alderine

Sepatah Kata

Archive for October 2012

Time Heals Every Wound.

leave a comment »

Ada sebuah frasa paling menarik yang pernah saya dengar. Berulang kali. Dari buku, yang terakhir saya baca dari Andrea Hirata, Cinta Dalam Gelas. Dari film, A Moment To Remember. Juga dari kawan dan rekan-rekan. Sangat tak asing, dan terdengar berulang-ulang.

Waktu menyembuhkan segalanya.

Aku percaya itu. Waktu menyembuhkan segalanya, selama kita mau berusaha.

Tapi terkadang waktu gagal.

Waktu gagal mengobati saat luka tak sengaja terkoyak kembali, meski sekuat apapun aku berusaha menutupi. Waktu harus datang perlahan lagi, hingga ia terobati. Dan luka, ia harus tersembunyi, agar tak koyak lagi.

Tapi bagaimana jika luka, terpaksa terkoyak, lagi? Sampai berapa lamakah harus menunggu?

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

27 Oktober 2012, 21:49, malam hari setelah hujan.
Luka itu belum sembuh, aku hanya tak ingin merasa-rasa. Tapi sakit itu datang lagi.

Be strong, Alde!

Advertisements

Written by Alderine

October 27, 2012 at 2:50 pm

Nanda, Serta Cerita Tentang Balon dan Bunga

leave a comment »

Kurang lebih setelah LPJ tengah taun HMFT-ITB kepengurusan 2012-2013, di himpunan dibuka warung jajan. Warung jajannya pun terupgrade, nggak cuma jualan cemilan penuh penyedap dan pengawet buatan, tapi juga nasi dan lauk-pauk serta buah-buahan. Top banget lah pokoknya. Dan formatnya nggak lagi kantin kejujuran, tapii ada ibu kantin yang jagain, soalnya setelah kemarin kehilangan 2 kencleng milik angkatan FT 2010, sulit juga kan menghapal harga lauk pauk yang buanyak itu. Daaan kas HMFT pun meningkat, anak-anak yang nongkrong di himpunan pun makannya lebih sehat. Namun sayangnya nggak sehat buat kantong hehehe :p

Oke cerita tentang wajannya cukup di sini. Ibu kantin punya anak 3, yang paling kecil itu perempuan berumur 5 tahun. Namanya Nanda. Sore hari setelah sekolah (sekolah TK/ngaji gitu di masjid), sekitar jam 3 atau 4 sore biasanya Nanda ikut ke kampus, nungguin mamanya di himpunan. Nanda ini manis banget, kayak Afika yang di iklan oreo itu :3

Selain manis, Nanda ini menarik. Waktu pertama kenalan, aku dibilang mirip bebek. Afifah dibilang mirip ayam, Kak Melati kaya Shizuka, Juno dibilang mirip kipas angin, Amel dibilang mirip bunga, Adlian dibilang mirip lemari, Titik dibilang Barbie, Rizka dibilang doraemon, Ferdi kaya minuman, pokoknya lucu-lucu lah. Terus pas aku tanya kenapa dia jawabnya simple banget. Aku karena kerudungnya coklat mirip bebek goreng. Afifah karena lagi makan ayam. Kak Meng karena bajunya warna pink. Kipas angin karena kipas angin di rumahnya Nanda baling-balingnya warna hitam. Adlian karena bajunya garis-garis mirip lemari di rumah dia. Amel pake bros bunga di kerudungnya. Rizka pake jahim (jadi himpunan doraemon gitu? :p). Sedangkan Titik masih misteri :p dan jujur aja excited banget liat anak kecil. Sesederhana itu ya pikiran mereka. Maklum nggak punya adek :p

Anyway, karena Nanda yang sangat unyu ini jadi inget dulu jaman kecil. Nanda juga punya kakak cowok yang jailnya setengah mati. Haha sebelas dua belas lah ya. Dan lagi jadi kepikir kalau punya anak perempuan nggak apa-apa, toh lovable juga. Tadinya maunya anak laki-laki aja :3

Yap dan kemarin hari wisuda, 20 Oktober 2012. Wisuda ketiga sejak masuk dan dilantik jadi HMFT-ITB. Di wisudaan ini jadi LO, untuk yang ketiga kali juga :”
Ceritanya aku ke himpunan, dari sabuga, untuk mengamankan tas ransel milik wisudawan. Nah pas ke himpunan ini ketemu Nanda. Nanda cerita dengan muka sedih. Intinya, Nanda mau balon sama bunga. Tapi mahal. Ada anak kecil lain yang mau balon sama bunga juga. Tapi langsung dikasih karena nangis. Well akhirnya aku hibur. Aku bilang, ‘Yang dapat bunga sama balon itu yang lulus, Nanda. Aku juga nggak punya bunga sama balon, soalnya aku belum lulus. Tunggu ya nanti sore, barangkali kakak yang udah lulus mau ngasih balon yang sudah nggak dipakai buat Nanda.’ Daaan balik ke saraga buat arak-arakan.

Setelah arak-arakan, Nanda udah dapat bunga dari Kak Anita. Tapi belum dapat balon. Akhirnya mau bantuin buat minta balon ke anak-anak IMMG, dengan catatan si Nandanya juga ikut minta. Tapi dia nipu-nipu gitu berkali-kali. Akhirnya pura-pura marah sama dia, ninggalin, terus dia nangis. Abisnya bohong sih.

Sejujurnya ada perasaan guilty juga sih nangisin Nanda, anaknya orang gitu. Tapi kepikiran nggak sih, kalau nggak semua yang diminta harus dikasih? And well cara anak kecil minta kaya begitu ya, kalo nggak nangis, ngerengek, bohong. Sedih ya masak masih kecil sudah licik 😦

Kalau aku dulu pas masih kecil, jaraaaang banget kalau minta langsung dikasih. Biasanya suruh usaha dulu. Nabung dulu atau gimana. Pokoknya ada delay. Yaah tapi tiap orang beda-beda sih. So, anak gw gimana nanti? 😦

Written by Alderine

October 21, 2012 at 2:49 am

Skakmat

leave a comment »

Saat bermain catur, aku seringkali mengimajinasikan menjadi apa saja yang aku inginkan. Kadang menjadi anak kecil yang bermain petak umpet. Kadang menjadi kepiting yang berlindung dari pemakannya, tentu.

Sore ini aku membayangkan diri menjadi ikan. Ikan-ikan yang berenang dengan kawanannya. Bersama ratu yang lincah, gesit, dan partner setia. Sedang bidak-bidak lain hanya pengecoh, ikan-ikan lain yang berenang bersama.

Sore ini permainan tampak mulus di awal. Aku memegang warna putih. Aku memulai dengan menggerakkan satu pion di depan raja. Lalu membiarkan ratu melanglang buana ke sana ke mari. Menyisakan 3 pion, seekor kuda, seluncur daerah putih, sebuah benteng, dan ratu yang sedikit terpojok. Sedang aku hanya tertawan seekor kuda dan seluncur putih.

Sore ini aku hanyut pada ritme permainanku sendiri. Di bawah hujan yang mengeruhkan air sungai, aku berencana menawan semua ikan-ikan itu. Menyisakan raja yang kemudian bergerak kebingungan. Menyekolahkan pion agar ia menjadi segesit ratu. Nafsu tamak ingin menghabisi begitu kental.

Namun ternyata keadaan berubah. Tiba-tiba saat ratu pergi ke hadapanku, si raja. Aku masih belum berpindah, hanya menonton permainan sejak tadi. Ternyata ratu tak bergerak sendiri. Di belakangnya ada seluncur putih yang siap memakanku saat aku memakan ratu. Skakmat.

Seperti ikan yang lengah. Berenang ke sana ke mari memakan semua yang terlihat di depan mata. Merasa aman karena berada di antara arus-arus ikan lainnya. Namun tiba-tiba jaring itu datang, mengangkat aku dari sungai. Dan aku mulai megap-megap kehabisan nafas. Tidak bisa pergi lagi. Tertawan. Mati

15 Oktober 2012,
setelah Bandung disirami air hujan.

Lalu terpikir para gerombolan penjahat (mafia), samakah perasaan mereka? Merasa aman karena bersama-sama?

Written by Alderine

October 15, 2012 at 10:14 am

Posted in Prosa Prematur