alderine

Sepatah Kata

Singkong Goreng: Cuplikan Opini Bahan Bakar Fosil Indonesia

leave a comment »

Setelah sekitar 2 minggu menjalani pemeriksaan ini itu, imaji tubuh dalam berbagai gelombang: ultrasonik, radiasi Gamma, resonansi magnetik, kemudian juga diambil berbagai cairan tubuh, ditusuk-tusuk lengannya untuk mengisi lusinan tube dengan menyabet aliran nadi. Alhasil saya jadi ga banyak kerjaan dan gak bisa ngapa-ngapain, akhirnya banyak nonton TV. Kebetulan saluran TV favorit saya adalah yang swasta milik politikus asal Aceh yang fokus menyajikan berbagai berita. Baiklah.

Tapi saya tergelitik dengan beberapa malam lalu, ada menteri koordinator perekonomian yang baru diangkat, memberikan pandangannya tentang ekonomi Indonesia. Saya jadi nyungir-nyungir sendiri, Indonesia lucu ya.

Singkatnya beliau bilang, bahwa yang mau ngebor terus muntahin minyak sama gas dari bumi itu harusnya dipermudah aja. Biar produksi minyak naik, terus sejahtera deh kita. Nah lho?

Padahal ESDM punya SKK Migas dan BP Migas. Mereka dibikin buat ngawasin aktivitas, kalau SKK bagian eksplorasi, BP bagian proses & distribusi. Mudahnya sih begitu. Dulu jamane jaman edan yang ngawasin ya yang kuda laut itu. Lucu kan ya, wong kuda laut juga posisinya sama sebagai “pemain” eh kok punya hak lebih cuma karena dia BUMN. Makanya dibuat SKK Migas dan BP Migas… Yang fungsinya ngawasin “pemain” ini supaya jujur adil transparan dan MENGUNTUNGKAN. Jadi bukannya dipersulit, tapi SKK Migas hanya memastikan agar pengeboran dan pengecoran (eh) maksudnya eksplorasi-eksploitasi ini jadi MENGUNTUNGKAN TANPA NEGARA KELUAR SERUPIAH PUN. Eh lha kok niki pak menko anyar kok… piye tho?

Mau nulis surat nggak tau alamat rumahnya, mau nulis imel juga nggak tau alamat imelnya. Jadi saya nulis di blog aja daripada mangkel-mangkel ra keruan.

Tulisan yang bagus kan pakai data dan sitasi, maka silahkan cek aktivitas perminyak-energian di Indonesia di sini. Ndak apa-apa lah ya yang punya data negara lain. Habis cari yang punya ESDM ndak ketemu.

Kalau diperhatikan, kita lagi kuaya ruaya itu tahun ’80-an, kita pake minyak tanah buat masak (sekarang lebih kaya lagi: gas). Mari kita bagi-bagi hasil bahan bakar fosil ini jadi ke dalam beberapa kuadran, (eh ini saya nggak nyontek tulisan orang lho)

  1. transportasi – premium, solar, dan kawan-kawannya
  2. listrik – batu bara, diesel, gas
  3. rumah tangga – minyak tanah, spiritus, briket batu-bara, gas elpiji, penghangat air kamar mandi, dll
  4. industri: ya macem2 lah pokoknya
  5. kebutuhan lain-lain

Nah karena ini pak menko ekonomi yang bikin nyungir, mari kita bahas dari segi duit walaupun saya nggak suka.

Transportasi

Merujuk pada tulisan Bapak Hanan Nugroho, konsumsi energi di Indonesia (data tahun 2000an awal), setengahnya itu buat transportasi. Kalau BBM disubsidi kira-kira gimana? Lha tekor, no.

Belum lagi kita tau kalo tambang minyak adanya di Delta Mahakam, di Kalimantan Timur, pengapalan ada di Kalimantan Selatan. Eh tapi propinsi sebelahnya yang se Pulau, kalau mau isi bensin bisanya cuma seminggu sekali, ngantri berhari-hari, beli bertangki-tangki, rebutan beli solar sama industri. Eh industri kok pake subsidi?

Apalagi di Pulau Jawa, kelakuan penggunanya. Sing ndhuwe mobil rak yo wong sing ndhuwe duit tho. Ke kampus tinggal ngegelundung udah nyampe aja bawa mobil, bawa motor. Saking banyaknya yang bawa mobil/motor, parkir susah, jalan macet. Hih. Terus BBM bersubsidi ini ada yang pake buat kebut-kebutan. Minta dipotong lehernya banget kan?

Kenapa nggak subsidi BBM dikurangin. Tapi kasih kompensasi ke yang mata pencahariannya emang bergantung sama BBM banget, nelayan misalnya. Minimal nggak ngasih subsidi orang kaya, kan?

Listrik

Kebutuhan listrik Indonesia harusnya tinggi, tapi elektrifikasinya aja masih rendah. Rumah saya di sebelah barat kota Bogor yang gak sampai 100 kilometer dari Jakarta, minimal seminggu sekali mati lampu. Apalagi di luar Jawa. Beda sama anak Jakarta-Bandung, baru mati setengah jam aja udah jadi trending topic di twitter. Hih.

Selain merujuk data milik EIA yang tadi, mari kita lihat data yang udah dikumpulin sama wikipedia. Betewe saya juga udah ngumpulin data lho, kalo ini sumbernya Global Energy Observatory data tahun 2011.

Bahan Bakar Fosil, total terinstal: 26541 MW, dalam pembangunan 13084 MW

  • Batu Bara: 50 unit, 18630 MW
  • Gas Alam/minyak/diesel: 54 unit, 7911 MW
  • program 10.000 MW, dalam tahap pembangunan: 34 unit, 13084 MW

Energi Terbarukan, total terinstal 6099 MW

  • Geothermal: 19 unit, 1197 MW
  • Hidroelektrik: 88 unit, 4755 MW
  • dalam pembangunan, hidroelektrik PLTA: 18 unit, 4446 MW

Padahal potensi Indonesia kan banyak banget. 2/3 wilayah laut isinya ga cuma ikan, tapi bisa dibikin nyetrum juga. Kalo menurut slide Pak ProfesorMukhtasor teorinya kita punya 749 GW alias 749000 MW, bisa dijual ke Eropa kali listrik segede itu. Sedang yang potensi teknis bisa dipakai 43000 MW, eh yang lagi dicoba 175 KW sama ristek. Listrik geli-geli doang. Selain itu katanya sih Geothermal kita bisa ngasih sekitar 28 GW, atau 28000 MW. Terus ditolak. Katanya harga listrik dari geothermal mahal banget. Belum matahari, kita pas banget di khatulistiwa. Kalo pohon tinggal mangap juga kenyang sama matahari, solar panel juga bisa bikin meledak baterai kali ya kalo di Indonesia. Di Jerman yang luasnya cuma segitu dan musim panasnya cuma 18 derajat Celsius aja kapasitas instalasi solar panelnya 36315 MW di akhir April 2014 kemarin. Kita bisa berapa ya? wuii nyetrum lah pokoknya.

Oh iya saya ga nulis nuklir. Sebenernya saya nggak prefer soalnya pembangkit listrik itu bagusnya kan kayak lagunya Sandhy Sandoro, tak pernah padam. Sedang reaktor nuklir udah dipadamin juga masih butuh energi buat ngejaga biar ga meledak. Padahal tau sendiri kan orang Indonesia ga safety gitu. Bisa dilihat di sini kalo ga suka persamaan, di sini yang biasa aja, atau di sini khusus penggemar.

Tapi emang buat instalasi geotermal gak murah dan gak mudah, juga solar panel. Balik modal (payback period) bisa 25, 40, sampai 85 tahun. Toh kita ga bikin negara buat generasi kita doang kan? Bukan buat masa kerja presiden yang cuma 5 tahun kan? Yaudah dinaikin aja harga listriknya. Paling juga dipake buat ngecharge hape terus main Angry Birds, atau nonton bola sama Bapak-bapak. Belum yang nonton YKS, dan lain-lain sebagainya. Minimal gas minyak batubara ga dibuang-buang buat sekedar… Itulah.

Kebutuhan Hidup Rumah Tangga

Dari dulu masih pakai minyak tanah, spiritus, briket batu-bara, sekarang jadi gas elpiji, penghangat air kamar mandi, kita butuh buat kehidupan sehari-hari. Padahal menurut world bank, sekitar 40% rumah tangga di Indonesia masih pake biomassa, masak pake kayu bakar gitu, kan enak. Asal bener kompornya sih biar ga bikin penyakit.

Kita kan daerah hutan hujan tropis. Sampah organik banyak banget kayak kayu ranting daun dan lain-lain. Kenapa nggak dijadiin industri briket biomassa ya? Mungkin Dirut PGN mau ngebunuh gw abis nulis kayak gini, udah bikin infrastruktur gas eh malah gak laku. Orang gas nya juga banyak yang udah abis, telat deh ah.

Kebutuhan Industri & lain-lain

Nah ini nih yang seru. Kalo di pabrik males kali ya bikin pembangkit listrik yang susah-susah, maunya solar/diesel/gas aja. Nggak apa-apa kalo beli, eh ini beli di pom bensin yang disubsidi. Gorok aja lah. Bergantung sama PLN juga susah, mati nyala ga jelas gitu listriknya.

Padahal kebutuhan industri ga sekedar listrik doang, tapi industri turunan petrokimia gimana? plastik, parafin, pupuk yang butuh elpiji, jadi… Kayaknya mending diprioritasin ke sini deh (yang nyedot di bawah 15% penggunaan bahan bakar fosil). Kan kalo jual barang jadi lebih kaya doong. Juga aspal, kan ga mungkin bikin jembatan pake kayu gitu. Jadi… tingkatin di sini kira-kira lebih menghasilkan gak ya?

 

Sambil makan singkong goreng, jadi kira-kira kalau menurut saya lebih baik gitu. Kita jangan ketergantungan lah, susah. Harus mandiri. Itu banyak pilihan. Walaupun susah ditemuin sih emang…

 

Sumber, data, sitasi:

  1. U.S. Energy Information & Administration (EIA), Indonesia Overview Data & Brief Analysis. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  2. Daftar Pembangkit Listrik di Indonesia – Wikipedia, ensiklopedia bebas. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  3. Marine Energy – Wikipedia, the free encyclopedia. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  4. Geothermal Electricity – Wikipedia, the free encyclopedia. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  5. Solar Energy – Wikipedia, the free encyclopedia. Dicek kembali pada 7 Juni 2014.
  6. Geothermal Energy Association. Geothermal Energy: International Market Update Mei 2010.
  7. Matek, Benjamin. September 2013. Geothermal Power:International Market Overview, Geothermal Energy Association.
  8. Bertani, Ruggero. September 2007. “World Geothermal Generation in 2007”,Geo-Heat Centre Quarterly Bulletin. Klamath Falls, Oregon: Oregon Institute of Technology.
  9. Lund, John W. Juni 2007.  “Characteristics, Development and utilization of geothermal resources”Geo-Heat Centre Quarterly Bulletin, Klamath Falls, Oregon: Oregon Institute of Technology.
  10. Tester, Jefferson W. Massachusetts Institute of Technology et al. 2006. The Future of Geothermal Energy, Impact of Enhanced Geothermal Systems on the United States in the 21st Century: An Assessment. Idaho Falls: Idaho National Laboratory.
  11. Bertani, Ruggero. 2009. “Geothermal Energy: An Overview on Resources and Potential”Proceedings of the International Conference on National Development of Geothermal Energy Use, Slovakia
  12. Axelsson, Gudni; Stefánsson, Valgardur; Björnsson, Grímur; Liu, Jiurong. April 2005. “Sustainable Management of Geothermal Resources and Utilization for 100 – 300 Years”, Proceedings World Geothermal Congress 2005 (International Geothermal Association)
  13. Sanyal, Subir K.; Morrow, James W.; Butler, Steven J.; Robertson-Tait, Ann. 22-24 Januari 2007. “Cost of Electricity from Enhanced Geothermal Systems”, Proc. Thirty-Second Workshop on Geothermal Reservoir Engineering, Stanford, California.
  14. Hanan Nugroho. 2005. Apakah persoalannya pada subsidi BBM? Tinjauan terhadap masalah subsidi BBM, ketergantungan pada minyak bumi, manajemen energi nasional, dan pembangunan infrastruktur energi. Website bappenas.go.id
  15. Slide berjudul Ocean Energy in Indonesia, oleh Prof. Mukhtasor, Ph.D. Dipresentasikan pada OCEAN ENERGY WORKSHOP, Jakarta, 22 Nopember 2012.
  16. Indonesia can be super power on geothermal energy : Al Gore. ANTARA News. 9 Januari 2011.

 

 

Advertisements

Written by Alderine

June 7, 2014 at 5:59 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: