alderine

Sepatah Kata

Archive for the ‘Prosa Prematur’ Category

Menyematkan Cinta

leave a comment »

Cinta, ke mana saja kau sudah menyematkan cinta kita?

Aku sudah menyematnya ke dalam tembok, pintu, serta langit-langit di ruang tempat kita bersama. Di kamar tempat aku berangan-angan tentang dirimu. Di tepi aspal dan trotoar tempat kita berjalan bersama. Pada titik-titik hujan yang kutitipkan bulir kesedihan yang lupa kubendung.

Pada pena yang menuliskan berbagai cerita kita. Pada kertas-kertas dan buku tulis yang berserakan. Di tuts-tuts keyboard laptop tua milikku tempat ia mengetik berbagai hal. Pada telpon genggam yang acapkali memberikan notifikasi atas namamu. Dan ia yang dipecah menjadi remah-remah digital seperti saat ini.

Tolong beritahu aku di mana kau menyematkan cintamu, agar dapat kureguk tanpa mengusik tata hidupmu.

Advertisements

Written by Alderine

December 8, 2014 at 11:26 am

Catatan Dera

leave a comment »

Dera. Nama itu yang muncul untuk sebuah karakter fiksi kemarin sore yang baru aku ciptakan. Setelah Nara. Kurasa Nara tidak cocok untuk karakter Dera.

Nara pengagum ilalang,
Dera berdansa dengan awan kelabu.

Dan semua bayangan Dera sekarang samar-samar, dibawa air hujan yang membasuh ingatan.

 

Dera, aku yakin aku akan menemukanmu dibalik awan kelabu.
Selamat memulai catatan baru, Dera!

Written by Alderine

April 9, 2014 at 3:24 am

Posted in Prosa Prematur

Kembali

leave a comment »

Di atas pembaringan kapuk, dengan jamur yang lapuk. Tubuh membusuk. Digerogoti idealisme semu yang merampok kesadaran majemuk.

————————————————————

Dalam perjalanan mengorbankan diri, merelakan hidup untuk tergelincir dalam lumpur pekat tak bercahaya.

“Temukan kami sesuatu yang berharga!”

Sesekali jua kembali ke permukaan untuk memberikan hasil temuan itu. Tetapi, apa menariknya bagi yang hidup di daratan, di permukaan. Dengan sofa, ranjang, permadani. Pertanian, peternakan, perdagangan. Permainan. Sejahtera.

Sedang yang berlumuran lumpur. Memberikan temuan yang juga penuh lumpur. Nyatanya tak ada yang bersedia membantu menyemir, mencuci, atau mengurusi barang temuan penuh lumpur.

“Hanya ikan dan udang yang kau bawa. Kami butuh emas! Kami ingin intan!  Kami memerlukan berlian!”

“Tetapi aku sendiri, tanpa penerangan dan bahaya mengancam nyawaku. Hanya udang dan ikan yang sanggup kubawa.”

“Tidak bisa! Kami sudah cukup dengan makanan. Kami sudah memiliki sumber dari segala sumber. Beri kami perhiasan!”

“Aku belum bisa memberi perhiasan, meski kalian sudah cukup dihormati karena dapat membuat perhiasan sendiri.
Lihatlah di negeri sebelah, orang berbondong-bondong berkubang mencari perhiasan. Tentu mereka mendapat banyak. Namun negeri itu ingin mempekerjakan kita agar perhiasan mereka bertambah. Aku tidak akan membiarkan itu.”

“Apa peduli kami?!”

————————————————————

Kembali. Di atas pembaringan senyaman kapuk. Dalam tubuh yang kian menyusut. Idealisme usang itu kian lapuk. Digantikan oleh cahaya yang menyelinap, beringsut, ke dalam dada.

Aku jatuh. Dalam dada ku ada lubang, tanpa kubangan, yang terus menarikku seperti gravitasi. Tidak semakin gelap di dalam. Putih. Semakin terang. Ribuan kilometer. Lebih dalam dari samudera. Menyesakkan.

Lalu aku kembali. Pada dekapanmu, Tuhan kah engkau?

Bandung 9 Februari 2014
bukan kasih yang aku cari.
tapi kebenaran.

Written by Alderine

February 9, 2014 at 4:24 pm

Peluit Sunyi

leave a comment »

Peluit itu sudah ditiup. Ia menjelma menjadi hempasan udara. Yang sekilas merapat dan merenggang. Membawa kabar ke segala penjuru. Namun tak ada satu manusia pun yang mendengar.

Peluit dengan angin dan logam yang berputar. Memberikan suara gemerincing yang keras dan nyaring. Tapi tetap, malam ini, tidak ada yang mendengar.

Dan manusia kini menunggu dibunyikan peluit itu sambil gelisah. Semakin lama menunggu semakin kehilangan akal. Dan bergerak kian tak tentu arah. Bagai buih buih angin yang tak pernah terkendali. Mengepak badai. Menyemai bencana.

Hanya karena tak dapat (atau mungkin tak cukup ingin), mendengar peluit itu.

Written by Alderine

February 6, 2014 at 2:21 pm

Posted in Prosa Prematur

Rekam

leave a comment »

Dalam setiap peristiwa yang kita lewati bersama. Entah bagaimana ia selalu terekam.

Kita, dimulai dari perkenalan yang dienkripsi dalam bit-bit ASCII, dan perbincangan seputar dunia tempat kita berotasi&berevolusi, masih dengan bit-bit ASCII yang dienkripsi bahasa PHP. Ah, dunia kita yang semu itu, mengenalkan.

Kadang aku melihatmu, dalam bayangan yang nyata dan tegak. Tanpa perbesaran dan pengecilan, hanya jarak yang menjadi perbandingan linear bayanganmu. Dengan jaket merah himpunanmu, di gerbang belakang kampus kita. Kadang dengan sepedamu. Seringkali kau terbenam dalam dimensi suara yang sepenuhnya hanya kau, Tuhan, dan playlist mu yang tahu. Aku membiarkan. Hanya melihat pun cukup, tak perlu ada sapa karena dimensi suara kita terpisah dalam ruang yang berbeda. Ah, masa itu.

Lalu pertemuan tak sengaja itu. Meski diawali kecerobohan, namun tetap bit-bit itu yang membawa kita bertemu. Suaramu dipecah menjadi bit-bit frekuensi digital, ditransmisi, lalu dikembalikan menjadi suara. Mengalun lewat telepon genggam, mengabarkan berita. Lalu membawa kepanikan padaku, yang segera menghampirimu. Ah. Pertemuan pertama kita itu, bukankah Tuhan yang memberikan skenario?

Lalu kita sampai pada waktu di mana kita mencipta ruang bagi kita sendiri. Yang tak terdefinisi oleh dimensi jarak sama sekali. Hanya terjemahan dari sinyal-sinyal elektris, yang melaju secepat cahaya. Mencipta bayang yang seakan dekat, menemukanmu dalam chatbox yahoo messengerku. Atau kotak masuk smsku. Juga mention twitterku.

Tempatku berotasi&berevolusi. Menjelma menjadi sebentuk rasa yang disampaikan terbata. Memaksa kita menjadi lebih dekat lagi pada dunia yang sebenarnya. Tuhan memberi kita waktu di mana kita bisa bersama.

Di waktu kita bersama itulah aku mulai mengumpulkan remah-remah digital itu. Membuka kembali history chat kita. Melihat dan menertawai pertemanan kita. Membaca lagi pesan singkat antara kita. Dan aku takut, jika berpuluh tahun waktu terlewati nanti, remah-remah digital itu hilang. Tak berbekas dalam hati, ingatan. Maka kusemat bit data digital itu menjadi sebuah memori dalam hati.

Setelah waktu berjalan, banyak hal yang telah kita lewati bersama. Tak ada bit data yang tahu, hanya aku menuangkan memori itu, atau kertas-kertas catatan yang berserakan. Hanya Tuhan, aku dan kau yang menjadi saksi seutuhnya. Kita berotasi&berevolusi tidak lagi pada bit data, namun juga pada dinding, lantai, langit kota, hujan, payung, tanah, pepohonan, kursi tempat kita duduk, meja tempat kita menulis, lampu-lampu dan lilin, hingga pendingin ruangan. Tak ada yang pernah menjadi saksi penuh, mereka hanya menonton secuplik dari adegan kita berdua.

Tapi, kau tahu, sayang, meski tak ada bit data yang tahu, jalan panjang yang pernah kita lewati itu, serta tiap nada dan gerak gerik yang kita lakukan bersama, terekam. Dalam memori yang Tuhan beri padaku. Dalam rekam yang mungkin akan lenyap dimakan waktu, digerus momen-momen kita yang lebih baru.

Kini ruang kita tak lagi sama dalam dimensi jarak. Kini kita mencipta ruang lagi dalam bit-bit data, mengatasi jarak. Kini kau selalu hadir dekat, dalam telepon genggam yang tersinkronisasi dengan semua akun. Kini, aku masih juga merekam, rasa kita dalam enkripsi digital.

Sayang, bagiku, digital-atau nyata, hadirmu sangat berarti.

Bandung, 30 Oktober 2013
Menyampaikannya pun dalam digital, bukan?

Written by Alderine

October 30, 2013 at 4:42 pm

Lupa Bernafas

leave a comment »

Aku lupa caranya bernafas.
Kemudian aku berteriak melolong. Megap-megap lalu menggelepar. Seperti ikan yang terlempar ke darat. Tempat ini asing, aku lupa caranya bernafas.

Aku lupa caranya bernafas.
Lalu mereka yang mendengar lolongan itu berkerumun. Menghembuskan oksigen. Mencoba memberi oksigen. Yang akhirnya sia-sia, hanya menjadi hembusan angin menari di pipi, menyapu tenggorokan tanpa pernah sampai ke alveoli.

Percuma, aku lupa cara bernafas.

Meski aku sangat ingin bernafas lagi. Tapi waktu mengantarkanku pergi.

Pelesiran, 17 September 2010
00:03, tengah malam yang menyesakkan.

Written by Alderine

September 16, 2013 at 5:05 pm

Posted in Prosa Prematur

Menyatu

with 2 comments

Kita perlu belajar dari air agar mengerti untuk bekerja sama sebagai satu kesatuan. Singkirkanlah identitas kehidrogenan ataupun keoksigenan, dengan itu semua kita tak pernah menjadi satu. Dengan semua arogansi itu setetes air pun tak akan pernah tercipta di alam semesta ini.

Sayang, marilah kita hapus ego itu diantara kita. Biar kau oksigen yang dihirup milyaran manusia dan aku hanyalah hidrogen yang melayang-layang. Biarlah sayang, jadilah kita air yang lebih mulia. Jadilah kita air yang menumpaskan dahaga. Jadilah kita air yang meneduhkan langit dan pepohonan. Jadilah kita air yang menyejukkan.

Hilangkan arogansi keakuan diantara kita sayang. Biar kita tahu saat waktu pun dapat terlipat seperti ruang, saat kita menembus batas energi dan mengerti semua tak relevan lagi. Biar sayang jangan pedulikan hal remeh itu agar kita dapat mengejar kebenaran hakiki.

Sayang mungkin masih ada ragu saat kita mengingat perjalanan kita sampai di sini. Sayang mungkin masih ada dendam waktu dulu yang tak sempat terbalaskan. Biarkanlah sayang. Maafkanlah sayang. Jangan membelenggu diri menggapai masa dengan yang telah lalu. Biar hati melangkah lebih ringan, biar kita menjejak lebih cepat.

Tentang perjalanan menuju kemuliaan, kita telah melihat banyak hal yang disalahartikan dengan kemuliaan semu. Ah. Padahal identitas ku sebagai hidrogen pun hanya titipan, entah bila suatu saat aku bertemu pasangan inti lainnya maka Tuhan mengubah takdirku kah? Semu lah semua ini hanya kemuliaan semu. Padahal identitas ini hanya titipan, agar kita menemukan jalan masing-masing.

Dalam fasa gas ku sebagai hidrogen aku bergerak dalam kesendirian diantara chaos intensitas tinggi yang dinamik. Aku hanya menyendiri tanpa pernah mencoba mengajak mereka berhenti mencemooh. Dalam kesendirian mencari fragmen-fragmen diri yang mungkin terpisah. Lalu aku bertemu kau, kepingan yang selama ini kucari.

Mungkin kita berbeda sayang, meski dunia menghendaki kita untuk tetap sama. Lalu mengapa kita mesti bersatu menjadi air? Tak cukupkah kita tetap menjadi diri sendiri dan berfungsi sebagaimana kita sendiri?

Written by Alderine

May 8, 2013 at 9:24 pm

Posted in Prosa Prematur