alderine

Sepatah Kata

Archive for February 2014

Kembali

leave a comment »

Di atas pembaringan kapuk, dengan jamur yang lapuk. Tubuh membusuk. Digerogoti idealisme semu yang merampok kesadaran majemuk.

————————————————————

Dalam perjalanan mengorbankan diri, merelakan hidup untuk tergelincir dalam lumpur pekat tak bercahaya.

“Temukan kami sesuatu yang berharga!”

Sesekali jua kembali ke permukaan untuk memberikan hasil temuan itu. Tetapi, apa menariknya bagi yang hidup di daratan, di permukaan. Dengan sofa, ranjang, permadani. Pertanian, peternakan, perdagangan. Permainan. Sejahtera.

Sedang yang berlumuran lumpur. Memberikan temuan yang juga penuh lumpur. Nyatanya tak ada yang bersedia membantu menyemir, mencuci, atau mengurusi barang temuan penuh lumpur.

“Hanya ikan dan udang yang kau bawa. Kami butuh emas! Kami ingin intan!  Kami memerlukan berlian!”

“Tetapi aku sendiri, tanpa penerangan dan bahaya mengancam nyawaku. Hanya udang dan ikan yang sanggup kubawa.”

“Tidak bisa! Kami sudah cukup dengan makanan. Kami sudah memiliki sumber dari segala sumber. Beri kami perhiasan!”

“Aku belum bisa memberi perhiasan, meski kalian sudah cukup dihormati karena dapat membuat perhiasan sendiri.
Lihatlah di negeri sebelah, orang berbondong-bondong berkubang mencari perhiasan. Tentu mereka mendapat banyak. Namun negeri itu ingin mempekerjakan kita agar perhiasan mereka bertambah. Aku tidak akan membiarkan itu.”

“Apa peduli kami?!”

————————————————————

Kembali. Di atas pembaringan senyaman kapuk. Dalam tubuh yang kian menyusut. Idealisme usang itu kian lapuk. Digantikan oleh cahaya yang menyelinap, beringsut, ke dalam dada.

Aku jatuh. Dalam dada ku ada lubang, tanpa kubangan, yang terus menarikku seperti gravitasi. Tidak semakin gelap di dalam. Putih. Semakin terang. Ribuan kilometer. Lebih dalam dari samudera. Menyesakkan.

Lalu aku kembali. Pada dekapanmu, Tuhan kah engkau?

Bandung 9 Februari 2014
bukan kasih yang aku cari.
tapi kebenaran.

Written by Alderine

February 9, 2014 at 4:24 pm

Peluit Sunyi

leave a comment »

Peluit itu sudah ditiup. Ia menjelma menjadi hempasan udara. Yang sekilas merapat dan merenggang. Membawa kabar ke segala penjuru. Namun tak ada satu manusia pun yang mendengar.

Peluit dengan angin dan logam yang berputar. Memberikan suara gemerincing yang keras dan nyaring. Tapi tetap, malam ini, tidak ada yang mendengar.

Dan manusia kini menunggu dibunyikan peluit itu sambil gelisah. Semakin lama menunggu semakin kehilangan akal. Dan bergerak kian tak tentu arah. Bagai buih buih angin yang tak pernah terkendali. Mengepak badai. Menyemai bencana.

Hanya karena tak dapat (atau mungkin tak cukup ingin), mendengar peluit itu.

Written by Alderine

February 6, 2014 at 2:21 pm

Posted in Prosa Prematur