alderine

Sepatah Kata

Peluit Sunyi

leave a comment »

Peluit itu sudah ditiup. Ia menjelma menjadi hempasan udara. Yang sekilas merapat dan merenggang. Membawa kabar ke segala penjuru. Namun tak ada satu manusia pun yang mendengar.

Peluit dengan angin dan logam yang berputar. Memberikan suara gemerincing yang keras dan nyaring. Tapi tetap, malam ini, tidak ada yang mendengar.

Dan manusia kini menunggu dibunyikan peluit itu sambil gelisah. Semakin lama menunggu semakin kehilangan akal. Dan bergerak kian tak tentu arah. Bagai buih buih angin yang tak pernah terkendali. Mengepak badai. Menyemai bencana.

Hanya karena tak dapat (atau mungkin tak cukup ingin), mendengar peluit itu.

Advertisements

Written by Alderine

February 6, 2014 at 2:21 pm

Posted in Prosa Prematur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: