alderine

Sepatah Kata

Archive for the ‘Kemahasiswaan’ Category

Kembali

leave a comment »

Di atas pembaringan kapuk, dengan jamur yang lapuk. Tubuh membusuk. Digerogoti idealisme semu yang merampok kesadaran majemuk.

————————————————————

Dalam perjalanan mengorbankan diri, merelakan hidup untuk tergelincir dalam lumpur pekat tak bercahaya.

“Temukan kami sesuatu yang berharga!”

Sesekali jua kembali ke permukaan untuk memberikan hasil temuan itu. Tetapi, apa menariknya bagi yang hidup di daratan, di permukaan. Dengan sofa, ranjang, permadani. Pertanian, peternakan, perdagangan. Permainan. Sejahtera.

Sedang yang berlumuran lumpur. Memberikan temuan yang juga penuh lumpur. Nyatanya tak ada yang bersedia membantu menyemir, mencuci, atau mengurusi barang temuan penuh lumpur.

“Hanya ikan dan udang yang kau bawa. Kami butuh emas! Kami ingin intan!  Kami memerlukan berlian!”

“Tetapi aku sendiri, tanpa penerangan dan bahaya mengancam nyawaku. Hanya udang dan ikan yang sanggup kubawa.”

“Tidak bisa! Kami sudah cukup dengan makanan. Kami sudah memiliki sumber dari segala sumber. Beri kami perhiasan!”

“Aku belum bisa memberi perhiasan, meski kalian sudah cukup dihormati karena dapat membuat perhiasan sendiri.
Lihatlah di negeri sebelah, orang berbondong-bondong berkubang mencari perhiasan. Tentu mereka mendapat banyak. Namun negeri itu ingin mempekerjakan kita agar perhiasan mereka bertambah. Aku tidak akan membiarkan itu.”

“Apa peduli kami?!”

————————————————————

Kembali. Di atas pembaringan senyaman kapuk. Dalam tubuh yang kian menyusut. Idealisme usang itu kian lapuk. Digantikan oleh cahaya yang menyelinap, beringsut, ke dalam dada.

Aku jatuh. Dalam dada ku ada lubang, tanpa kubangan, yang terus menarikku seperti gravitasi. Tidak semakin gelap di dalam. Putih. Semakin terang. Ribuan kilometer. Lebih dalam dari samudera. Menyesakkan.

Lalu aku kembali. Pada dekapanmu, Tuhan kah engkau?

Bandung 9 Februari 2014
bukan kasih yang aku cari.
tapi kebenaran.

Advertisements

Written by Alderine

February 9, 2014 at 4:24 pm

Menyikapi Kesempatan, Memanfaatkan Batasan.

leave a comment »

Tulisan ini sedikit banyak terinspirasi dari tulisan Bapak Rhenald Kasali mengenai PT. Arun LNG, di blog RumahPerubahan.com. Di tulisan itu beliau bercerita tentang semangatnya mengubah keadaan dan melihat kesempatan serta potensi yang dimiliki industri sebesar Arun. Namun itu semua terhenti dan mogok ketika melihat mental para pegawai yang sudah anjlok serta Pemerintah yang menggunakan alur berpikir constraint-based.

Hal yang sama pernah saya alami. Saat Pemilu Raya KM-ITB 2013 dinyatakan tidak sah akibat diskualifikasi kedua calon Ketua Kabinet KM-ITB 2013, saya baru 2 minggu dilantik menjadi Senator Utusan Lembaga dari HMFT-ITB. Menanggapi itu Sidang Paripurna Kongres KM-ITB menetapkan bahwa Pemilu Raya KM-ITB 2013 tidak sah, mengikuti prosedur yang telah disepakati bersama. Putusan tersebut dituangkan dalam Tap 025 tahun 2013.

Namun saya tidak mengesahkan Tap tersebut. Mempertimbangkan suara lembaga yang saya bawa dan akibat yang ditimbulkan dari putusan tersebut
Hati nurani saya melihat masalah yang besar akibat sebuah sms gelap yang berisi pemfitnahan yang beredar dari tim salah satu calon. Namun mengingat performa kedua calon selama Pemilu yang sangat baik dan partisipasi massa yang mencapai 8953, lebih dari 2/3 massa KM-ITB yang aktif, akan terdapat masalah baru bila Pemilu Raya dianggap tidak sah.

Dan Kongres KM-ITB tidak segera menyelesaikan permasalahan ini. Terlalu banyak rapat tidak penting. Terlalu banyak pertimbangan. Dan mengulur-ulur waktu sebulan lebih hanya untuk mempertimbangkan. Kesadaran massa semakin menurun mendekati minggu ujian akhir. Dan Kongres saat itu merasa bahwa Pemilu ulang tidak mungkin dilakukan kembali, mempertimbangkan hal-hal remeh yang lagi-lagi menghabiskan waktu.

Lalu kami, angkatan yang memang baru masuk Kongres, yang diberi mandat untuk memegang kelangsungan Referendum KM-ITB 2013. Dan secara tidak sengaja pula saya menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum di Kongres KM-ITB, yang bertanggung jawab sepenuhnya atas Referendum.

Hati nurani saya sebagai penanggung jawab pelaksana masih tidak setuju dengan Referendum. Karena sistem KM-ITB yang demikian menganut parlementer-presidensial. Memang kami sebagai Utusan Lembaga memiliki legitimasi untuk memilih Ketua Kabinet, tetapi secara tataran nilai, kami akan menyalahi falsafah dasar organisasi bila melakukan hal tersebut.

Dan keajaiban terjadi. Saat Sidang Istimewa Kongres kami sepakat untuk memilih metode langsung, serta menghapus opsi-opsi hitung kotak, presidium, maupun opsi lain. Atau dengan kata lain, saat referendum dilakukan pemilihan ulang dengan pilihan terbatas pada calon. Saat itu saya sebagai KPU segera menyanggupi mengadakan referendum dalam 2 minggu.

Tetapi ternyata keputusan Sidang Istimewa Kongres masih dipertanyakan massa. Mereka pun masih pesimis dengan partisipasi massa dalam referendum di waktu yang cukup singkat. Kekhawatiran muncul di sana-sini.

Bukan hanya itu, ‘birokrat-birokrat lupa diri’ pun ada pula yang berbisik di belakang. Mereka menyatakan kekecewaan kalau mereka ingin kami sebagai Kongres menunjukkan taringnya, menunjukkan sejauh apa kekuasaan Kongres. Ah dunia politik dan birokrat memang terlalu hitam.

Masalah dan kelelahan memang menyertai hingga akhir massa Referendum. Semuanya terbayarkan, kekhawatiran massa bahwa pemilih tidak mencapai 1/3 terhapuskan. Pertimbangan berlarut-larut bahwa Pemilihan Ulang tidak mungkin dilakukan juga dipatahkan.

Memang saya tidak memberi celah untuk menunjukkan se-powerful apa kami sebagai Kongres. Se berkuasa apa kami terhadap kampus.

Tapi saya telah menjunjung tinggi tataran nilai. Dan saya bahagia karena saya menjalankan KM-ITB dengan baik dan seharusnya demikian.

Terima kasih kepada 5800an massa KM-ITB yang berpartisipasi dalam Referendum KM-ITB 2013. Terima kasih teman-teman Komisi Pemilihan Umum. Terima kasih teman-teman Kongres KM-ITB 2013/2014.

Maaf bila terlalu banyak kesalahan dan keterbatasan yang saya miliki. 🙂

Written by Alderine

May 19, 2013 at 6:33 am

Posted in Kemahasiswaan

Sampai di Mana Jahimmu?

leave a comment »

Setahun yang lalu saat awal mula kami masuk menjadi kader Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik – Institut Teknologi Bandung. Saat itu di bawah hujan, di bawah pohon, sebelah barat pusat gaung DPR kampus, kami dibagikan jaket pertama kali.

Dan Herjuno Rah Nindito, atau yang biasa kami panggil Bang Juno (sebenernya lebih sering Juno aja sih) memanggil identitas yang tertulis pada jaket yang masih terbungkus plastik dan memakaikannya pada kami satu persatu.

Satu per satu. Seorang demi seorang. Di bawah hujan, kami menunggu dengan sabar.

Setelah itu kami mendengar Juno berpesan,

“Jahim ini aku pakaikan pada kalian satu per satu. Supaya suatu saat nanti aku bisa bertanya, sudah sampai mana jahim kalian? Aku membawa jahim ini hingga menjadi koordinator komandan lapangan di PROKM 2011. Aku ingin kalian lebih! Bawalah sesuai cita-cita kalian, harumkan nama himpunan kalian. Bawa ia mendaki gunung, bawa ia bersama prestasi, bawa ia menjadi saksi teknologi, bawa ia memberi kontribusi!”

Lalu sampai manakah jahim kami, FT 2010?
Mungkin teh Bije – Adinda Bunga Juwita pernah ke Jepang untuk exchange,
Mungkin Nathaniel Chandra Harjanto – Nathan si IP 4 dengan HNMUN, dengan mengikuti Summer Studentship yang diadakan CERN,
Mungkin Hayyu Widiatma Sakya – Mas Hayyu si pengusaha muda memenangkan IEC sebagai enterpreneur muda,
Mungkin Roji, Malik, Ega Risandy, dengan lomba PLC nya,
Mungkin Lingga dengan karya-karya elektrikalnya,
Mungkin Ikhsan yang menjadi ketua sebuah komunitas,
Mungkin Gega dan Ganang yang menjadi ketua unit,
Mungkin Yulia yang menjadi pimpinan redaksi majalah boulevard, pers ternama di kampus,
Mungkin Devy, Amalia, Umar Hanif, dan Rachmat yang menjadi Badan Pengurus unit terbesar di kampus,
Mungkin Nocho yang selalu jadi kadiv dimanapun ia berada,
Mungkin Robi, Ikhsan, Zalman, Jamet, Ikhsan, Nocho dan kawan kawan lainnya yang sudah menaklukkan puncak-puncak dan menyisir pantai-pantai di Pulau Jawa,
Dan masih banyak cara kami membawa jahim kami membirukan dunia ini.

Sedang aku, caraku,
Inilah batu loncatanku pertama membawa lambang tengkorak dan semangat avant garde,
inilah, inilah yang pertama.

image

image

Sore hari di Plaza Widya Nusantara, Kampus Ganesha Institut Teknologi Bandung, 25 April 2013.

Written by Alderine

April 29, 2013 at 11:58 am

Bara Cinta

leave a comment »

Mungkin benar apabila seseorang melakukan sesuatu bagi yang dicintainya selalu gagal. Itu karena ia hanya bertindak berdasarkan cintanya. Cinta itu terasa seperti api. Menyala, panas, menerangi hati.

Cinta yang tak terkendali juga selayaknya api. Ia panas. Berkobar, menyilaukan. Menjilat sana-sini lalu menghanguskan. Menyisakan puing yang hancur berkeping-keping. Meninggalkan abu penyesalan yang kehitaman.

Tetapi api tak selamanya menghancurkan. Ada kalanya saat ia membara, ia menerangi layaknya lentera, tak menyilaukan. Ia hangat tapi tak menghanguskan. Ia berguna, untuk mematangkan hidangan.

Tetapi kita harus bekerja agar api tetaplah bara. Ia butuh perlindungan dari angin agar tetap
Read the rest of this entry »

Written by Alderine

February 2, 2013 at 12:53 pm

leave a comment »

“Ketika Indonesia, hanya satu-satunya kata yang bisa mereka eja…”
Pidato kapten Rachmat Cahyono Lasama, 9 November 2012 dalam menutup Upacara Bendera HMFT-ITB dalam rangka memperingati hari pahlawan.

kacakusam

Masa kampus, mahasiswa ITB, Pemuda-pemudi Indonesia

Esok  hari adalah hari peringatan setiap jasa, keringat dan darah anak negri yang rela berkorban membangun bangsa. Bangsa Indonesia.

Tanah tempat kita berpijak. Rumah kita bernaung.

Sejak awal Indonesia ini tak pernah sepi dari kisah kepahlawanan, dan sungguh tak akan pernah sepi.

67 tahun yang lalu, saat kemerdekaan yang telah diraih oleh para pahlawan diguncang kembali oleh penjajah, NICA, dan Inggris. Tak gentar pemuda pemudi Indonesia mempertahankannya.

Jendral Soedirman dalam Pertempuran Ambarawa

Muhammad Toha yang rela mengorbankan dirinya untuk mempertahankan pertiwi dalam Bandung lautan api

Bung Tomo dalam pertempuran Surabaya

200.000 penduduk bandung yang rela membakar rumahnya sendiri

Rakyat Jogja dalam Penyerbuan Kotabaru Yogyakarta

Pertempuran Medan Arena

Dan Pertempuran 5 hari di semarang

Nilai-nilai itu. Nilai yang dibawa oleh para pahlawan yang telah mendahului kita tidak berakhir pada 67 tahun yang lalu. Tapi berlanjut hingga sekarang.

Wahai massa kampus, mahasiswa  ITB, pewaris kepahlawanan.

View original post 347 more words

Written by Alderine

November 16, 2012 at 12:18 pm

Posted in Kemahasiswaan

Nanda, Serta Cerita Tentang Balon dan Bunga

leave a comment »

Kurang lebih setelah LPJ tengah taun HMFT-ITB kepengurusan 2012-2013, di himpunan dibuka warung jajan. Warung jajannya pun terupgrade, nggak cuma jualan cemilan penuh penyedap dan pengawet buatan, tapi juga nasi dan lauk-pauk serta buah-buahan. Top banget lah pokoknya. Dan formatnya nggak lagi kantin kejujuran, tapii ada ibu kantin yang jagain, soalnya setelah kemarin kehilangan 2 kencleng milik angkatan FT 2010, sulit juga kan menghapal harga lauk pauk yang buanyak itu. Daaan kas HMFT pun meningkat, anak-anak yang nongkrong di himpunan pun makannya lebih sehat. Namun sayangnya nggak sehat buat kantong hehehe :p

Oke cerita tentang wajannya cukup di sini. Ibu kantin punya anak 3, yang paling kecil itu perempuan berumur 5 tahun. Namanya Nanda. Sore hari setelah sekolah (sekolah TK/ngaji gitu di masjid), sekitar jam 3 atau 4 sore biasanya Nanda ikut ke kampus, nungguin mamanya di himpunan. Nanda ini manis banget, kayak Afika yang di iklan oreo itu :3

Selain manis, Nanda ini menarik. Waktu pertama kenalan, aku dibilang mirip bebek. Afifah dibilang mirip ayam, Kak Melati kaya Shizuka, Juno dibilang mirip kipas angin, Amel dibilang mirip bunga, Adlian dibilang mirip lemari, Titik dibilang Barbie, Rizka dibilang doraemon, Ferdi kaya minuman, pokoknya lucu-lucu lah. Terus pas aku tanya kenapa dia jawabnya simple banget. Aku karena kerudungnya coklat mirip bebek goreng. Afifah karena lagi makan ayam. Kak Meng karena bajunya warna pink. Kipas angin karena kipas angin di rumahnya Nanda baling-balingnya warna hitam. Adlian karena bajunya garis-garis mirip lemari di rumah dia. Amel pake bros bunga di kerudungnya. Rizka pake jahim (jadi himpunan doraemon gitu? :p). Sedangkan Titik masih misteri :p dan jujur aja excited banget liat anak kecil. Sesederhana itu ya pikiran mereka. Maklum nggak punya adek :p

Anyway, karena Nanda yang sangat unyu ini jadi inget dulu jaman kecil. Nanda juga punya kakak cowok yang jailnya setengah mati. Haha sebelas dua belas lah ya. Dan lagi jadi kepikir kalau punya anak perempuan nggak apa-apa, toh lovable juga. Tadinya maunya anak laki-laki aja :3

Yap dan kemarin hari wisuda, 20 Oktober 2012. Wisuda ketiga sejak masuk dan dilantik jadi HMFT-ITB. Di wisudaan ini jadi LO, untuk yang ketiga kali juga :”
Ceritanya aku ke himpunan, dari sabuga, untuk mengamankan tas ransel milik wisudawan. Nah pas ke himpunan ini ketemu Nanda. Nanda cerita dengan muka sedih. Intinya, Nanda mau balon sama bunga. Tapi mahal. Ada anak kecil lain yang mau balon sama bunga juga. Tapi langsung dikasih karena nangis. Well akhirnya aku hibur. Aku bilang, ‘Yang dapat bunga sama balon itu yang lulus, Nanda. Aku juga nggak punya bunga sama balon, soalnya aku belum lulus. Tunggu ya nanti sore, barangkali kakak yang udah lulus mau ngasih balon yang sudah nggak dipakai buat Nanda.’ Daaan balik ke saraga buat arak-arakan.

Setelah arak-arakan, Nanda udah dapat bunga dari Kak Anita. Tapi belum dapat balon. Akhirnya mau bantuin buat minta balon ke anak-anak IMMG, dengan catatan si Nandanya juga ikut minta. Tapi dia nipu-nipu gitu berkali-kali. Akhirnya pura-pura marah sama dia, ninggalin, terus dia nangis. Abisnya bohong sih.

Sejujurnya ada perasaan guilty juga sih nangisin Nanda, anaknya orang gitu. Tapi kepikiran nggak sih, kalau nggak semua yang diminta harus dikasih? And well cara anak kecil minta kaya begitu ya, kalo nggak nangis, ngerengek, bohong. Sedih ya masak masih kecil sudah licik 😦

Kalau aku dulu pas masih kecil, jaraaaang banget kalau minta langsung dikasih. Biasanya suruh usaha dulu. Nabung dulu atau gimana. Pokoknya ada delay. Yaah tapi tiap orang beda-beda sih. So, anak gw gimana nanti? 😦

Written by Alderine

October 21, 2012 at 2:49 am