibagikan jaket pertama kali.

Dan Herjuno Rah Nindito, atau yang biasa kami panggil Bang Juno (sebenernya lebih sering Juno aja sih) memanggil identitas yang tertulis pada jaket yang masih terbungkus plastik dan memakaikannya pada kami satu persatu.

Satu per satu. Seorang demi seorang. Di bawah hujan, kami menunggu dengan sabar.

Setelah itu kami mendengar Juno berpesan,

“Jahim ini aku pakaikan pada kalian satu per satu. Supaya suatu saat nanti aku bisa bertanya, sudah sampai mana jahim kalian? Aku membawa jahim ini hingga menjadi koordinator komandan lapangan di PROKM 2011. Aku ingin kalian lebih! Bawalah sesuai cita-cita kalian, harumkan nama himpunan kalian. Bawa ia mendaki gunung, bawa ia bersama prestasi, bawa ia menjadi saksi teknologi, bawa ia memberi kontribusi!”

Lalu sampai manakah jahim kami, FT 2010?
Mungkin teh Bije – Adinda Bunga Juwita pernah ke Jepang untuk exchange,
Mungkin Nathaniel Chandra Harjanto – Nathan si IP 4 dengan HNMUN, dengan mengikuti Summer Studentship yang diadakan CERN,
Mungkin Hayyu Widiatma Sakya – Mas Hayyu si pengusaha muda memenangkan IEC sebagai enterpreneur muda,
Mungkin Roji, Malik, Ega Risandy, dengan lomba PLC nya,
Mungkin Lingga dengan karya-karya elektrikalnya,
Mungkin Ikhsan yang menjadi ketua sebuah komunitas,
Mungkin Gega dan Ganang yang menjadi ketua unit,
Mungkin Yulia yang menjadi pimpinan redaksi majalah boulevard, pers ternama di kampus,
Mungkin Devy, Amalia, Umar Hanif, dan Rachmat yang menjadi Badan Pengurus unit terbesar di kampus,
Mungkin Nocho yang selalu jadi kadiv dimanapun ia berada,
Mungkin Robi, Ikhsan, Zalman, Jamet, Ikhsan, Nocho dan kawan kawan lainnya yang sudah menaklukkan puncak-puncak dan menyisir pantai-pantai di Pulau Jawa,
Dan masih banyak cara kami membawa jahim kami membirukan dunia ini.

Sedang aku, caraku,
Inilah batu loncatanku pertama membawa lambang tengkorak dan semangat avant garde,
inilah, inilah yang pertama.

image

image

Sore hari di Plaza Widya Nusantara, Kampus Ganesha Institut Teknologi Bandung, 25 April 2013.

Written by Alderine

April 29, 2013 at 11:58 am

Karir dan Karir

with one comment

12 jam menuju Ujian Tengah Semester pertama di mata kuliah semester 6, Kontrol Otomatik. Setelah bingung mau belajar apa akhirnya saya merasa ga ada yang perlu dihapalin, ntar aja diutak-atik rumusnya, mudah-mudahan bisa.

Karena suntuk akhirnya iseng buka web karir sokanu, di sini enak karena lumayan akurat dan minat kita bisa mempengaruhi pekerjaan mana yang disarankan. Kalau punya saya sih..

Image

dan kalau dari bakat saja, maka

Image

Agak berbeda antara bakat dan minat. Di bakat ada environmental engineer, tapi saya agak gimanaa gitu jadi yaa terlihatlah karir yang sesuai minat bakat yang teramat cocok dengan program studi yang tengah saya jalani.

 

Kemudian jika ditilik dari cluster pekerjaan, maka saya membagi ke 4 bidang, yaitu:
1. Bidang yang akan saya jalani dengan senang hati dan sebaik mungkin
2. Bidang yang akan saya jalani sebaik mungkin, tetapi perlu waktu pembiasaan
3. Bidang yang saya mungkin mampu menjalani, tapi ya agak dongkol gitu deh
4. Bidang yang… dengernya aja udah gak minat.
Okay.. Here we go

 

Yang pertama, bidang yang akan saya jalani dengan sepenuh hati dan sebaik mungkin. Di sini terdapat Engineering (18 karir, rata-rata compatibility 94%), Science (24 karir, rata-rata compatibility 93,3%), serta Journalism & Writing (8 karir, rata-rata compatibility 92,7%). Wah nggak heran lah ya saya kuliah di kampus ini melihat Sains & Teknologi 😀 sedangkan untuk jurnalis, sejujurnya saya memang suka menulis dan mmberitakan sesuatu.

Image

 

Kemudian di kategori kedua, bidang yang akan saya jalani sebaik mungkin, tetapi perlu waktu pembiasaan. Di sini ada Trades (57 karir, rata-rata compatibility 90,1%), Computers & Technology (14 karir, rata-rata compatibility 87,9%), dan Services (57 karir, rata-rata compatibility 86,4%). Tiga pertama ini agak nganu sih soalnya nggak berminat semua sama pekerjaannya, terlalu ekstrim antara lapangan banget di Trades & Service dan ngantor banget di Computers & Technology. Selanjutnya ada Sports (10 karir, rata-rata compatibility 83,0%), Food & Drink (12 karir, rata-rata compatibility 83,4%), dan Education (13 karir, rata-rata compatibility 82,0%). Well thats right. I love to feel the burn in the muscle after workouts. And I’d love to cook, too. Dan di pendidikan, saya suka untuk melihat dan mengembangkan potensi orang. Tapi sayangnya di ketiga bidang ini, kemampuan saya belum terlalu terasah. Suka olahraga sih tapi cupu. Suka masak sih tapi ya ga enak-enak amat, biasa aja. Suka ngajar sih tapi kadang masih berbelit-belit.
Image
Daan selanjutnya di kategori ini masih ada, tadaaa. Ada Home & Garden (9 karir, rata-rata compatibility 77,4%), Animals (10 karir, rata-rata compatibility 77,8%), dan Travel (14 karir, rata-rata compatibility 76,4%). Well I’d love having a cute garden in my backyard, and raise some pet in home, too. Jalan-jalan juga suka men. But having it as a job? Mmm pikir-pikir dulu deh ya.
Image

 

Aaaand the last and the least.. Bidang yang… dengernya aja udah gak minat. Ada Politics & Law (11 karir, rata-rata compatibility 75,7%) sama Bussiness & Enterpreneurship (39 karir, rata-rata compatibility 74,0%). Memang tidak akan pernah cocok.. Saya nggak suka mengurus manusia yang tataran nilainya nggak jelas sifat fisisnya dan berubah-ubah.

Image

Selanjutnya, yang terakhir nggak suka dan nggak bisa banget-banget. Ada Music (7 karir, rata-rata compatibility 69,2%), Health & Nutrition (59 karir, rata-rata compatibility 62,5%). Saya dan musik sebatas penikmat. Pemain pun seadanya, nggak berbakat. Belajar biola butuh 4 tahun, dan sekarang sudah kaku lagi. Ingin bisa bermain gitar, tapi sulit.. apalagi harpa. Masalah kesehatan.. mungkin saya bukan anak dari seorang dokter yang baik.
Image
daaan yang paling aneh adalah Beauty & Style (9 karir, rata-rata compatibility 60,2%) serta Arts & Entertainment (17 karir, rata-rata compatibility 59,4%). Wah nggak akan laku saya kalau masuk dunia kecantikan, ngerti masalah dandan yang cantik gimana aja nggak, apalagi masalah bisa atau nggak. Ternyata saya oangnya kurang berseni ya, padahal saya cukup suka melukis.
Image

 

 

Itu pemetaan karir saya. Kalau kamu?

Written by Alderine

March 17, 2013 at 7:27 pm

Posted in Seputar Saya