alderine

Sepatah Kata

Archive for August 2012

It’s Okay (2009)

with 2 comments

Likely k-pop lain yang saya suka, saya tau lagu ini pertama kali saat main game Audition Ayodance (bukan promosi). Karena core game ini yang buat memang South Korea, wajar saja kalau semakin ke sini, lagu yang mengisinya 90% K-Pop. Tapi saat ini saya sudah jarang mengupdate dan bermain, selain karena sibuk, saya rasa K-Pop makin ke sini kehilangan ciri khasnya.

Saya memang penggemar rapper asal Asia. Jika di K-Pop, saya cenderung pada 3 grup, Epic High (sayangnya udah bubaran sekarang), Mighty Mouth, dan Untouchable. Nggak seperti remaja penggemar K-Pop kebanyakan yang suka K-Pop entah karena dramanya, keseksian dance para girlband, atau ke-metroseksualan mas-mas boyband. Saya malah nggak begitu absorb dengan drama, girlband, apalagi boyband. Saya suka yang punya beat-beat khusus seperti 3 diatas yang telah saya sebutkan, juga 2NE1 yang beraliran sama.

Setelah sekitar 3 tahun dengar lagu ini, baru sekarang saya buka MVnya. Dan diluar ekspektasi, bagus. Ekspektasi saya cukup buruk karena sebelumnya Untouchable duet sama mbak Narsha yang dari BEG, di lagu Living in the Heart, tapi videonya jelek, nggak bagus lah pokoknya. Ternyata MV ini, artistik sekali. No plausible make-up. No too much hair styles. Just a great scene of a girl. Natural sekali. Memang 2009 belum era K-Pop menjadi seperti sekarang. Selain itu, dari lirik lagunya, ya biasa aja sih sebenernya, tapi nggak terlalu berlebihan lah. Beatnya juga cukup enak untuk ukuran lagu cinta.

Selain lagu ini, Sleepy juga duet sama mbak Hwayobi di lagu Kiss Kiss Kiss. Di lagu ini MV nya biasa aja sih, cuma seperti sepasang suami istri baru menikah lagi honeymoon. Meskipun judulnya Kiss Kiss Kiss, nggak banyak adegan ciuman kok, cuma di 6 detik terakhir, itu pun cuma sebentar. Dan yang saya suka, tetap, beatnya nggak terkalahkan đŸ™‚

Advertisements

Written by Alderine

August 7, 2012 at 4:35 am

Posted in Uncategorized

Bertanya-Tanya tentang Pertanyaan

with one comment

Sejak kecil, aku sering bertanya. Tentang semua hal. Memang, aku tak selalu mendapat jawaban. Tapi aku tak pernah jemu untuk bertanya.

Pernah aku bertanya pada ibuku, dari mana aku berasal. Mengapa manusia bisa dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Ibuku hanya menjawab, suatu saat nanti, aku akan mengerti, dan mendapat jawabannya sendiri. Sekarang tentu aku mengerti, meski masih sebagian.

Pernah juga aku bertanya, apakah hidup ini nyata. Bagaimana jika ini semua hanya mimpi? Atau sebenarnya, kita tak lebih dari sebuah tokoh yang jalan ceritanya sudah diatur dan ditonton oleh makhluk lain, seperti kita menonton televisi? Aku menanyakan dan memikirkan semua hal itu sambil berloncat-loncatan di tempat tidur, menampar-nampar pipi dan mencubit lengan sendiri, berharap jika hidup ini memang hanya sebuah mimpi, aku akan segera terbangun. Kenyataannya tidak, aku tetap terjebak dalam kehidupan yang belum kumengerti apa (sampai sekarang).

Saat pertama kali menjejak kaki di kampus ganesha, ada sebuah tempat yang sangat menarik buatku, terlebih tulisan yang terukir. Plaza Widya Nusantara.

Tempat ini diberi nama

PLAZA WIDYA NUSANTARA

supaya tempat ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, seni, dan teknologi

supaya kampus ini menjadi tempat bertanya dan harus ada jawabnya

supaya lulusannya bukan hanya menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa

Bandung, 28 Desember 1998

Rektor Institut Teknologi Bandung
Prof. Wiranto Arismunandar

Tempat bertanya, dan harus ada jawabnya. Maka, kurang lebih dalam hidupku, aku bahagia, dengan siklus ingin tahu – bertanya – mencari jawaban – ingin tahu lebih lagi. Aku mendapat kesenangan dari rasa ingin tahu yang terpuaskan. Aku menjadi tidak mudah percaya pada informasi, atau skeptis menurut bahasa dosen-dosenku. Dengan demikian aku menjadi tidak mudah dikelabui. Sungguh mujur, banyak sekali keuntungan yang didapat dari rasa ingin tahu ini.

Aku bersyukur memiliki rasa ingin tahu ini, setidaknya sampai hari ini.

Written by Alderine

August 7, 2012 at 4:26 am

Posted in Opini, Seputar Saya

Manipulasi

leave a comment »

Seorang saintis, terutama matematikawan dan fisikawan melakukan manipulasi matematis agar didapat persamaan yang menyatakan keadaan sekitar kita. Seorang insinyur bekerja dengan memanipulasi sistem. Entah memanipulasi siklus konversi energi menjadi sebuah pembangkit listrik bertenaga tinggi. Atau memanipulasi material, unsur dan senyawa kimia menjadi sebuah barang yang berguna. Atau memanipulasi paku-paku, mur, mesin, pipa, menjadi sebuah mesin yang menemani kehidupan kita sehari-hari. Atau memanipulasi gerak dan kerja elektron dalam desain elektronik.

Begitu juga seorang dokter, memanipulasi kondisi si pasien dengan memberi asupan obat-obatan, dengan harapan kondisinya membaik. Seorang petani memanipulasi kandungan zat hara dalam tanah dengan pupuk, dengan harapan panennya akan berlimpah. Seorang marketer memanipulasi impresi manusia terhadap produk yang sedang ia beri brand.

Kita semua, manusia, hidup di dunia dengan memanipulasi keadaan sekitar kita. Agar berjalan sesuai dengan keinginan kita. Lalu, mengapa manipulasi menjadi terdengar buruk?

Written by Alderine

August 6, 2012 at 7:48 am

Posted in Opini