alderine

Sepatah Kata

Archive for May 2013

Menyikapi Kesempatan, Memanfaatkan Batasan.

leave a comment »

Tulisan ini sedikit banyak terinspirasi dari tulisan Bapak Rhenald Kasali mengenai PT. Arun LNG, di blog RumahPerubahan.com. Di tulisan itu beliau bercerita tentang semangatnya mengubah keadaan dan melihat kesempatan serta potensi yang dimiliki industri sebesar Arun. Namun itu semua terhenti dan mogok ketika melihat mental para pegawai yang sudah anjlok serta Pemerintah yang menggunakan alur berpikir constraint-based.

Hal yang sama pernah saya alami. Saat Pemilu Raya KM-ITB 2013 dinyatakan tidak sah akibat diskualifikasi kedua calon Ketua Kabinet KM-ITB 2013, saya baru 2 minggu dilantik menjadi Senator Utusan Lembaga dari HMFT-ITB. Menanggapi itu Sidang Paripurna Kongres KM-ITB menetapkan bahwa Pemilu Raya KM-ITB 2013 tidak sah, mengikuti prosedur yang telah disepakati bersama. Putusan tersebut dituangkan dalam Tap 025 tahun 2013.

Namun saya tidak mengesahkan Tap tersebut. Mempertimbangkan suara lembaga yang saya bawa dan akibat yang ditimbulkan dari putusan tersebut
Hati nurani saya melihat masalah yang besar akibat sebuah sms gelap yang berisi pemfitnahan yang beredar dari tim salah satu calon. Namun mengingat performa kedua calon selama Pemilu yang sangat baik dan partisipasi massa yang mencapai 8953, lebih dari 2/3 massa KM-ITB yang aktif, akan terdapat masalah baru bila Pemilu Raya dianggap tidak sah.

Dan Kongres KM-ITB tidak segera menyelesaikan permasalahan ini. Terlalu banyak rapat tidak penting. Terlalu banyak pertimbangan. Dan mengulur-ulur waktu sebulan lebih hanya untuk mempertimbangkan. Kesadaran massa semakin menurun mendekati minggu ujian akhir. Dan Kongres saat itu merasa bahwa Pemilu ulang tidak mungkin dilakukan kembali, mempertimbangkan hal-hal remeh yang lagi-lagi menghabiskan waktu.

Lalu kami, angkatan yang memang baru masuk Kongres, yang diberi mandat untuk memegang kelangsungan Referendum KM-ITB 2013. Dan secara tidak sengaja pula saya menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum di Kongres KM-ITB, yang bertanggung jawab sepenuhnya atas Referendum.

Hati nurani saya sebagai penanggung jawab pelaksana masih tidak setuju dengan Referendum. Karena sistem KM-ITB yang demikian menganut parlementer-presidensial. Memang kami sebagai Utusan Lembaga memiliki legitimasi untuk memilih Ketua Kabinet, tetapi secara tataran nilai, kami akan menyalahi falsafah dasar organisasi bila melakukan hal tersebut.

Dan keajaiban terjadi. Saat Sidang Istimewa Kongres kami sepakat untuk memilih metode langsung, serta menghapus opsi-opsi hitung kotak, presidium, maupun opsi lain. Atau dengan kata lain, saat referendum dilakukan pemilihan ulang dengan pilihan terbatas pada calon. Saat itu saya sebagai KPU segera menyanggupi mengadakan referendum dalam 2 minggu.

Tetapi ternyata keputusan Sidang Istimewa Kongres masih dipertanyakan massa. Mereka pun masih pesimis dengan partisipasi massa dalam referendum di waktu yang cukup singkat. Kekhawatiran muncul di sana-sini.

Bukan hanya itu, ‘birokrat-birokrat lupa diri’ pun ada pula yang berbisik di belakang. Mereka menyatakan kekecewaan kalau mereka ingin kami sebagai Kongres menunjukkan taringnya, menunjukkan sejauh apa kekuasaan Kongres. Ah dunia politik dan birokrat memang terlalu hitam.

Masalah dan kelelahan memang menyertai hingga akhir massa Referendum. Semuanya terbayarkan, kekhawatiran massa bahwa pemilih tidak mencapai 1/3 terhapuskan. Pertimbangan berlarut-larut bahwa Pemilihan Ulang tidak mungkin dilakukan juga dipatahkan.

Memang saya tidak memberi celah untuk menunjukkan se-powerful apa kami sebagai Kongres. Se berkuasa apa kami terhadap kampus.

Tapi saya telah menjunjung tinggi tataran nilai. Dan saya bahagia karena saya menjalankan KM-ITB dengan baik dan seharusnya demikian.

Terima kasih kepada 5800an massa KM-ITB yang berpartisipasi dalam Referendum KM-ITB 2013. Terima kasih teman-teman Komisi Pemilihan Umum. Terima kasih teman-teman Kongres KM-ITB 2013/2014.

Maaf bila terlalu banyak kesalahan dan keterbatasan yang saya miliki. 🙂

Advertisements

Written by Alderine

May 19, 2013 at 6:33 am

Posted in Kemahasiswaan

Menyatu

with 2 comments

Kita perlu belajar dari air agar mengerti untuk bekerja sama sebagai satu kesatuan. Singkirkanlah identitas kehidrogenan ataupun keoksigenan, dengan itu semua kita tak pernah menjadi satu. Dengan semua arogansi itu setetes air pun tak akan pernah tercipta di alam semesta ini.

Sayang, marilah kita hapus ego itu diantara kita. Biar kau oksigen yang dihirup milyaran manusia dan aku hanyalah hidrogen yang melayang-layang. Biarlah sayang, jadilah kita air yang lebih mulia. Jadilah kita air yang menumpaskan dahaga. Jadilah kita air yang meneduhkan langit dan pepohonan. Jadilah kita air yang menyejukkan.

Hilangkan arogansi keakuan diantara kita sayang. Biar kita tahu saat waktu pun dapat terlipat seperti ruang, saat kita menembus batas energi dan mengerti semua tak relevan lagi. Biar sayang jangan pedulikan hal remeh itu agar kita dapat mengejar kebenaran hakiki.

Sayang mungkin masih ada ragu saat kita mengingat perjalanan kita sampai di sini. Sayang mungkin masih ada dendam waktu dulu yang tak sempat terbalaskan. Biarkanlah sayang. Maafkanlah sayang. Jangan membelenggu diri menggapai masa dengan yang telah lalu. Biar hati melangkah lebih ringan, biar kita menjejak lebih cepat.

Tentang perjalanan menuju kemuliaan, kita telah melihat banyak hal yang disalahartikan dengan kemuliaan semu. Ah. Padahal identitas ku sebagai hidrogen pun hanya titipan, entah bila suatu saat aku bertemu pasangan inti lainnya maka Tuhan mengubah takdirku kah? Semu lah semua ini hanya kemuliaan semu. Padahal identitas ini hanya titipan, agar kita menemukan jalan masing-masing.

Dalam fasa gas ku sebagai hidrogen aku bergerak dalam kesendirian diantara chaos intensitas tinggi yang dinamik. Aku hanya menyendiri tanpa pernah mencoba mengajak mereka berhenti mencemooh. Dalam kesendirian mencari fragmen-fragmen diri yang mungkin terpisah. Lalu aku bertemu kau, kepingan yang selama ini kucari.

Mungkin kita berbeda sayang, meski dunia menghendaki kita untuk tetap sama. Lalu mengapa kita mesti bersatu menjadi air? Tak cukupkah kita tetap menjadi diri sendiri dan berfungsi sebagaimana kita sendiri?

Written by Alderine

May 8, 2013 at 9:24 pm

Posted in Prosa Prematur