alderine

Sepatah Kata

Archive for the ‘Buku dan Sastra’ Category

Chris Cleave – The Other Hand (2008)

leave a comment »

The Other Hand - Chris Cleave

The Other Hand – Chris Cleave Cover

Tidak ada yang istimewa dari pertemuan dengan buku ini, karena buku ini merupakan hadiah dari kawan saya Avi Melati untuk ulang tahun ke-19 saya. Mungkin tidak ada chemistry seperti pertama kali bertemu dia yang disuka, namun lebih mirip dijodohkan. Tapi buku ini istimewa.

Saya membacanya seperti membaca buku aforisma, membaca paragraf demi paragraf perlahan-lahan. Kemudian menutupnya, dan merenung. Lalu melanjutkan membaca lagi. Begitu terus. Dengan sabar. Bahkan tak terburu-buru untuk mengetahui jalan ceritanya. Bahkan saat memulai menulis review ini, buku ini belum selesai dibaca. 🙂

Most days I wish I was a British pound coin instead of an African gril. Everyone would be pleased to see me coming. Maybe I would visit with you for the weekend and then suddenly, because I am fickle like that, I would visit with the man from the cornershop instead — but you would not be sad because you would be eating cinnamon bun, or drinking a cold Coca Cola from the can, and you would never think of me again. We would be happy, like lovers who met on holiday and forgot each other’s names.

Yap, itulah paragraf pembuka dari novel ini. Dapat langsung ditebak tema buku ini adalah tentang ras kulit hitam. Lebih dari itu. Buku ini menceritakan segalanya. Tentang oil companies yang memburu seluruh penduduk daerah delta sungai di Nigeria untuk dibunuh. Tentang sepasang suami istri jurnalis di harian Times dan direktur majalah wanita.

Dengan cara bertutur yang berganti-ganti sudut pandang di tiap chapter, Cleave menyiapkan plot yang sangat-sangat menarik. Yang memberi kejutan di setiap chapter. Namun dengan plotnya yang penuh kejutan dan cara bertutur yang energetic dan berdaya tarik itu, tetap saja cara bertuturnya yang lebih menarik buat saya.

Membaca setiap chapter dalam buku ini bagi saya sangat memaksa perenungan. Chapter 2 mengajak saya mengingat saudara-saudara sebangsa yang mungkin mengalami hal yang sama. Chapter 3 mengajak saya untuk memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di masa depan saya, dan mengganggu mimpi indah saya. Chapter 4,5,6 dan seterusnya… Membuat saya memeriksa kembali definisi-definisi yang telah saya buat dalam hidup. Tentang masa depan. Tentang mimpi. Tentang kebebasan.

Overall, thanks to Avi Melati, really a great gift in my 19th birthday 🙂

Advertisements

Written by Alderine

November 18, 2012 at 8:12 am

Posted in Buku dan Sastra

Victor Hugo – Les Miserables (1862)

leave a comment »

Cover buku yang saya baca

Buku ini saya baca selain karena ada di list 1001 Books You Must Read Before You Die, juga karena kakak saya punya. Saya baru menapaki novel-novel dalam bahasa Inggris sejak SMA, sedangkan kakak saya memiliki buku ini sejak dia SMA, saat saya masih kelas 4 SD. Dan baru berjodoh lagi sekarang 🙂

Victor Hugo membuat buku ini dalam bahasa Prancis, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Versi Bahasa Inggris inilah yang saya baca. Meskipun sudah diterjemahkan, taste dari sastranya tidak hilang, setidaknya begitu yang saya dapatkan dari membaca buku versi ini.

Saya ingin meralat penggunaan kata ‘diterjemahkan’ pada paragraf sebelumnya. Karena taste sastra yang masih kuat melekat, saya rasa Norman Denny bukan hanya sekedar menerjemahkan. Mengalihbahasakan, atau mungkin mentransliterasikan, karena rasa sastranya masih kuat melekat.

Hugo’s epic tale of social injustices, politics, heroism, and love is a towering work of Western literature.

Begitulah yang ditulis di cover belakang buku ini.

Buku ini memiliki banyak sekali plot cerita. Berbagai plot tersebut saling sambung-menyambung seperti novel yang berkelanjutan. Bahasa yang digunakan sangat indah, meskipun dalam bahasa lain, dapat membuat saya membayangkan keseluruhan cerita dalam sebuah drama di kepala.

Dengan plot yang bermacam-macam dan memiliki sangat banyak twist, buku ini membuat saya tidak sabar untuk segera mengetahui akan di bawa ke mana cerita ini. Alhasil saya menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat, 3 jam :p

Pelajaran utama yang saya dapatkan dalam buku ini adalah, kita tidak berhak menilai seorang manusia, berdasarkan masa lalunya, karena manusia bisa berubah. Selain itu, sesulit apapun kita harus tetap berbuat baik, karena manusia diciptakan untuk berbuat baik. 😀

Berkenalanlah dengan Jean Valjean, Fantine, dan Cossette, maka anda akan setuju dengan paragraf sebelum ini 🙂

Written by Alderine

November 17, 2012 at 9:05 am

Posted in Buku dan Sastra

Sembunyi, Tuhan, dan Cacat

leave a comment »

“Aku tahu siapa kamu sebenarnya, meskipun kamu selalu bersembunyi,” kata Saras ketika mereka mulai dekat.
Budi mula-mula masih mencoba untuk megelak. Tapi karena terus-menerus ditatap akhirnya ia menyerah juga.
“Siapa yang sudah mengkhianati aku?” tanyanya kemudian setelah mereka mulai intim.

Saras hanya tersenyum.

“Kenapa mesti harus ada seorang pengkhianat untuk membuat yang gelap jadi terang. Apa kamu pikir kamu sudah begitu hebatnya lari menyembunyikan diri kamu, sehingga Tuhan pun tidak bisa melihatnya?”
“Kamu jangan bawa-bawa Tuhan.”
“Kenapa?”
“Karena persoalannya tidak akan bisa lagi diamati obyektif kalau belum apa-apa kamu sudah membawa nama Tuhan.”
“Apa lagi yang bisa aku bawa untuk membuat orang yang begitu pe de seperti kamu untuk mengerti dan berpikir kembali, bahwa kamu tidak sepintar yang kamu sangka, kalau bukan Tuhan?”
“Ternyata kamu sama saja!”
“Maksudmu?”
“Membuat Tuhan sebagai tempat pelarian!”
“Itu bukan pelarian!”
“Apa pun yang mau kamu sebut, silakan. Tapi kamu sudah mempergunakan Tuhan!”
“Aku tidak mempergunakan, aku yang sudah Dia pergunakan! Dan aku membiarkan diriku untuk dipergunakan sebab aku percaya!”
“Itu sama saja, hanya cara mengatakannya lain.”
“Kamu salah!”
“Terserah! Itu persoalan kamu! Siapa yang sudah menceritakan siapa aku kepada kamu?”
“Aku sendiri!”
“Bohong!”
“Hah! Kamu selalu mengira semua celah sudah kamu tutupi! Padahal?”
“Celah yang mana?”
“Masak kamu tidak tahu?”
“Aku yang bertanya!”

Saras tersenyum.

“Tidak perlu terlalu pintar untuk melihat kekurangan orang lain. Yang memerlukan kepintaran adalah melihat kekurangan diri sendiri.”
“Nyindir kamu?”
“Boleh dianggap nyindir, tapi itu sebenarnya kritik. Kritikku kepada kamu.”
“Kenapa mesti mengkritik aku, emang kurang kerjaan.”
“Sebab aku sudah menganalisa kamu.”
“Kenapa? Emang lhu tertarik sama gue?”
“Ya! Karena kamu terlalu sombong. Aku tidak pernah melihat orang sesombong kamu.”
“Kamu aja yang mengatakan itu kesombongan. Aku hanya berusaha tidak mengganggu orang lain.”
“Nah. Hanya orang yang tidak mau diganggu yang selalu berusaha menghindar dari orang lain. Dan orang yang selalu menghindar dari orang lain adalah orang yang punya rahasia. Dan rahasia yang paling ditakuti anak muda brilian yang memiliki masa depan cemerlang adalah kalau ia memiliki cacat.”

——————————————————–
dialog yang paling saya sukai di novel ‘Mala’, buku kedua tetralogi dangdut karya Bapak Putu Wijaya.

Written by Alderine

July 17, 2012 at 9:57 am

Posted in Buku dan Sastra, Prosa Prematur

Tagged with ,

Kamu

leave a comment »

Api menyala dalam diriku. Kamukah itu? Kulihat cahaya dan kurasakan hangat. Tetapi aku tidak takut terbakar lagi. Aku telah hangus. Kuserahkan diriku sepenuhnya untukmu. Tak ada keinginanku lagi kecuali mengikuti segalanya.
Aku daun tercecer dari ranting pohon ke aliran sungai yang menuju ke laut. Tapi mungkin aku tak pernah mencapai tujuan. Karena perlahan-lahan di dalam proses ini kutemukan arti. Hanya untuk kamu.

— Sebuah penggalan dari novel Mala, buku kedua tetralogi dangdut, karya Putu Wijaya

Written by Alderine

July 3, 2012 at 1:08 am

Merah Kirmizi, Penengah Antara yang Hitam dan Putih

leave a comment »

“Thou your sins be as scarlet, they shall be as white as snow”
— Remy Sylado, dalam bukunya Kerudung Merah Kirmizi.

Saya membaca buku ini pada saat SMA, saat hasrat pada sastra mulai memudar, digantikan dengan keingintahuan akan fisika modern. Namun, perpustakaan yang telah menjadi sahabat sepertinya memahami kejemuan setelah 3,5 bulan — 1 semester di kelas akselerasi, bercumbu dengan jilid 1 Modern Physics bapak Arthur Beisser. Hanya jilid 1.

Kemudian tersembul cover buku warna hitam dengan selendang warna merah scarlet, atau merah kirmizi menurut cara bertutur bapak Remy, memanggil-manggil menarik perhatianku. Dan seperti biasa, aku melahap sastra dengan secepat kilat. 600an halaman ini habis dalam semalaman.

‘Kamu tahu merah kirmizi adalah merah kotor, tapi kamu dapat menyaksikan mukjizat melalui orang lain yang memberikanmu cinta, yang besar cinta itu dapat mengubahnya menjadi bersih seputih salju.’

Novel ini bertutur tentang perjalanan cinta antara seorang duda koboi, Luc Sondak, dengan penyanyi jazz di cafe, Myrna Andriono. Myrna yang mencoba setia dengan bayang almarhum suaminya, mencoba menolak kehadiran Luc. Oleh ibunya, Myrna diberi selendang-kerudung berwarna merah kirmizi, yang harus Myrna kenakan hingga menikah dengan Luc.

Kisah cinta antara Myrna dan Luc memang menjadi fokus dalam novel ini, namun seperti biasa, novel yang menjadi favorit saya adalah yang dapat merangkum kehidupan manusia. Novel ini mengawinkan pluralisme, politik, hingga sosialita.

Dari segi etnis, kita diajak menyelami berbagai nilai dan budaya dari pelaku-pelakunya: Myrna yang asli Sunda, almarhum suaminya, Andriono, yang berasal dari tanah Jawa, pak Luc yang dosen ilmu budaya, Pak Putu yang asli Bali, hingga Batak, Padang, dan Betawi.

Selain keberagaman etnis, novel ini sangat kental dengan nuansa ‘bekas orde baru’, sisa-sisa reformasi dan bekas kejayaan pejabat militer berbintang banyak hingga intrik-intrik busuk cukong kelas kakap hingga teri. Tak sampai di situ, gaya hidup dan culture shock ala orang kaya baru atau pejabat amatiran juga diselipkan.

Dengan kekayaan latar, novel ini saya rasa memang pantas mendapat penghargaan bergengsi Khatulistiwa Literary Award. Remy Sylado mengemas semuanya dengan cara yang apik, mempertemukan berbagai kutub yang berlawanan. Mungkin itu pesan yang ingin disampaikan oleh novel ini: ketika hitam dan putih berseteru, merah kirmizi lah yang menjadi penengahnya, karena tak mungkin manusia hitam legam tanpa kebaikan dan putih suci seutuhnya tanpa maksiat setitik pun.

Meskipun setting dan bahan-bahan dasar dalam novel ini sudah mendekati sempurna, namun sayangnya alur dalam novel ini tidak jauh berbeda seperti sinetron ftv, atau novel-novel teenlit lainnya. Endingnya dapat ditebak, kaya-raya, menikah, dan lived happily ever after. Tetapi overall, buku ini cukup baik dibaca, bagi anak muda penyicip sastra, terutama pemula dan anak SMA. 🙂

Written by Alderine

June 26, 2012 at 5:20 am

Posted in Buku dan Sastra

Spasi

leave a comment »

Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia
bermakna jika tidak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak, dan saling menyayang bila ada ruang.

Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu. Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.

Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung. Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat, karna aku ingin seiring, bukan digiring.

—————————————————————————————————————-

originally written by Dewi Lestari.
Prosa berjudul ‘Spasi’, dimuat dalam bukunya Filosofi Kopi

sincerely to him. This the reason why I different from her, a lot 🙂

Written by Alderine

June 9, 2012 at 6:24 pm

Sepetak Tanah

leave a comment »

Didasari atas keserakahan manusia yang akhir-akhir ini terlihat di mana-mana, saya ingin mereview cerita lain dari Leo Tolstoy, How Much Land Does A Mand Need?
Cerita ini mengenai seorang petani. Dia merasa kurang dengan lahan yang dia miliki. Kemudian, dia berambisi untuk memiliki lahan seluas-luasnya. Dia berkata, “Jika saja aku punya lahan yang luas, aku tidak akan takut dengan setan!” Tanpa sepengetahuannya, setan berdiri di belakangnya mendengar ucapan petani itu.

Tidak lama kemudian, ada seorang pemilik tanah dekat rumahnya menjual tanah miliknya. Orang beramai-ramai membeli tanah miliknya sebanyak yang mereka mampu, begitupun petani itu. Akhirnya petani itu memiliki tanah yang lebih luas. Namun, dia masih berambisi untuk memiliki tanah yang lebih luas lagi.

Akhirnya petani itu pindah ke kota lain, dengan lahan yang lebih luas lagi tentunya. Di sini ia hidup berkecukupan, dengan hasil bercocok tanam yang lebih banyak pula. Namun ada hal yang mengganggunya, lahan tempatnya bercocok tanam merupakan tanah sewaan.

Untuk itu, ia pergi ke seorang pemilik tanah, dan menawar harga tanah miliknya semurah mungkin. Akhirnya pemilik tanah itu menawarkan tanahnya dengan kesepakatan yang unik. Untuk harga 1000 ruble (mata uang Rusia, maklum karangan Tolstoy), ia dapat memiliki lahan seluas yang ia mau, dibatasi parit kecil yang dibuat dengan sekop. Ia boleh memulai sejak matahari terbit, dan berhenti saat matahari terbenam. Jika ia dapat kembali saat sebelum matahari terbenam, seluruh tanah di dalam area yang ia tandai dengan parit menjadi miliknya. Tapi jika ia belum kembali ke tempat asalnya sebelum matahari terbenam, maka ia kehilangan uangnya dan tidak menerima tanah sedikitpun.

Petani itu senang sekali, membayangkan ia akan mendapat tanah seluas yang ia mau. Malam itu ia menyiapkan diri untuk esok hari. Namun ia bermimpi buruk. Dalam mimpinya, petani itu melihat dirinya terkulai mati di bawah kaki setan yang sedang tertawa.

Keesokan harinya, petani itu berusaha untuk menandai tanah sejauh yang ia bisa. Hingga ia tersadar, matahari sudah terbenam separuh. Namun ia terlalu jauh dari titik mula. Ia berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai titik mula. Akhirnya petani itu sampai ke titik mula di mana pemilik tanah menunggunya, tepat saat matahari terbenam seluruhnya. Pemilik tanah menghargai hasil kerja petani itu, dan memberikan seluruh tanah yang sudah ditandai parit kecil itu menjadi miliknya. Namun karena terlalu kencang berlari, petani itu mati kelelahan. Pesuruhnya kemudian menguburnya dalam tanah berukuran 2 x 1 meter.

——————————————————–
Ironis, bukan?
(ditulis pada perjalanan pulang di tol Cipularang 🙂 )

Written by Alderine

April 12, 2012 at 5:41 am

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,