alderine

Sepatah Kata

Rekam

leave a comment »

Dalam setiap peristiwa yang kita lewati bersama. Entah bagaimana ia selalu terekam.

Kita, dimulai dari perkenalan yang dienkripsi dalam bit-bit ASCII, dan perbincangan seputar dunia tempat kita berotasi&berevolusi, masih dengan bit-bit ASCII yang dienkripsi bahasa PHP. Ah, dunia kita yang semu itu, mengenalkan.

Kadang aku melihatmu, dalam bayangan yang nyata dan tegak. Tanpa perbesaran dan pengecilan, hanya jarak yang menjadi perbandingan linear bayanganmu. Dengan jaket merah himpunanmu, di gerbang belakang kampus kita. Kadang dengan sepedamu. Seringkali kau terbenam dalam dimensi suara yang sepenuhnya hanya kau, Tuhan, dan playlist mu yang tahu. Aku membiarkan. Hanya melihat pun cukup, tak perlu ada sapa karena dimensi suara kita terpisah dalam ruang yang berbeda. Ah, masa itu.

Lalu pertemuan tak sengaja itu. Meski diawali kecerobohan, namun tetap bit-bit itu yang membawa kita bertemu. Suaramu dipecah menjadi bit-bit frekuensi digital, ditransmisi, lalu dikembalikan menjadi suara. Mengalun lewat telepon genggam, mengabarkan berita. Lalu membawa kepanikan padaku, yang segera menghampirimu. Ah. Pertemuan pertama kita itu, bukankah Tuhan yang memberikan skenario?

Lalu kita sampai pada waktu di mana kita mencipta ruang bagi kita sendiri. Yang tak terdefinisi oleh dimensi jarak sama sekali. Hanya terjemahan dari sinyal-sinyal elektris, yang melaju secepat cahaya. Mencipta bayang yang seakan dekat, menemukanmu dalam chatbox yahoo messengerku. Atau kotak masuk smsku. Juga mention twitterku.

Tempatku berotasi&berevolusi. Menjelma menjadi sebentuk rasa yang disampaikan terbata. Memaksa kita menjadi lebih dekat lagi pada dunia yang sebenarnya. Tuhan memberi kita waktu di mana kita bisa bersama.

Di waktu kita bersama itulah aku mulai mengumpulkan remah-remah digital itu. Membuka kembali history chat kita. Melihat dan menertawai pertemanan kita. Membaca lagi pesan singkat antara kita. Dan aku takut, jika berpuluh tahun waktu terlewati nanti, remah-remah digital itu hilang. Tak berbekas dalam hati, ingatan. Maka kusemat bit data digital itu menjadi sebuah memori dalam hati.

Setelah waktu berjalan, banyak hal yang telah kita lewati bersama. Tak ada bit data yang tahu, hanya aku menuangkan memori itu, atau kertas-kertas catatan yang berserakan. Hanya Tuhan, aku dan kau yang menjadi saksi seutuhnya. Kita berotasi&berevolusi tidak lagi pada bit data, namun juga pada dinding, lantai, langit kota, hujan, payung, tanah, pepohonan, kursi tempat kita duduk, meja tempat kita menulis, lampu-lampu dan lilin, hingga pendingin ruangan. Tak ada yang pernah menjadi saksi penuh, mereka hanya menonton secuplik dari adegan kita berdua.

Tapi, kau tahu, sayang, meski tak ada bit data yang tahu, jalan panjang yang pernah kita lewati itu, serta tiap nada dan gerak gerik yang kita lakukan bersama, terekam. Dalam memori yang Tuhan beri padaku. Dalam rekam yang mungkin akan lenyap dimakan waktu, digerus momen-momen kita yang lebih baru.

Kini ruang kita tak lagi sama dalam dimensi jarak. Kini kita mencipta ruang lagi dalam bit-bit data, mengatasi jarak. Kini kau selalu hadir dekat, dalam telepon genggam yang tersinkronisasi dengan semua akun. Kini, aku masih juga merekam, rasa kita dalam enkripsi digital.

Sayang, bagiku, digital-atau nyata, hadirmu sangat berarti.

Bandung, 30 Oktober 2013
Menyampaikannya pun dalam digital, bukan?

Advertisements

Written by Alderine

October 30, 2013 at 4:42 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: