alderine

Sepatah Kata

Sepatu

leave a comment »

Hampir setahun yang lalu, Bapak membelikan aku sepatu. Sepatu manis berwarna krem bersemu kemerahan seperti warna buah apricot. Dengan hak tipis sekitar 4 centimeter. Dan tidak ada pernak pernik berlebihan, sederhana. Itu yang membuatku suka.

Memilih sepatu ini membutuhkan perjuangan. Toko sepatu wanita terbesar dan terlengkap di kotaku, aku mengitarinya sekitar 3 jam hingga akhirnya menentukan pilihan. Dari segi kenyamanan, mencari yang berbahan kulit, bukan plastik agar tidak iritasi. Lalu hak tidak boleh terlalu tinggi agar aku tidak varises dan masih sanggup berjalan. Tampilannya harus sederhana, aku tak suka yang mencolok. Warnanya pun harus lembut dan cocok dipadukan dengan berbagai busana. Akhirnya terpilihlah dia..

image

Aku bingung mengapa bapak mengajakku membeli sepatu yang seperti itu. Sehari-hariku lebih cenderung tomboy, dengan sneakers converse yang nyaman untuk beraktifitas dan kaos kaki tebal. Bapak bilang, itu untuk digunakan ke pesta, supaya “mantesi”. Baiklah, aku menyimpannya di rumah dan akan menggunakannya di saat yang cocok.

Lalu tiba saat itu, saat digunakan pertama kali. Terasa lain, karena tidak biasa menggunakan. Tapi pujian mengalir dari Bapak dan Ibu. Setidaknya aku menyenangkan mereka karena (akhirnya) berpenampilan pantas. Tapi tidak dengan orang lain, biasa saja. Sepatu seperti itu terlalu umum, terlalu biasa digunakan. Jadi aku tidak merasa penolakan. Tetapi kakiku tetap merasa asing.

Setelah kugunakan, sepatu itu kusimpan rapi di rumah Jogja, rumah warisan nenek yang kini menjadi hak milik penuh Bapak. Agar nanti bila ada acara lain suatu waktu dapat kugunakan lagi.

8 bulan kemudian, saat lebaran. Sepatu itu hilang.

Bapak bilang, rumah ini memang sedang sering kehilangan. Rupanya orang masih merasa memiliki rumah itu sebagai rumah nenek, maka barang didalamnya banyak diambil dan dibawa pulang, dijadikan kepunyaan mereka. Termasuk barang pribadi milik bapak ibu dan keluargaku.

Aku tidak terima. Aku marah karena sepatu itu satu satunya yang Bapak berikan padaku.

Tetapi Bapak hanya berkata, dengan bijaksananya,

Relakan saja dek. Juga tidak berkurang kecantikan adek tanpa sepatu itu. Juga tidak bertambah kecantikan adek saat pakai sepatu itu kalau tujuannya pamer. Maksud Bapak sepatu itu cuma untuk menghargai, supaya rapi. Selama adek hatinya bersih, pakai baju yang rapi pun sudah terlihat anggun.

Dan aku terharu :””)

Agustus 2013,
Saat adek mulai sayang Bapak.

Advertisements

Written by Alderine

August 12, 2013 at 3:13 pm

Posted in Seputar Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: