alderine

Sepatah Kata

Archive for the ‘Opini’ Category

Singkong Goreng: Cuplikan Opini Bahan Bakar Fosil Indonesia

leave a comment »

Setelah sekitar 2 minggu menjalani pemeriksaan ini itu, imaji tubuh dalam berbagai gelombang: ultrasonik, radiasi Gamma, resonansi magnetik, kemudian juga diambil berbagai cairan tubuh, ditusuk-tusuk lengannya untuk mengisi lusinan tube dengan menyabet aliran nadi. Alhasil saya jadi ga banyak kerjaan dan gak bisa ngapa-ngapain, akhirnya banyak nonton TV. Kebetulan saluran TV favorit saya adalah yang swasta milik politikus asal Aceh yang fokus menyajikan berbagai berita. Baiklah.

Tapi saya tergelitik dengan beberapa malam lalu, ada menteri koordinator perekonomian yang baru diangkat, memberikan pandangannya tentang ekonomi Indonesia. Saya jadi nyungir-nyungir sendiri, Indonesia lucu ya.

Singkatnya beliau bilang, bahwa yang mau ngebor terus muntahin minyak sama gas dari bumi itu harusnya dipermudah aja. Biar produksi minyak naik, terus sejahtera deh kita. Nah lho?

Padahal ESDM punya SKK Migas dan BP Migas. Mereka dibikin buat ngawasin aktivitas, kalau SKK bagian eksplorasi, BP bagian proses & distribusi. Mudahnya sih begitu. Dulu jamane jaman edan yang ngawasin ya yang kuda laut itu. Lucu kan ya, wong kuda laut juga posisinya sama sebagai “pemain” eh kok punya hak lebih cuma karena dia BUMN. Makanya dibuat SKK Migas dan BP Migas… Yang fungsinya ngawasin “pemain” ini supaya jujur adil transparan dan MENGUNTUNGKAN. Jadi bukannya dipersulit, tapi SKK Migas hanya memastikan agar pengeboran dan pengecoran (eh) maksudnya eksplorasi-eksploitasi ini jadi MENGUNTUNGKAN TANPA NEGARA KELUAR SERUPIAH PUN. Eh lha kok niki pak menko anyar kok… piye tho?

Mau nulis surat nggak tau alamat rumahnya, mau nulis imel juga nggak tau alamat imelnya. Jadi saya nulis di blog aja daripada mangkel-mangkel ra keruan.

Tulisan yang bagus kan pakai data dan sitasi, maka silahkan cek aktivitas perminyak-energian di Indonesia di sini. Ndak apa-apa lah ya yang punya data negara lain. Habis cari yang punya ESDM ndak ketemu.

Kalau diperhatikan, kita lagi kuaya ruaya itu tahun ’80-an, kita pake minyak tanah buat masak (sekarang lebih kaya lagi: gas). Mari kita bagi-bagi hasil bahan bakar fosil ini jadi ke dalam beberapa kuadran, (eh ini saya nggak nyontek tulisan orang lho)

  1. transportasi – premium, solar, dan kawan-kawannya
  2. listrik – batu bara, diesel, gas
  3. rumah tangga – minyak tanah, spiritus, briket batu-bara, gas elpiji, penghangat air kamar mandi, dll
  4. industri: ya macem2 lah pokoknya
  5. kebutuhan lain-lain

Nah karena ini pak menko ekonomi yang bikin nyungir, mari kita bahas dari segi duit walaupun saya nggak suka.

Transportasi

Merujuk pada tulisan Bapak Hanan Nugroho, konsumsi energi di Indonesia (data tahun 2000an awal), setengahnya itu buat transportasi. Kalau BBM disubsidi kira-kira gimana? Lha tekor, no.

Belum lagi kita tau kalo tambang minyak adanya di Delta Mahakam, di Kalimantan Timur, pengapalan ada di Kalimantan Selatan. Eh tapi propinsi sebelahnya yang se Pulau, kalau mau isi bensin bisanya cuma seminggu sekali, ngantri berhari-hari, beli bertangki-tangki, rebutan beli solar sama industri. Eh industri kok pake subsidi?

Apalagi di Pulau Jawa, kelakuan penggunanya. Sing ndhuwe mobil rak yo wong sing ndhuwe duit tho. Ke kampus tinggal ngegelundung udah nyampe aja bawa mobil, bawa motor. Saking banyaknya yang bawa mobil/motor, parkir susah, jalan macet. Hih. Terus BBM bersubsidi ini ada yang pake buat kebut-kebutan. Minta dipotong lehernya banget kan?

Kenapa nggak subsidi BBM dikurangin. Tapi kasih kompensasi ke yang mata pencahariannya emang bergantung sama BBM banget, nelayan misalnya. Minimal nggak ngasih subsidi orang kaya, kan?

Listrik

Kebutuhan listrik Indonesia harusnya tinggi, tapi elektrifikasinya aja masih rendah. Rumah saya di sebelah barat kota Bogor yang gak sampai 100 kilometer dari Jakarta, minimal seminggu sekali mati lampu. Apalagi di luar Jawa. Beda sama anak Jakarta-Bandung, baru mati setengah jam aja udah jadi trending topic di twitter. Hih.

Selain merujuk data milik EIA yang tadi, mari kita lihat data yang udah dikumpulin sama wikipedia. Betewe saya juga udah ngumpulin data lho, kalo ini sumbernya Global Energy Observatory data tahun 2011.

Bahan Bakar Fosil, total terinstal: 26541 MW, dalam pembangunan 13084 MW

  • Batu Bara: 50 unit, 18630 MW
  • Gas Alam/minyak/diesel: 54 unit, 7911 MW
  • program 10.000 MW, dalam tahap pembangunan: 34 unit, 13084 MW

Energi Terbarukan, total terinstal 6099 MW

  • Geothermal: 19 unit, 1197 MW
  • Hidroelektrik: 88 unit, 4755 MW
  • dalam pembangunan, hidroelektrik PLTA: 18 unit, 4446 MW

Padahal potensi Indonesia kan banyak banget. 2/3 wilayah laut isinya ga cuma ikan, tapi bisa dibikin nyetrum juga. Kalo menurut slide Pak ProfesorMukhtasor teorinya kita punya 749 GW alias 749000 MW, bisa dijual ke Eropa kali listrik segede itu. Sedang yang potensi teknis bisa dipakai 43000 MW, eh yang lagi dicoba 175 KW sama ristek. Listrik geli-geli doang. Selain itu katanya sih Geothermal kita bisa ngasih sekitar 28 GW, atau 28000 MW. Terus ditolak. Katanya harga listrik dari geothermal mahal banget. Belum matahari, kita pas banget di khatulistiwa. Kalo pohon tinggal mangap juga kenyang sama matahari, solar panel juga bisa bikin meledak baterai kali ya kalo di Indonesia. Di Jerman yang luasnya cuma segitu dan musim panasnya cuma 18 derajat Celsius aja kapasitas instalasi solar panelnya 36315 MW di akhir April 2014 kemarin. Kita bisa berapa ya? wuii nyetrum lah pokoknya.

Oh iya saya ga nulis nuklir. Sebenernya saya nggak prefer soalnya pembangkit listrik itu bagusnya kan kayak lagunya Sandhy Sandoro, tak pernah padam. Sedang reaktor nuklir udah dipadamin juga masih butuh energi buat ngejaga biar ga meledak. Padahal tau sendiri kan orang Indonesia ga safety gitu. Bisa dilihat di sini kalo ga suka persamaan, di sini yang biasa aja, atau di sini khusus penggemar.

Tapi emang buat instalasi geotermal gak murah dan gak mudah, juga solar panel. Balik modal (payback period) bisa 25, 40, sampai 85 tahun. Toh kita ga bikin negara buat generasi kita doang kan? Bukan buat masa kerja presiden yang cuma 5 tahun kan? Yaudah dinaikin aja harga listriknya. Paling juga dipake buat ngecharge hape terus main Angry Birds, atau nonton bola sama Bapak-bapak. Belum yang nonton YKS, dan lain-lain sebagainya. Minimal gas minyak batubara ga dibuang-buang buat sekedar… Itulah.

Kebutuhan Hidup Rumah Tangga

Dari dulu masih pakai minyak tanah, spiritus, briket batu-bara, sekarang jadi gas elpiji, penghangat air kamar mandi, kita butuh buat kehidupan sehari-hari. Padahal menurut world bank, sekitar 40% rumah tangga di Indonesia masih pake biomassa, masak pake kayu bakar gitu, kan enak. Asal bener kompornya sih biar ga bikin penyakit.

Kita kan daerah hutan hujan tropis. Sampah organik banyak banget kayak kayu ranting daun dan lain-lain. Kenapa nggak dijadiin industri briket biomassa ya? Mungkin Dirut PGN mau ngebunuh gw abis nulis kayak gini, udah bikin infrastruktur gas eh malah gak laku. Orang gas nya juga banyak yang udah abis, telat deh ah.

Kebutuhan Industri & lain-lain

Nah ini nih yang seru. Kalo di pabrik males kali ya bikin pembangkit listrik yang susah-susah, maunya solar/diesel/gas aja. Nggak apa-apa kalo beli, eh ini beli di pom bensin yang disubsidi. Gorok aja lah. Bergantung sama PLN juga susah, mati nyala ga jelas gitu listriknya.

Padahal kebutuhan industri ga sekedar listrik doang, tapi industri turunan petrokimia gimana? plastik, parafin, pupuk yang butuh elpiji, jadi… Kayaknya mending diprioritasin ke sini deh (yang nyedot di bawah 15% penggunaan bahan bakar fosil). Kan kalo jual barang jadi lebih kaya doong. Juga aspal, kan ga mungkin bikin jembatan pake kayu gitu. Jadi… tingkatin di sini kira-kira lebih menghasilkan gak ya?

 

Sambil makan singkong goreng, jadi kira-kira kalau menurut saya lebih baik gitu. Kita jangan ketergantungan lah, susah. Harus mandiri. Itu banyak pilihan. Walaupun susah ditemuin sih emang…

 

Sumber, data, sitasi:

  1. U.S. Energy Information & Administration (EIA), Indonesia Overview Data & Brief Analysis. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  2. Daftar Pembangkit Listrik di Indonesia – Wikipedia, ensiklopedia bebas. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  3. Marine Energy – Wikipedia, the free encyclopedia. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  4. Geothermal Electricity – Wikipedia, the free encyclopedia. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  5. Solar Energy – Wikipedia, the free encyclopedia. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  6. Geothermal Energy Association. Geothermal Energy: International Market Update Mei 2010.
  7. Matek, Benjamin. September 2013. Geothermal Power:International Market Overview, Geothermal Energy Association.
  8. Bertani, Ruggero. September 2007. “World Geothermal Generation in 2007”,Geo-Heat Centre Quarterly Bulletin. Klamath Falls, Oregon: Oregon Institute of Technology.
  9. Lund, John W. Juni 2007.  “Characteristics, Development and utilization of geothermal resources”Geo-Heat Centre Quarterly Bulletin, Klamath Falls, Oregon: Oregon Institute of Technology.
  10. Tester, Jefferson W. Massachusetts Institute of Technology et al. 2006. The Future of Geothermal Energy, Impact of Enhanced Geothermal Systems on the United States in the 21st Century: An Assessment. Idaho Falls: Idaho National Laboratory.
  11. Bertani, Ruggero. 2009. “Geothermal Energy: An Overview on Resources and Potential”Proceedings of the International Conference on National Development of Geothermal Energy Use, Slovakia
  12. Axelsson, Gudni; Stefánsson, Valgardur; Björnsson, Grímur; Liu, Jiurong. April 2005. “Sustainable Management of Geothermal Resources and Utilization for 100 – 300 Years”, Proceedings World Geothermal Congress 2005 (International Geothermal Association)
  13. Sanyal, Subir K.; Morrow, James W.; Butler, Steven J.; Robertson-Tait, Ann. 22-24 Januari 2007. “Cost of Electricity from Enhanced Geothermal Systems”, Proc. Thirty-Second Workshop on Geothermal Reservoir Engineering, Stanford, California.
  14. Hanan Nugroho. 2005. Apakah persoalannya pada subsidi BBM? Tinjauan terhadap masalah subsidi BBM, ketergantungan pada minyak bumi, manajemen energi nasional, dan pembangunan infrastruktur energi. Website bappenas.go.id
  15. Slide berjudul Ocean Energy in Indonesia, oleh Prof. Mukhtasor, Ph.D. Dipresentasikan pada OCEAN ENERGY WORKSHOP, Jakarta, 22 Nopember 2012.
  16. Indonesia can be super power on geothermal energy : Al Gore. ANTARA News. 9 Januari 2011.

 

 

Advertisements

Written by Alderine

June 7, 2014 at 5:59 am

Who am I to Judge?

leave a comment »

“If a person is gay and seeks God and has good will, who am I to judge?” – Pope Francis, 2013

Who am I to Judge is considered as the most powerful five word phrase in 2013. It has both blissful and beautiful effect. Pope atau yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut Paus, yang diakui dengan legitimasi penuh sebagai pemimpin umat kristen (terjemahan bebas saya dari Christian) di dunia ini, tentu kita dapat berkata bahwa secara posisi, Paus lah yang paling tinggi tingkat spritual-religiusnya digolongan umat kristen dunia. Namun Paus Francis menegaskan pada kita semua dengan frasa 5 kata yang sangat menyadarkan kita, Who am I to Judge?

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui dan menyadari apa yang sesungguhnya terjadi dibalik suatu peristiwa. Yang kita lihat mungkin hanya pelaku pembunuhan, pelaku kriminal, dan berbagai kesalahan lainnya. Namun pernahkah kita merendahkan hati untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi? Di dalam hati dan di balik pikiran pelaku? Tetapi sayang, meskipun kita mencoba memahami, kita tak akan pernah benar-benar mengerti apa yang terjadi dengan orang lain. Tidak akan pernah benar-benar seutuhnya mengerti dan memahami.

Lalu mengapa kita masih begitu arogannya menghakimi orang lain,
yang memiliki pendapat berbeda?
yang metode menyembah Tuhannya berbeda?
yang dilahirkan dengan suku berbeda?

Kemudian kita mengkotak-kotakkan manusia.
Berdasarkan sukunya.
Orang Minang memiliki kemauan demikian.
Orang Jawa memiliki cara bekerja demikian.
Orang Batak memiliki tabiat demikian. dan seterusnya….

Padahal siapa kita sehingga berhak menghakimi?
Kita bukan malaikat Atid yang mencatat seluruh keburukan manusia,
Juga bukan malaikat Raqib yang mengetahui seluruh kebaikan manusia
Terbukti, penilaian kita sering salah..

“Eh si anu ternyata baik banget loh, gak nyangka padahal bla bla bla…”

 

 

Jadi, siapa kita sehingga berhak menghakimi?
Padahal kita bukan Tuhan yang tahu segalanya.

Written by Alderine

April 9, 2014 at 3:30 am

Posted in Opini

Fiksi Hijab yang Memang Terlalu Fiksi

with 19 comments

Tulisan ini diilhami oleh fiksi seseorang yang cukup membuat saya panas hati. Fiksi itu (mungkin) bagi sebagian orang mengilhami, membuat berhati-hati, tapi berbagai argumen dan metode yang diungkapkannya acapkali amat prematur dan membuat saya mengernyitkan kepala sembari berkomentar, “Ini orang mikir gak sih pas nulis?”

Kesalahan pertama: Film Disney

Si aa’ yang nulis pikir dengan film disney, ada 60% cewek yang melepas jilbab. Hallooo, aa’ sehat? Saya tumbuh sebagai generasi Disney. Buku bacaan saya sewaktu kecil Donald Bebek, yang mengajarkan kita harus berusaha tekun dan jangan bermalas-malasan maupun mengharap cara instan seperti Donald, tidak baik untuk pelit dan kikir seperti Paman Gober, Desi Bebek mengajarkan untuk mandiri dan seimbang, serta trio kwak kwik kwek mengajarkan untuk selalu ingin tahu. Mana pesan cantiknya?

Selain Donald Bebek saya bisa lanjutkan ke Miki Tikus yang berusaha membasmi kejahatan, Mulan yang ingin membahagiakan ayahnya, Pinocchio yang tidak boleh berbohong, 101 Dalmatians tentang anjing yang menyelamatkan diri, Lilo and Stitch juga Brother Bear tentang keluarga, Bambi serta The Lion King tentang berkorban untuk rakyat, Gajah Dumbo serta Itik Buruk rupa tentang melihat potensi diri. Masih banyak lagi, The Jungle Book, Winnie The Pooh, Robin Hood, 20000 Leagues Under The Sea, The Three Musketeers, dan.. masih sangat banyak lagi teman masa kecil saya. Beranjak agak dewasa, konsumsi Disney saya menjadi lebih luas. Star Wars, Pirates of Caribbean, Tron. Serta film keluaran studio Pixar yang masih saya ikuti terus perkembangannya hingga kini.

Gadis cantik di Disney? Mengajak membuka aurat? Apa anda sudah berfikir sebelumnya? Mari kita tengok Disney Princess yang khusus membahas wanita. Mungkin anda hanya terpaku pada cerita semacam Cinderella, Ariel di The L:ittle Mermaid, Snow White, Belle di Beauty and The Beast, Pocahontas, Jasmine-Aladdin, Aurora-Sleeping Beauty, dan Tiana si Putri Kodok. Tapi sebagai anak kecil pengkonsumsi film Disney yang kini sudah beranjak dewasa, dari film-film tersebut di atas yang saya ingat adalah jalan ceritanya, bukan kecantikan para putri maupun pola hubungan mereka berpacaran dengan laki-laki. Selain itu, jangan lupakan bahwa masih ada Princess yang tidak hanya sekedar cantik tetapi juga pandai memanah dan memenangkan perang China seperti Merida dan Mulan.

Anda terlalu terburu-buru menulis Disney membuat 60% pemakai jilbab melepas jilbabnya. Karena saya mengkonsumsi Disney sejak bisa membaca sebelum TK, sedang saya memakai jilbab baru saat SD kelas 4.

Oh ya. Mengapa anda menulis Disney, yang jelas merupakan tontonan bermutu tinggi bagi anak kecil. Dibanding film India yang bercerita tentang seorang wanita yang berselingkuh dengan seekor ular yang saya tonton saat TK dengan penuh ketidak mengertian hingga saat ini. Mengapa tidak anda kritik habis-habisan film horor Indonesia yang isinya tidak lebih dari membuka aurat dan jeritan sensual. Atau mungkin sinetron dari Taiwan, China, mungkin Korea untuk saat ini, hingga produksi lokal yang mengajarkan saya untuk berpacaran.

Kesalahan Kedua: “Nir-Historis dan Timeline yang Berantakan” jika diterapkan di Indonesia

Anda menulis seolah Disney mengajak melepas jilbab. Lupakah anda bahwa Disney sudah berproduksi sejak 1930an? Sedang wabah jilbab di Indonesia baru dimulai sejak di atas tahun 2005. Oh ya mungkin anda perlu mengetahui bahwa memakai jilbab dahulu itu cukup sulit, baik pada masa Orde Baru hingga sekitar 5-7 tahun setelah reformasi. Mungkin anda cukup rendah hati untuk mencari tahu perjuangan menggunakan jilbab pada saat-saat itu, atau analisis yang cukup komprehensif tentang jilbab dan hijab.

Perbaiki timeline anda. Mungkin karangan bebas anda berlaku di negara Timur Tengah. Tapi tidak di sini, di mana kini wanita berjilbab sedang bertambah dengan pesat. Minimal tidak di Asia Timur, Tenggara dan Selatan, tidak di Eropa dan tidak juga di Amerika.

Kesalahan Ketiga: Kesalahan Sepenuhnya Pada Wanita

Mungkin ada benarnya bahwa iklan kosmetik mengajak wanita menghamba pada kecantikannya. Mungkin bagi saya yang saat remaja hanya menggunakan Eskulin setelah bermain basket tidak terlalu berpengaruh. Tapi benarkah itu hanya semata-mata karena wanita mudah ditipudaya? Benarkah wanita berdandan karena mudah dirayu dan digoda untuk berdandan?

Saya sendiri baru menyadari bahwa “wanita harus cantik” karena kebetulan saya memiliki teman laki-laki. Dia menyepelekan saya yang tidak pernah menilai orang dari penampilannya dengan berkata, “Ah lo mah ga ada apa-apanya dibanding (sebut saja seorang wanita cantik)”. Ah tentu saya ada apa-apanya dong, dia kan menang cantiknya aja.

Tapi satu kejadian itu dalam hidup saya yang memberi saya pengetahuan bahwa laki-laki otaknya itu cuma seperempat, buktinya menilai perempuan aja pake nafsu. Yaa mungkin gak semua laki-laki. Lalu salah perempuan kah kalau perempuan berlomba ingin memenuhi standar laki-laki, yang juga bisa aja kan gampang kena pengaruh pendefinisian cantik di media.

 

Jadi aa habib, punteun pisan. Kalo nulis dipikir dulu ah. Bikin gatel nih hehehe.

Written by Alderine

April 1, 2014 at 3:52 am

Posted in Opini

Angel dan aula tempat memuji Tuhan

leave a comment »

Rusdi GoBlog

Multiracial Hands Surrounding the Earth Globe Tidak ada satu ayat di Al Quran juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah.

View original post 286 more words

Written by Alderine

March 27, 2014 at 3:33 am

Posted in Nilai dan Budaya, Opini

Pain Killers

leave a comment »

Armein Z. R. Langi in the City of Eden

Apa sih kesakitan itu?

View original post 363 more words

Written by Alderine

December 4, 2013 at 4:49 am

Posted in Opini

Bertanya-Tanya tentang Pertanyaan

with one comment

Sejak kecil, aku sering bertanya. Tentang semua hal. Memang, aku tak selalu mendapat jawaban. Tapi aku tak pernah jemu untuk bertanya.

Pernah aku bertanya pada ibuku, dari mana aku berasal. Mengapa manusia bisa dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Ibuku hanya menjawab, suatu saat nanti, aku akan mengerti, dan mendapat jawabannya sendiri. Sekarang tentu aku mengerti, meski masih sebagian.

Pernah juga aku bertanya, apakah hidup ini nyata. Bagaimana jika ini semua hanya mimpi? Atau sebenarnya, kita tak lebih dari sebuah tokoh yang jalan ceritanya sudah diatur dan ditonton oleh makhluk lain, seperti kita menonton televisi? Aku menanyakan dan memikirkan semua hal itu sambil berloncat-loncatan di tempat tidur, menampar-nampar pipi dan mencubit lengan sendiri, berharap jika hidup ini memang hanya sebuah mimpi, aku akan segera terbangun. Kenyataannya tidak, aku tetap terjebak dalam kehidupan yang belum kumengerti apa (sampai sekarang).

Saat pertama kali menjejak kaki di kampus ganesha, ada sebuah tempat yang sangat menarik buatku, terlebih tulisan yang terukir. Plaza Widya Nusantara.

Tempat ini diberi nama

PLAZA WIDYA NUSANTARA

supaya tempat ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, seni, dan teknologi

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya

supaya lulusannya bukan hanya menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa

Bandung, 28 Desember 1998

Rektor Institut Teknologi Bandung
Prof. Wiranto Arismunandar

Tempat bertanya, dan harus ada jawabnya. Maka, kurang lebih dalam hidupku, aku bahagia, dengan siklus ingin tahu – bertanya – mencari jawaban – ingin tahu lebih lagi. Aku mendapat kesenangan dari rasa ingin tahu yang terpuaskan. Aku menjadi tidak mudah percaya pada informasi, atau skeptis menurut bahasa dosen-dosenku. Dengan demikian aku menjadi tidak mudah dikelabui. Sungguh mujur, banyak sekali keuntungan yang didapat dari rasa ingin tahu ini.

Aku bersyukur memiliki rasa ingin tahu ini, setidaknya sampai hari ini.

Written by Alderine

August 7, 2012 at 4:26 am

Posted in Opini, Seputar Saya

Manipulasi

leave a comment »

Seorang saintis, terutama matematikawan dan fisikawan melakukan manipulasi matematis agar didapat persamaan yang menyatakan keadaan sekitar kita. Seorang insinyur bekerja dengan memanipulasi sistem. Entah memanipulasi siklus konversi energi menjadi sebuah pembangkit listrik bertenaga tinggi. Atau memanipulasi material, unsur dan senyawa kimia menjadi sebuah barang yang berguna. Atau memanipulasi paku-paku, mur, mesin, pipa, menjadi sebuah mesin yang menemani kehidupan kita sehari-hari. Atau memanipulasi gerak dan kerja elektron dalam desain elektronik.

Begitu juga seorang dokter, memanipulasi kondisi si pasien dengan memberi asupan obat-obatan, dengan harapan kondisinya membaik. Seorang petani memanipulasi kandungan zat hara dalam tanah dengan pupuk, dengan harapan panennya akan berlimpah. Seorang marketer memanipulasi impresi manusia terhadap produk yang sedang ia beri brand.

Kita semua, manusia, hidup di dunia dengan memanipulasi keadaan sekitar kita. Agar berjalan sesuai dengan keinginan kita. Lalu, mengapa manipulasi menjadi terdengar buruk?

Written by Alderine

August 6, 2012 at 7:48 am

Posted in Opini