alderine

Sepatah Kata

Archive for November 2012

Chris Cleave – The Other Hand (2008)

leave a comment »

The Other Hand - Chris Cleave

The Other Hand – Chris Cleave Cover

Tidak ada yang istimewa dari pertemuan dengan buku ini, karena buku ini merupakan hadiah dari kawan saya Avi Melati untuk ulang tahun ke-19 saya. Mungkin tidak ada chemistry seperti pertama kali bertemu dia yang disuka, namun lebih mirip dijodohkan. Tapi buku ini istimewa.

Saya membacanya seperti membaca buku aforisma, membaca paragraf demi paragraf perlahan-lahan. Kemudian menutupnya, dan merenung. Lalu melanjutkan membaca lagi. Begitu terus. Dengan sabar. Bahkan tak terburu-buru untuk mengetahui jalan ceritanya. Bahkan saat memulai menulis review ini, buku ini belum selesai dibaca. 🙂

Most days I wish I was a British pound coin instead of an African gril. Everyone would be pleased to see me coming. Maybe I would visit with you for the weekend and then suddenly, because I am fickle like that, I would visit with the man from the cornershop instead — but you would not be sad because you would be eating cinnamon bun, or drinking a cold Coca Cola from the can, and you would never think of me again. We would be happy, like lovers who met on holiday and forgot each other’s names.

Yap, itulah paragraf pembuka dari novel ini. Dapat langsung ditebak tema buku ini adalah tentang ras kulit hitam. Lebih dari itu. Buku ini menceritakan segalanya. Tentang oil companies yang memburu seluruh penduduk daerah delta sungai di Nigeria untuk dibunuh. Tentang sepasang suami istri jurnalis di harian Times dan direktur majalah wanita.

Dengan cara bertutur yang berganti-ganti sudut pandang di tiap chapter, Cleave menyiapkan plot yang sangat-sangat menarik. Yang memberi kejutan di setiap chapter. Namun dengan plotnya yang penuh kejutan dan cara bertutur yang energetic dan berdaya tarik itu, tetap saja cara bertuturnya yang lebih menarik buat saya.

Membaca setiap chapter dalam buku ini bagi saya sangat memaksa perenungan. Chapter 2 mengajak saya mengingat saudara-saudara sebangsa yang mungkin mengalami hal yang sama. Chapter 3 mengajak saya untuk memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di masa depan saya, dan mengganggu mimpi indah saya. Chapter 4,5,6 dan seterusnya… Membuat saya memeriksa kembali definisi-definisi yang telah saya buat dalam hidup. Tentang masa depan. Tentang mimpi. Tentang kebebasan.

Overall, thanks to Avi Melati, really a great gift in my 19th birthday 🙂

Written by Alderine

November 18, 2012 at 8:12 am

Posted in Buku dan Sastra

Victor Hugo – Les Miserables (1862)

leave a comment »

Cover buku yang saya baca

Buku ini saya baca selain karena ada di list 1001 Books You Must Read Before You Die, juga karena kakak saya punya. Saya baru menapaki novel-novel dalam bahasa Inggris sejak SMA, sedangkan kakak saya memiliki buku ini sejak dia SMA, saat saya masih kelas 4 SD. Dan baru berjodoh lagi sekarang 🙂

Victor Hugo membuat buku ini dalam bahasa Prancis, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Versi Bahasa Inggris inilah yang saya baca. Meskipun sudah diterjemahkan, taste dari sastranya tidak hilang, setidaknya begitu yang saya dapatkan dari membaca buku versi ini.

Saya ingin meralat penggunaan kata ‘diterjemahkan’ pada paragraf sebelumnya. Karena taste sastra yang masih kuat melekat, saya rasa Norman Denny bukan hanya sekedar menerjemahkan. Mengalihbahasakan, atau mungkin mentransliterasikan, karena rasa sastranya masih kuat melekat.

Hugo’s epic tale of social injustices, politics, heroism, and love is a towering work of Western literature.

Begitulah yang ditulis di cover belakang buku ini.

Buku ini memiliki banyak sekali plot cerita. Berbagai plot tersebut saling sambung-menyambung seperti novel yang berkelanjutan. Bahasa yang digunakan sangat indah, meskipun dalam bahasa lain, dapat membuat saya membayangkan keseluruhan cerita dalam sebuah drama di kepala.

Dengan plot yang bermacam-macam dan memiliki sangat banyak twist, buku ini membuat saya tidak sabar untuk segera mengetahui akan di bawa ke mana cerita ini. Alhasil saya menyelesaikannya dalam waktu yang relatif singkat, 3 jam :p

Pelajaran utama yang saya dapatkan dalam buku ini adalah, kita tidak berhak menilai seorang manusia, berdasarkan masa lalunya, karena manusia bisa berubah. Selain itu, sesulit apapun kita harus tetap berbuat baik, karena manusia diciptakan untuk berbuat baik. 😀

Berkenalanlah dengan Jean Valjean, Fantine, dan Cossette, maka anda akan setuju dengan paragraf sebelum ini 🙂

Written by Alderine

November 17, 2012 at 9:05 am

Posted in Buku dan Sastra

My Childhood Diary: Part2 – Daily Journal

leave a comment »

Dan setelah bernostalgia dengan cita-cita, saya membuka halaman-halaman berikutnya. Jurnal harian saya. Isinya yaa ada tentang ngegampar teman yang lagi ngerjain orang lain, ada tentang marah sama orang tua, tapi yang dominan tentang laporan cuaca.

Pagi ini langit cerah. Di sebelah barat langit biru keemasan, awan lembut sedikit demi sedikit terbang mirip kapas. Tapi di timur abu-abu dominan. Aneh, nggak biasanya. Mungkin nanti sore hujan. Ayo bawa payung, mudah-mudahan siang pas pulang sekolah belum hujan.

Itu tulisan April 2001, saya kelas 2 SD. Masuk sekolah jam 10, pulang jam 1 siang. Bahagia banget itu sekolah isinya main-main aja hahaha. Atau tulisan yang ini.

Hari ini Selasa, sehabis olah raga. Dua hari lagi majalah Bobo datang. Jadi kado ulang tahun lagi. Entah kenapa aku sering ulang tahun hari Kamis, ya. Sekarang sudah masuk musim hujan. Mudah-mudahan Majalah dan Koran tetap kering, kasihan akang yang mengantar koran harus sedia plastik.

Siang ini sebelum ke rumah aku duduk di pagar dekat tiang basket. Seperti biasa di musim hujan angin datang dari selatan. Awan datang menggulung-gulung, tebal, abu-abu menghitam, gelap. Kadang-kadang ada petir, dan awan-awan itu menyala seperti diberi lampu, tapi cuma sebentar. Kalau sudah begitu mama pasti takut, maksa adek pulang. Mama selalu takut petir. Tapi aku masih pengen nonton awan hujan, jadi aku duduk di teras yang menghadap barat, dan masih bisa melihat ke arah selatan tempat awan-awan terbentuk. Sebenarnya dari mana awan datang? Apa selalu dari gunung? Apa di daerah yang tidak punya gunung, seperti gurun pasir, nggak punya awan?

Semasa  kecil, dari TK sampai setidaknya SMP, aku paling suka melihat langit. Langit di rumah jauh berbeda dengan langit di sekolah. Langit di sekolah terasa jauh, tinggi, dan luas menghampar, tapi nggak bisa diperhatikan proses pembentukan awan hujannya. Sedangkan langit di rumah itu rasanya dekat dengan kepala, banyak petir (daerah Bogor Barat itu subur petirnya), tapi jelas arah mata angin dan proses pembentukan awannya. Aneh ya. Saat di sekolah yang notabene berada di daerah Bogor tengah, walaupun langit luas, tapi pemandangan terhalang gedung-gedung, dan tiba-tiba sudah mendung.

 

Saat akan hujan, daerah yang paling pertama mendung adalah daerah Selatan, ditambah daerah Barat jika musim penghujan. Saat musim kemarau angin bertiup dari arah timur sampai selatan. Saat musim penghujan angin akan bertiup dari arah selatan sampai barat. Awan pembentuk hujan berbeda dengan awan-awan lainnya. Awan bentuknya bermacam-macam, ada yang tipis dan transparan seperti kapuk yang diterbangkan angin. Ada yang tebal namun kecil-kecil seperti bola-bola. Sedang yang tebal dan luas, dia lah awan pembentuk hujan.

 

 

Awan pembentuk hujan awalnya kecil, mungkin jika dilihat dari bawah ia hanya sebesar rumah. Namun lama kelamaan ia menghisap awan-awan lainnya. Awan hujan seperti punya magnet untuk menarik awan-awan kecil dan lemah di sekitarnya, lalu mengubahnya menjadi awan hujan.Awan-awan kecil yang tidak tahu apa-apa tertiup angin menuju awan hujan. Awalnya ia putih, namun lama-lama mengabu. Kadang terjadi juga yang lain, saat awan kecil sedang dalam perjalanan menuju awan hujan yang besar, ia telah berubah menjadi abu-abu gelap, dan menarik juga awan-awan di sekelilingnya. Semakin lama semakin besar, semakin gelap. Awan hujan yang tadinya sebesar rumah, mungkin kini sudah menutupi seluruh kota. Awan itu sangat besar, sangat tebal.

 

Saat awan terbentuk dari daerah Selatan, ia akan menarik-narik awan lain, semakin luas hingga daerah Selatan dan Barat tertutup. Lalu di Barat turun hujan, mungkin di Selatan juga. Beberapa saat kemudian dari Barat akan bertiup angin menuju Timur dan Utara, mengguyurkan hujan yang merata ke seluruh kota. Itulah tipikal hujan yang paling sering turun di kota ku, bermula dari Selatan atau Barat.

Di tahun-tahun pertama pengamatanku terhadap langit, yang dilakukan secara nggak sadar itu aku sering menghayal. Sebenarnya sekuat apa awan hujan, sampai dia bisa menarik awan-awan lain? Mungkin kalau aku lagi tersesat melayang-layang, aku bakal terhisap, dan masuk ke pusat awan sampai akhirnya tercerai berai karena gaya tarik yang begitu besar. Hahaha imajinasi.

Dan sejujurnya aku merindukan saat-saat itu, saat aku masih punya banyak waktu bebas untuk mengamati langit. Sekarang di Bandung, sudah 2,5 tahun, bahkan aku belum bisa mengamati polanya. Terlalu banyak gunung di setiap arah mata angin. Awan datang tidak pasti dari mana arahnya. Angin pun tidak bisa diprediksi.. Bagaimana aku bisa bersahabat dengan langit bila tidak mengertinya?

Written by Alderine

November 17, 2012 at 7:17 am

Posted in Seputar Saya

My Childhood Diary: Part1 – Dreams

leave a comment »

Kali ini pulang karena dapat very-very long weekend, dari rabu siang terakhir kuliah jam 12, sampai kuliah lagi hari selasa pagi jam 7. Very-very long, isnt it? Selain itu mama bilang mau masak spesial karena saya ulang tahun ke-19. Okay, demi penghematan uang 5 hari dan masakan mama, apa sih yang nggak 🙂

Selalu ada saja hal baru yang menginspirasi saat pulang ke Bogor. Liburan ini bongkar-bongkar lemari dan membuka buku harian yang pertama, kelas 2 SD. Membaca halaman pertama membuat saya tertegun dan mem-flashback perjalanan cita-cita saya.

Alderine Kuswardhani
SD Negeri Polisi 1 Bogor – SMP Negeri 1 Bogor – SMA Negeri 1 Bogor
Teknik Geologi / GeoFisika – Institut Teknologi Bandung

Yah untungnya sekarang nggak jauh-jauh amat, sekarang ada di sini. Teknik (Geo)Fisika Institut Teknologi Bandung. Nggak jauh-jauh amat dari nama, dari isi kuliah mah jauuh hahaha.

Tentang cita-cita, umumnya seorang anak kecil memilikinya, bukan?

Cita-citaku yang pertama adalah seorang vulkanolog. Dan bertahan paling lama, setidaknya hingga aku SMP kelas 2 (atau anak sekarang bilang kelas 8). Sejujurnya mungkin setelah dipikir-pikir lagi, cita-cita ini sangat terpengaruh dari pekerjaan ayah.

Ayah seorang Forestry Engineer, atau insinyur kehutanan. Fokus di bagian research, teknologi perbenihan (seeding technology). Doctoralnya di bioengineering, rekayasa benih. Menarik ya, ayah saya benci fisika dan matematika, tapi saya malah di jurusan yang isinya 2 hal tersebut.

Bukan bidangnya yang membuat saya bercita-cita menjadi vulkanolog. Tapi bagaimana ia bekerja. Dari hutan yang satu ke hutan yang lain, mengumpulkan benih. Lalu menganalisis di lab, mencoba membuat prototype tumbuhan di kebun belakang kantornya, dan kembali lagi ke hutan, menyemai benih-benih. Kelihatannya asik. Dan persepsi saya tentang bagaimana seorang vulkanolog bekerja pun demikian.

Seorang vulkanolog pergi ke area kawah aktif. Ke area pegunungan yang erupsinya efusif. Menganalisa lapangan, sejauh mana batuan terhambur ke luar. Membawa beberapa sampel batuan untuk dianalisis kandungannya, lalu mencari tahu dari lapisan mana ia berasal. Dan kemudian mensimulasikan lagi, bagaimana erupsi terjadi dari berbagai sudut pandang. Setidaknya itu yang didapat dari menonton acara televisi di TVRI. Seems very cool to me.

Selain karena caranya bekerja, saya juga suka vulkanologi karena rumah saya di Bogor. Di daerah timur laut ada Gunung Putri. Geser lagi ke timur ada Gunung Gede-Pangrango yang menjulang dari timur laut sampai tenggara. Di sebelah selatan, yang sangat jelas terlihat dari rumah ada Gunung Salak, dengan Gunung Halimun di sebelah Barat Daya. Di dekat rumah saya sendiri, daerah Jasinga, 80 kilometer dari rumah (dekat karena dulu sama-sama Kabupaten Bogor Barat, jarak sih jangan ditanya), ada Gunung Bunder. Nggak likely Gunung sih mungkin lebih mirip bukit.

Kita hidup di bumi ini, tentu kita harus mengenal bumi ini. Dan bersahabat dengan bumi ini, bukan menaklukkannya. Itu pesan mama. Mama juga suka berkebun. Dan daerah rumah saya, daerah Bogor Barat, bukanlah daerah kota (dulu). Belakang rumah ada sungai sepinggang yang saaangat jernih, dan sawah berhektar-hektar yang sekarang sudah jadi perumahan. 😦 Dan daerah Kabupaten Bogor Barat, dari Ciampea sampai perbatasan dengan Provinsi Banten, sekarang masih hutan yang belum terjamah orang kota. Tapi mungkin untuk illegal logging saya nggak bisa jamin, karena pohon-pohon di sana banyak yang dijual. Kata ayah, satu pohon bisa jadi 3 rumah!

Dengan latar masa kecil yang begitu, saya sangat ingin menjadi seorang vulkanolog. Be a mother of earth. Mengabdi pada Ibu pertiwi.

Namun sayang, restu ayah menghalangi. Dua alasan. Yang pertama, karena ia tak ingin anaknya merusak bumi dengan bekerja di perusahaan tambang. Untuk alasan ini saya masih punya argumen, karena saya ingin di area vulkanologi, bukan mineralogi. Alasan kedua, karena saya perempuan. Tak seharusnya pergi berbulan-bulan meninggalkan rumah. Untuk alasan ini saya tak berkutik, apalagi? Ya sudahlah.

Setelah itu saya masih melewati fase-fase cita-cita transisi. Menjadi guru fisika. Nggak boleh juga, walaupun yang ini masih bisa diusahakan. Menjadi astronom. Nggak boleh juga, susah cari kerja katanya. Lalu yang sekarang. Pembangkit listrik, uap, geothermal, dan gas alam. 4 hal itu passion saya saat ini. 4 hal itu yang mengantar saya ke Fakultas Teknologi Industri. Mempertimbangkan 2 jurusan, Teknik Kimia dan Fisika Teknik. Dan akhirnya saya memilih Fisika Teknik. Setelah bimbang ingin kesana kemari.  Dengan lobby-lobby pada ayah yang entah sangat sulit sekali.

Namun Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Memberi jalan agar aku bisa memilih yang benar-benar aku inginkan. Instrumentasi. Begitu luas bidang yang menggunakan instrumen, tentu aku bisa pergi ke manapun yang aku inginkan.
Mudah-mudahan, aku mendapat apa yang terbaik untukku, dan orang-orang sekitarku. Amin 🙂

Written by Alderine

November 17, 2012 at 3:40 am

Posted in Seputar Saya

leave a comment »

“Ketika Indonesia, hanya satu-satunya kata yang bisa mereka eja…”
Pidato kapten Rachmat Cahyono Lasama, 9 November 2012 dalam menutup Upacara Bendera HMFT-ITB dalam rangka memperingati hari pahlawan.

kacakusam

Masa kampus, mahasiswa ITB, Pemuda-pemudi Indonesia

Esok  hari adalah hari peringatan setiap jasa, keringat dan darah anak negri yang rela berkorban membangun bangsa. Bangsa Indonesia.

Tanah tempat kita berpijak. Rumah kita bernaung.

Sejak awal Indonesia ini tak pernah sepi dari kisah kepahlawanan, dan sungguh tak akan pernah sepi.

67 tahun yang lalu, saat kemerdekaan yang telah diraih oleh para pahlawan diguncang kembali oleh penjajah, NICA, dan Inggris. Tak gentar pemuda pemudi Indonesia mempertahankannya.

Jendral Soedirman dalam Pertempuran Ambarawa

Muhammad Toha yang rela mengorbankan dirinya untuk mempertahankan pertiwi dalam Bandung lautan api

Bung Tomo dalam pertempuran Surabaya

200.000 penduduk bandung yang rela membakar rumahnya sendiri

Rakyat Jogja dalam Penyerbuan Kotabaru Yogyakarta

Pertempuran Medan Arena

Dan Pertempuran 5 hari di semarang

Nilai-nilai itu. Nilai yang dibawa oleh para pahlawan yang telah mendahului kita tidak berakhir pada 67 tahun yang lalu. Tapi berlanjut hingga sekarang.

Wahai massa kampus, mahasiswa  ITB, pewaris kepahlawanan.

View original post 347 more words

Written by Alderine

November 16, 2012 at 12:18 pm

Posted in Kemahasiswaan