alderine

Sepatah Kata

Archive for the ‘Nilai dan Budaya’ Category

Angel dan aula tempat memuji Tuhan

leave a comment »

Rusdi GoBlog

Multiracial Hands Surrounding the Earth Globe Tidak ada satu ayat di Al Quran juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah.

View original post 286 more words

Written by Alderine

March 27, 2014 at 3:33 am

Posted in Nilai dan Budaya, Opini

Mahkota Duri

leave a comment »

Armein Z. R. Langi in the City of Eden

Orang ingin jadi nomer satu. Untuk mendapatkan mahkota. Tapi kalau kita bayar terlalu mahal, menyakitkan, maka mahkota ini adalah mahkota duri.

View original post 98 more words

Written by Alderine

March 17, 2013 at 6:18 pm

Posted in Nilai dan Budaya

Mengikat Makna

leave a comment »

Sepotong scene dalam kehidupan saya, semasa SMA, tiba-tiba terpampang jelas — setelah membaca catatan harian.

Saat itu, saya bertanya pada pengajar biologi saya. Beliau seorang dosen di sebuah Institut ternama di Bogor. Saya cukup menghormati beliau. Yang saya tanyakan adalah,
‘Pak, kira-kira bagaimana agar kita selalu ingat? Tidak pernah lupa?’
Kala itu, saya sebenarnya sedang bertanya, bagaimana mengingat materi biologi yang begitu banyaknya itu. Tidak seperti matematika dan fisika, yang rumus-rumusnya bisa diturunkan sendiri, buat saya sedikit sulit menghadapi biologi dan kimia, kecuali dengan sering membaca dan membuat resume flowchart. Namun jawaban yang saya dapat lebih dari itu.

‘Ya, bapak ingin mencoba meringkas tentang mengingat. Bapak menyebutnya dengan mengikat ilmu. Mengikat ilmu ada tiga tahapannya. Yang pertama, proses transfer. Dengan membaca, mendengarkan, pokoknya input dari luar masuk ke alam pikiran kamu. Yang kedua, proses analisis. Kamu memikirkan hal ini lebih jauh. Lebih baik lagi kalau ditulis. Yang ketiga, proses sintesis. Ya, sintesis dari apa yang kamu pikirkan, dilakukan dalam perbuatan sehari-hari. Kalau semuanya dilakukan, dijamin selalu ingat.’

Ya. Begitu, saya rasa banyak benarnya. Namun Pak, maafkan saya yang selalu skeptis dalam berbagai hal, saya pun masih skeptis perihal metode mengikat ilmu dari bapak.

Ya, metode ini hanya efektif bagi diri sendiri, dengan output dari luar. Bagaimana jika saya berulang kali menjalani proses originate ideas, yang berarti sintesis dari pemikiran saya sendiri?

Lebih jauh lagi, masalah mengikat ilmu bagi diri sendiri menurut saya terlalu berbahaya. Bagaimana jika saya menyimpan sangat banyak informasi/ilmu/pengetahuan, namun tiba-tiba tanpa direncanakan saya mengalami kematian?

Kemudian pada poin mengikat ilmu pada benda materiil, dengan menuliskannya. Menurut saya, hal ini juga berisiko tinggi. Saya rasa buku-buku tulis SD-SMP saya sudah hilang entah di mana, dijadikan barang loak. Sementara buku-buku SMA masih aman di dalam perlindungan. Menulis digital? Hmm sama saja jika seluruh server di dunia ini down, maka ucapkanlah selamat tinggal pada data-data anda.

Oleh karena itu, saya ingin mencoba mengimprovisasi. Saya namakan hal ini mengikat makna. Makna, buah dari alam pikiran atas suatu fenomena yang terjadi di alam semesta 🙂

Ya, cara mengikat makna menurut saya tidak jauh berbeda. Hanya ada satu hal penting, bahwa setiap makna yang kita dapatkan, haruslah dibagi kepada orang lain. Dan orang lain pun berusaha mengikat makna dengan membagikannya pada orang lain pula. Dengan demikian, makna tak pernah terputus, selalu terregenerasi dari masa ke masa.

Namun, makna hanya akan tumbuh selama ras manusia ada. Ya, karena tidak ada yang abadi di alam semesta ini.

Written by Alderine

June 9, 2012 at 6:18 pm

Posted in Nilai dan Budaya

Tagged with

Mitologi Yunani: Sayap Icarus

leave a comment »

Ada sebuah cerita mitologi Yunani yang sedang menarik perhatian saya, karena cukup banyak bersinggungan dengan kejadian yang sedang saya alami.

Cerita berawal dari Daedalus, ayah Icarus, diminta oleh Raja Minos dari Kreta (Crete) untuk membangun labirin di Knossos, dekat istana. Labirin ini akan digunakan untuk memenjarakan para Minotaur — setengah banteng setengah manusia, hasil perselingkuhan istrinya dengan seekor banteng. Namun kemudian Raja Minos memenjarakan Daedalus dan anaknya, Icarus, dalam labirin tersebut. Daedalus dianggap bersalah setelah memberikan Ariadne, putri Raja Minos, sebuah bola-bola dari untaian, untuk membantu Theseus, musuh Raja Minos, bertahan hidup di labirin dan mengalahkan Minotaur.

Daedalus kemudian mengumpulkan bulu-bulu burung yang beterbangan. Hari demi hari, akhirnya terkumpullah sejumlah bulu-bulu yang cukup untuk membuat dua pasang sayap. Daedalus merekatkan bulu-bulu tersebut dengan lilin. Daedalus mencoba sayap tersebut terlebih dahulu, dan sebelum ia pergi, Daedalus berpesan pada anaknya agar tidak terbang terlalu tinggi, tidak terlalu dekat dengan matahari, juga tidak terlalu rendah, tidak terlalu dekat dengan laut.

Landskap Labirin dan Laut Jatuhnya Icarus

Landskap Labirin dan Laut Jatuhnya Icarus

Icarus yang mulai pusing karena baru pertama kali terbang, melejit ke angkasa lepas dengan penuh rasa ingin tahu. Namun ia tak pernah puas, ia terbang lagi, lebih tinggi lagi, demikian seterusnya hingga ia sadar, ia sudah terlalu dekat dengan matahari. Lilin yang merekatkan bulu-bulu pada sayapnya meleleh. Bulu-bulunya beterbangan jatuh, hingga yang tersisa tinggal ia mengepakkan tangannya sendiri. Jatuhlah Icarus dari angkasa ke laut lepas. Laut itu kini diberi nama Icaria, di sebelah barat Pulau Samos.

 

 

Kisah Icarus ini seringkali menjadi interpretasi akan ambisi, bahwa manusia kadang terlalu berambisi hingga lupa akan realita.
Namun, perspektif saya, dengan mengaitkan sesuatu yang baru saja terjadi dengan saya, kisah Icarus ini melambangkan kebebasan — yang berlebihan tentunya. Seringkali kita ketika terbebas dari belenggu, kita terlalu bahagia, melompat berlarian kesana kemari. Hingga lupa tujuan awal. Saat tersadar, sudah terlampau banyak waktu yang habis, dan tenaga sudah mulai menipis.

Hati-hatilah, kadang kebebasan itu semu.

 

Written by Alderine

June 3, 2012 at 5:31 am

Posted in Nilai dan Budaya

Paramitha: Kesempurnaan dan Completedness

leave a comment »

Paramitha, atau dalam bahasa sansekerta (maaf ga punya font sansekerta) Pãramitã, adalah aturan dasar dalam agama Buddha. Dalam bahasa yang lebih luas dan wide-known, ajaran Paramitha ini lebih dikenal dengan “Six Perfection” (6 Pãramitã). Pãramitã merupakan kulminasi tertinggi dalam ajaran Buddha.

Pãramitã sendiri punya arti “kesempurnaan” atau completedness. Paramitha terdiri dari 6 ajaran utama (ada mazhab lain bilang 10, mungkin pake sistem bilangan basis 6 :p), yaitu dãna, síla, khsanti, vírya, prajñã, dan dhyana. Tapi saya cuma mau bahas 5 di awal, yang ada di literatur Sansekerta maupun Pãli (beda mazhab).

Dãna, dalam bahasa sansekerta atau Daan dalam bahasa Pãli artinya keikhlasan dalam memberi atau dalam bahasa yang lebih singkat, generousity. Dalam konteks paramitha, Dãna-Pãramitã adalah kesempurnaan keihklasan dalam memberi — the perfection of giving. Menurut ajaran dana-paramitha (nulis pake cureg2 ribet), semakin kita banyak memberi tanpa meminta balasan, maka semakin jiwa kita diperkaya, dan harta kita semakin berlimpah (mirip ajaran islam juga ya :p). Dana adalah salah satu dari kewajiban seorang budha (sila, dana, bhavana).
Cara memberi ini juga ada tingkatan-tingkatannya:
1. Vidya Dãna (vidya = ilmu, bila diadaptasi ke dalam bahasa jawa menjadi widya) atau memberi pengetahuan — sharing knowledge. Sesuai pepatah yang sering kita dengar, “Give a man a fish and you feed him for a day. Teach a man to fish and you feed him for a lifetime.” Ajaran ini mirip dengan Gift of Knowledge-nya Christianity.
2. Kanya Dãna (Kanya = anak perempuan), memberi anak perempuan untuk dinikahi.
3. Anna Dãna, memberi makan bagi mereka yang kurang mampu. Tapi kalo liat pepatah di poin satu, jadi mikir-mikir lagi ya.
4. Go Dãna, memberi donasi sapi.
5. Bhu Dãna, memberi sedekah tanah.
Sedang menurut ajaran Hindu, ada 10 dana (dasa dana), tambah emas, nasi, minyak, baju, perak, dan lain-lain.

Pãramitã yang kedua adalah Síla. Rasanya kata ini tidak asing di negeri kita, di negeri panca sila. Yap, sila memiliki makna aturan. Untuk mencapai kesempurnaan – paramitha, tentunya dalam hidup kita harus mengikuti aturan yang berlaku. Síla termasuk ke dalam 8 jalan hidup mulia (Noble eightfold path). Ajaran Síla mengajak manusia untuk menjaga keharmonian dan keseimbangan hidup alam semesta, serta berlaku adil tanpa kekerasan dan merusak alam semesta. Sila selain sebagai kewajiban, juga merupakan salah satu dasar Theravada, yaitu sila, samãdhi, dan prajna (dibahas kemudian).

Kemudian ajaran Kshanti atau Khanti (dalam bahasa Pãli). Kshanti bermakna kesabaran, kerelaan untuk menanggung beban, serta kelapangan dada untuk memaafkan (aih soo sweeet :3). Kshanti mengaplikasikan kesabaran dalam menghadapi kondisi yang tidak kita inginkan untuk sabar, seperti emosi, marah, dan sebagainya. Kshanti sendiri menurut ajaran Buddha adalah bakat yang ada dalam setiap diri manusia.
Dalam Dhammapada Khanti, dideskripsikan pula bagaimana seorang Brahman melakukan ajaran Khanti,

“He endures — unangered — insult
assault, & imprisonment.
His army is strength;
his strength, forbearance:
he’s what I call
a brahman.”

Kata kunci dalam ajaran Khanti adalah patience, forbearance, dam forgiveness.

Selanjutnya, Vírya. Jika diartikan secara harfiah, virya adalah keadaan manusia yang kuat, atau manliness. Makanya di Indonesia banyak laki-laki yang namanya wirya :p. Pada konteks ajaran paramitha, virya merupakan faktor mental. Virya digambarkan sebagai energi, antusiasme, keteguhan hati, kesungguhan, dan kerja keras. Virya merupakan dasar dalam berfikir positif bagi manusia.

Dan yang terakhir, Prajñã atau pañña dalam bahasa Páli. Bahkan ada versi lagu dance korea judulnya Banya (maaf ga punya font hangeul), artinya sama, mungkin filosofinya beda. Prajna adalah kebijkasanaan, kondisi ‘mengerti’ pada semua aspek. Menurut ajaran Budha, kebijaksanaan selevel prajna hanya dapat dicapai melalui meditasi (samádhi). Dalam ajaran buddha, prajna adalah kebijaksanaan yang berdasar dari realisasi langsung hal-hal seperti empat kebenaran mulia (four noble thruths), ketidak-kekalan, awal yang saling berhubungan, kehampaan, dan ke-aku-an. Katanya sih, kebahagiaan manusia adalah saat sudah mencapai kondisi prajñã, saat sudah menemukan apa itu spiritualitas.

Selanjutnya mungkin saya akan membahas tentang 4 kebenaran mulia dan 8 jalan mulia. Ditunggu saja 😀

Written by Alderine

May 3, 2012 at 12:31 am

Posted in Nilai dan Budaya