alderine

Sepatah Kata

Fiksi Hijab yang Memang Terlalu Fiksi

with 19 comments

Tulisan ini diilhami oleh fiksi seseorang yang cukup membuat saya panas hati. Fiksi itu (mungkin) bagi sebagian orang mengilhami, membuat berhati-hati, tapi berbagai argumen dan metode yang diungkapkannya acapkali amat prematur dan membuat saya mengernyitkan kepala sembari berkomentar, “Ini orang mikir gak sih pas nulis?”

Kesalahan pertama: Film Disney

Si aa’ yang nulis pikir dengan film disney, ada 60% cewek yang melepas jilbab. Hallooo, aa’ sehat? Saya tumbuh sebagai generasi Disney. Buku bacaan saya sewaktu kecil Donald Bebek, yang mengajarkan kita harus berusaha tekun dan jangan bermalas-malasan maupun mengharap cara instan seperti Donald, tidak baik untuk pelit dan kikir seperti Paman Gober, Desi Bebek mengajarkan untuk mandiri dan seimbang, serta trio kwak kwik kwek mengajarkan untuk selalu ingin tahu. Mana pesan cantiknya?

Selain Donald Bebek saya bisa lanjutkan ke Miki Tikus yang berusaha membasmi kejahatan, Mulan yang ingin membahagiakan ayahnya, Pinocchio yang tidak boleh berbohong, 101 Dalmatians tentang anjing yang menyelamatkan diri, Lilo and Stitch juga Brother Bear tentang keluarga, Bambi serta The Lion King tentang berkorban untuk rakyat, Gajah Dumbo serta Itik Buruk rupa tentang melihat potensi diri. Masih banyak lagi, The Jungle Book, Winnie The Pooh, Robin Hood, 20000 Leagues Under The Sea, The Three Musketeers, dan.. masih sangat banyak lagi teman masa kecil saya. Beranjak agak dewasa, konsumsi Disney saya menjadi lebih luas. Star Wars, Pirates of Caribbean, Tron. Serta film keluaran studio Pixar yang masih saya ikuti terus perkembangannya hingga kini.

Gadis cantik di Disney? Mengajak membuka aurat? Apa anda sudah berfikir sebelumnya? Mari kita tengok Disney Princess yang khusus membahas wanita. Mungkin anda hanya terpaku pada cerita semacam Cinderella, Ariel di The L:ittle Mermaid, Snow White, Belle di Beauty and The Beast, Pocahontas, Jasmine-Aladdin, Aurora-Sleeping Beauty, dan Tiana si Putri Kodok. Tapi sebagai anak kecil pengkonsumsi film Disney yang kini sudah beranjak dewasa, dari film-film tersebut di atas yang saya ingat adalah jalan ceritanya, bukan kecantikan para putri maupun pola hubungan mereka berpacaran dengan laki-laki. Selain itu, jangan lupakan bahwa masih ada Princess yang tidak hanya sekedar cantik tetapi juga pandai memanah dan memenangkan perang China seperti Merida dan Mulan.

Anda terlalu terburu-buru menulis Disney membuat 60% pemakai jilbab melepas jilbabnya. Karena saya mengkonsumsi Disney sejak bisa membaca sebelum TK, sedang saya memakai jilbab baru saat SD kelas 4.

Oh ya. Mengapa anda menulis Disney, yang jelas merupakan tontonan bermutu tinggi bagi anak kecil. Dibanding film India yang bercerita tentang seorang wanita yang berselingkuh dengan seekor ular yang saya tonton saat TK dengan penuh ketidak mengertian hingga saat ini. Mengapa tidak anda kritik habis-habisan film horor Indonesia yang isinya tidak lebih dari membuka aurat dan jeritan sensual. Atau mungkin sinetron dari Taiwan, China, mungkin Korea untuk saat ini, hingga produksi lokal yang mengajarkan saya untuk berpacaran.

Kesalahan Kedua: “Nir-Historis dan Timeline yang Berantakan” jika diterapkan di Indonesia

Anda menulis seolah Disney mengajak melepas jilbab. Lupakah anda bahwa Disney sudah berproduksi sejak 1930an? Sedang wabah jilbab di Indonesia baru dimulai sejak di atas tahun 2005. Oh ya mungkin anda perlu mengetahui bahwa memakai jilbab dahulu itu cukup sulit, baik pada masa Orde Baru hingga sekitar 5-7 tahun setelah reformasi. Mungkin anda cukup rendah hati untuk mencari tahu perjuangan menggunakan jilbab pada saat-saat itu, atau analisis yang cukup komprehensif tentang jilbab dan hijab.

Perbaiki timeline anda. Mungkin karangan bebas anda berlaku di negara Timur Tengah. Tapi tidak di sini, di mana kini wanita berjilbab sedang bertambah dengan pesat. Minimal tidak di Asia Timur, Tenggara dan Selatan, tidak di Eropa dan tidak juga di Amerika.

Kesalahan Ketiga: Kesalahan Sepenuhnya Pada Wanita

Mungkin ada benarnya bahwa iklan kosmetik mengajak wanita menghamba pada kecantikannya. Mungkin bagi saya yang saat remaja hanya menggunakan Eskulin setelah bermain basket tidak terlalu berpengaruh. Tapi benarkah itu hanya semata-mata karena wanita mudah ditipudaya? Benarkah wanita berdandan karena mudah dirayu dan digoda untuk berdandan?

Saya sendiri baru menyadari bahwa “wanita harus cantik” karena kebetulan saya memiliki teman laki-laki. Dia menyepelekan saya yang tidak pernah menilai orang dari penampilannya dengan berkata, “Ah lo mah ga ada apa-apanya dibanding (sebut saja seorang wanita cantik)”. Ah tentu saya ada apa-apanya dong, dia kan menang cantiknya aja.

Tapi satu kejadian itu dalam hidup saya yang memberi saya pengetahuan bahwa laki-laki otaknya itu cuma seperempat, buktinya menilai perempuan aja pake nafsu. Yaa mungkin gak semua laki-laki. Lalu salah perempuan kah kalau perempuan berlomba ingin memenuhi standar laki-laki, yang juga bisa aja kan gampang kena pengaruh pendefinisian cantik di media.

 

Jadi aa habib, punteun pisan. Kalo nulis dipikir dulu ah. Bikin gatel nih hehehe.

Advertisements

Written by Alderine

April 1, 2014 at 3:52 am

Posted in Opini

19 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hehehehe,
    mohon izin jadi yang pertama like ya 🙂

    habib asyrafy

    April 1, 2014 at 5:03 am

  2. udah tak bantuin sebarin di twitter mas

    habib asyrafy

    April 1, 2014 at 5:15 am

  3. bacalah Alqur’an dan pahami tafsir na.. segera bertobat mbak

    tobat

    April 1, 2014 at 4:01 pm

    • maksudnya gimana sih? emang saya melanggar qur’an kalau mengkritik tulisan terus suruh memperbaiki gitu?

      alderine

      April 2, 2014 at 5:14 am

  4. Lhah mas… Anda sebut jilbab tadi sebagai ‘wabah’? Berarti penyakit dong? Ckckck…

    33Conine

    April 2, 2014 at 4:01 pm

    • Ciee cuma karena masalah diksi suudzon banget deh. Saya juga pakek jilbab kok.. Wabah itu suatu yang endemik/epidemik. Nggak berarti selalu penyakit. Lagian jangan tekstual sama tulisan saya, konteksnya kan saya ngritik tulisan orang :)) tanggapin dong isi kritik saya sesuai atau nggak.

      alderine

      April 2, 2014 at 4:34 pm

    • Ohya sebenernya saya ingin menggunakan kata viral tapi mungkin kosakata bahasa Indonesia saya kurang kaya sehingga pemilihan kata saya menjadi buruk ke wabah. Terima kasih masukannya!

      alderine

      April 2, 2014 at 4:40 pm

  5. hmm, tanggapan buat tulisan mbak alderine.menurut saya mengapa lebih berminat membahas film2 disney yang menurut mbak tadi lebih banyak positifnyadibandingkan membahas film indonesia, india dan korea yang lebih banyak mengandung unsur tidak mendidiknya adalah karena film indonesia, korea atau india itu nilai negatifnya memang sudah tampak jelas, jadi gak perlu dibahas terlalu dalam juga udah ketahuan bahwa film itu gak bener. lain halnya dengan film2 yang kata mbak sangat banyak positifnya itu, disitulah letak urgensi membahas film2 disney itu. karena kebanyakan orang menganggap pesan yang disampaikan pada film2 disney itu adalah baik2 semua, padahal ada pesan lain yang terkandung.

    Nurhamida Pohan

    April 3, 2014 at 2:50 pm

    • Urgensi membahas tuh gak lantas jadi pembenaran untuk mereka-reka sesuatu yang gak ada lho..

      alderine

      April 3, 2014 at 9:55 pm

  6. berjilbab bukan diperintahkan saat orde baru atau orde lama, tidak juga tahun 1930, tapi jauh sebelum itu, Allah telah memerintahkan kita untuk menutup aurat salah satunya dengan berjilbab.

    Nurhamida Pohan

    April 3, 2014 at 3:00 pm

    • Kalau boleh tahu mbak Nurhamida umurnya berapa? berjilbab sejak kapan? Tahu bagaimana kondisi jilbab di Indonesia pada masa orde baru?

      Jika mbak sudah tahu, saya tanya, bagaimana mungkin 60% pemakai jilbab melepasnya? :)) Yang ada malah nambah beribu-ribu kali lipat. Bersyukur ah.

      alderine

      April 3, 2014 at 9:57 pm

  7. lalu untuk pendapat mbak yang tidak setuju bahwa kesalahan sepenuhnya ada pada wanita boleh saja. Tapi, saya tidak sependapat dengan alasan mbak. Justru jika wanita gak bisa disalahkan dengan alasan bahwa “wanita harus tampil cantik” agar tidak disepelekan laki2, malah menjadi alasan kuat bahwa wanita memang sepenuhnya salah. Emang apa ruginya kita disepelekan karena tidak tampil cantik di depan lelaki yang menyepelakan itu? yang penting kita tetap bersih dan rapi. pikiran-pikiran seperti itulah yang terkadang tersirat dalam film2. menggalakkan pemikiran bahwa “wanita harus tampil cantik, wanita harus pandai bergaya, wanita harus ini dan itu dihadapan semua lelaki”. padahal Islam membatasi siapa saja yang boleh melihat kecantikan kita, kepada siapa kita boleh berdandan untuk tampil cantik, yaitu hanya kepada mahram kita, terkhusus untuk suami kita. Nilai2 itulah yang dicoba orang2 non muslim untuk mengikisnya dari kehidupan muslimah2 sekarang.
    melalui film2 mereka memerangi kita, yaitu perang pemikiran. kalau kita tidak waspada maka kita akan kalah dalam peperangan itu. Dan tulisan kak habib hanyalah sebagai genderang yang mengajak kita untuk bangun bahwa kita sedang diperangi(melalui pemikiran).
    ^_^

    Nurhamida Pohan

    April 3, 2014 at 3:19 pm

    • Saya sepakat sih mbak. Benar bahwa nggak semua lelaki berhak melihat kecantikan kita. Tapi.. Sebenernya yang ingin saya tunjukkan, yang pikirannya sedang dirusak itu bukan hanya wanita tapi juga laki-laki. 🙂

      alderine

      April 3, 2014 at 9:59 pm

  8. Nice Counter ^_^ Yah mungkin pak Habib tadi terlalu terburu menuangkan pikirannya,
    “belum mengendap sudah dituang”
    Masalahnya bahkan dari post ini pun banyak komen yang tergesa meluncur tanpa melihat konteks secara keseluruhan. (mungkin juga kurang paham)
    …dan entah kenapa saya merasa pak Habib dan mbak2 yang komen diatas “bersentuhan” dengan jilbab dan pemikiran Islami (kalau boleh saya sebut begitu) justru baru terjadi akhir2 ini saja, yah kurang dari 15 tahun mungkin, dan juga dalam lingkup keilmuan yang kurang luas

    donyaditya

    April 4, 2014 at 12:23 am

    • Yah jangan sampai orang-orang yang masih puber beragama itu menuangkan hasrat keremajaannya yang menggebu-gebu dengan gak mikir dulu. Jadinya ya potret media agama kita saat ini deh, dengan modal cocok-cocoklogi sana-sini dan polesan, jadi berita.

      alderine

      April 4, 2014 at 1:08 am

  9. loalah, agama yang dipegang sama kok malah pecah gara-gara film amerika. gak baik loh, perpecahan internal. Harusnya kan sama-sama mengingatkan dengan tutur kata yang baik dan hati yang tenang. Membuka pikiran tentang agama dan juga hati. artikel ini sama punya mas habib kan gak tau benar tidaknya di mata Allah, yang mana ilmu mana yang tidak. kelihatannya mungkin benar dibeberapa mata individu, lah dimata Allah? mungkin juga fitnah, tapi dimata Allah? gak ada yang tau, makanya stop perang artikel mbak mas, nanti ada yang senang loh islam pecah. saling mengingatkan 🙂

    kur

    April 7, 2014 at 4:47 pm

    • Yaampuun film amerika cuma 1 dari 3 alasan kok. Lagian saya nggak ngajak perang, cuma mengkritik tulisan. Saya nggak akan pernah mengkritik ajaran Tuhan yang murni, tapi tafsir/interpretasi masing-masing manusia sangat mungkin bias. Kayaknya saya sama mas habib adem ayem aja kok hehehe. Ini bukan perang kok, cuma salah satu cara saya mengingatkan

      alderine

      April 7, 2014 at 10:33 pm

  10. Baguss sih kritikny, tp argumentasiny perlu diperkuat lg, kalau semua yang mba bilang bener itu aja blum bisa patahkan hipotesisnya tulisan yg mbak kritik tadi.

    cari referens lagi dulu aja mba,

    Bhayu

    January 24, 2015 at 2:11 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: