alderine

Sepatah Kata

My Childhood Diary: Part2 – Daily Journal

leave a comment »

Dan setelah bernostalgia dengan cita-cita, saya membuka halaman-halaman berikutnya. Jurnal harian saya. Isinya yaa ada tentang ngegampar teman yang lagi ngerjain orang lain, ada tentang marah sama orang tua, tapi yang dominan tentang laporan cuaca.

Pagi ini langit cerah. Di sebelah barat langit biru keemasan, awan lembut sedikit demi sedikit terbang mirip kapas. Tapi di timur abu-abu dominan. Aneh, nggak biasanya. Mungkin nanti sore hujan. Ayo bawa payung, mudah-mudahan siang pas pulang sekolah belum hujan.

Itu tulisan April 2001, saya kelas 2 SD. Masuk sekolah jam 10, pulang jam 1 siang. Bahagia banget itu sekolah isinya main-main aja hahaha. Atau tulisan yang ini.

Hari ini Selasa, sehabis olah raga. Dua hari lagi majalah Bobo datang. Jadi kado ulang tahun lagi. Entah kenapa aku sering ulang tahun hari Kamis, ya. Sekarang sudah masuk musim hujan. Mudah-mudahan Majalah dan Koran tetap kering, kasihan akang yang mengantar koran harus sedia plastik.

Siang ini sebelum ke rumah aku duduk di pagar dekat tiang basket. Seperti biasa di musim hujan angin datang dari selatan. Awan datang menggulung-gulung, tebal, abu-abu menghitam, gelap. Kadang-kadang ada petir, dan awan-awan itu menyala seperti diberi lampu, tapi cuma sebentar. Kalau sudah begitu mama pasti takut, maksa adek pulang. Mama selalu takut petir. Tapi aku masih pengen nonton awan hujan, jadi aku duduk di teras yang menghadap barat, dan masih bisa melihat ke arah selatan tempat awan-awan terbentuk. Sebenarnya dari mana awan datang? Apa selalu dari gunung? Apa di daerah yang tidak punya gunung, seperti gurun pasir, nggak punya awan?

Semasa  kecil, dari TK sampai setidaknya SMP, aku paling suka melihat langit. Langit di rumah jauh berbeda dengan langit di sekolah. Langit di sekolah terasa jauh, tinggi, dan luas menghampar, tapi nggak bisa diperhatikan proses pembentukan awan hujannya. Sedangkan langit di rumah itu rasanya dekat dengan kepala, banyak petir (daerah Bogor Barat itu subur petirnya), tapi jelas arah mata angin dan proses pembentukan awannya. Aneh ya. Saat di sekolah yang notabene berada di daerah Bogor tengah, walaupun langit luas, tapi pemandangan terhalang gedung-gedung, dan tiba-tiba sudah mendung.

 

Saat akan hujan, daerah yang paling pertama mendung adalah daerah Selatan, ditambah daerah Barat jika musim penghujan. Saat musim kemarau angin bertiup dari arah timur sampai selatan. Saat musim penghujan angin akan bertiup dari arah selatan sampai barat. Awan pembentuk hujan berbeda dengan awan-awan lainnya. Awan bentuknya bermacam-macam, ada yang tipis dan transparan seperti kapuk yang diterbangkan angin. Ada yang tebal namun kecil-kecil seperti bola-bola. Sedang yang tebal dan luas, dia lah awan pembentuk hujan.

 

 

Awan pembentuk hujan awalnya kecil, mungkin jika dilihat dari bawah ia hanya sebesar rumah. Namun lama kelamaan ia menghisap awan-awan lainnya. Awan hujan seperti punya magnet untuk menarik awan-awan kecil dan lemah di sekitarnya, lalu mengubahnya menjadi awan hujan.Awan-awan kecil yang tidak tahu apa-apa tertiup angin menuju awan hujan. Awalnya ia putih, namun lama-lama mengabu. Kadang terjadi juga yang lain, saat awan kecil sedang dalam perjalanan menuju awan hujan yang besar, ia telah berubah menjadi abu-abu gelap, dan menarik juga awan-awan di sekelilingnya. Semakin lama semakin besar, semakin gelap. Awan hujan yang tadinya sebesar rumah, mungkin kini sudah menutupi seluruh kota. Awan itu sangat besar, sangat tebal.

 

Saat awan terbentuk dari daerah Selatan, ia akan menarik-narik awan lain, semakin luas hingga daerah Selatan dan Barat tertutup. Lalu di Barat turun hujan, mungkin di Selatan juga. Beberapa saat kemudian dari Barat akan bertiup angin menuju Timur dan Utara, mengguyurkan hujan yang merata ke seluruh kota. Itulah tipikal hujan yang paling sering turun di kota ku, bermula dari Selatan atau Barat.

Di tahun-tahun pertama pengamatanku terhadap langit, yang dilakukan secara nggak sadar itu aku sering menghayal. Sebenarnya sekuat apa awan hujan, sampai dia bisa menarik awan-awan lain? Mungkin kalau aku lagi tersesat melayang-layang, aku bakal terhisap, dan masuk ke pusat awan sampai akhirnya tercerai berai karena gaya tarik yang begitu besar. Hahaha imajinasi.

Dan sejujurnya aku merindukan saat-saat itu, saat aku masih punya banyak waktu bebas untuk mengamati langit. Sekarang di Bandung, sudah 2,5 tahun, bahkan aku belum bisa mengamati polanya. Terlalu banyak gunung di setiap arah mata angin. Awan datang tidak pasti dari mana arahnya. Angin pun tidak bisa diprediksi.. Bagaimana aku bisa bersahabat dengan langit bila tidak mengertinya?

Advertisements

Written by Alderine

November 17, 2012 at 7:17 am

Posted in Seputar Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: