alderine

Sepatah Kata

Pada Padangan Pertama

leave a comment »

Banyak yang ragu dengan cinta pada pandangan pertama. Banyak yang nggak percaya. Banyak yang dikecewakan karena ekspektasinya ternyata meleset jauh. Banyak yang menyesal. Semakin banyak lagi yang skeptis setelah mendengar kegagalan dari cerita-cerita cinta pada pandangan pertama. “Hanya ada di sinetron FTV itu, dek!”, kata seseorang pada saya.

Ada juga kaum yang berpendapat sejalan dengan pepatah Jawa, “Witing tresno, jalaran soko kulino”, yang berarti cinta tumbuh karena sering bertemu. Yaah seiring berjalannya waktu, dengan kedekatan yang semakin rekat, cinta mulai tumbuh.

Kali ini saya nggak akan bahas mana yang benar, apakah love at first sight itu benar-benar bullshit, atau cinta memang tumbuh seiring berjalannya waktu. Wah bukan urusan saya, cinta itu urusannya dengan hati masing-masing. Cinta belum bisa disimulasikan, maka saya nggak berhak menjudge mana yang benar. Saya sendiri percaya, banyak jalan, ada seribu alasan, untuk jatuh cinta.

Dan bagi yang skeptis tentang cinta pada pandangan pertama, saya mau mebagi cerita nih, tentang love at first sight yang (hopefully, insya Allah) last forever. Tentang ayah dan ibu saya. Tapi dari sudut pandang ibu ya, maklum

Waktu itu tengah tahun, pengumuman ujian-ujian, nilai, dan kelulusan. Banyak yang deg-degan, termasuk ibu saya. Karena dia pernah nggak naik tingkat sekali, di tingkat 2. Maklum lah, ibu saya nggak suka biologi tapi kuliah kedokteran. Ibu saya aslinya pintar di matematika dan fisika, cita-citanya menjadi insinyur sipil. Tapi menurut lah dengan kata orang tua.
Singkat cerita, setelah tingkat 1 yang cemerlang (karena masih pelajaran dasar, ada fisika kalkulusnya macam TPB), tingkat 2 pertama yang gak bener, tingkat 2 kedua yang berjuang setengah mati, dan tingkat 3 di tahun ke empat yang, yaaa gitu, deg degan nunggu pengumuman. Dan akhirnya… Ibu saya nggak naik tingkat lagi.

Sedih? Jelas. Kuliah kedokteran sudah jadi rahasia umum bukan sesuatu yang murah. Belum lagi kakek saya hanya seorang guru fisika SMA. Ibu saya memiliki 3 orang kakak, saat itu 2 masih berkuliah sarjana, dan juga 2 orang adik. Biaya kuliah ibu ditanggung sepenuhnya oleh beasiswa dari kakaknya yang pertama, yang saat itu sedang apply master ke luar negeri.

Di tengah perasaan yang linglung itu ibu berjalan limbung, nggak jelas juntrungannya, di sekitar jalan Kaliurang. Kemudian ada mas-mas dengan motor vespanya menyapa, “Mau diantar nggak mbak?” Ibuku yang sedang linglung itu menurut saja. Tanpa prasangka yang aneh-aneh, naiklah ibu ke sadel belakang motor vespa itu.

Tapi tiba-tiba mas-mas ini menanyakan sesuatu hal, yang langsung mebuat ibu panik. “Mbak kosnya di mana?” Ibu bilang, rasanya langsung campur aduk. Panik karena ternyata yang memboncengnya ini bukan orang yang dikenal. Padahal tadi dipikirnya teman dari masnya yang kedua, biasalah cowok-cowok teknik. Ternyata bukan. Rasanya ingin loncat saja.

Tapi mas-mas yang ternyata ayah saya di kemudian hari ini pandai menenangkan ibu saya. Dia mengenalkan diri, mahasiswa tingkat akhir fakultas kehutanan. Rumahnya di Klitren, Jogja. Kemudian ibu melunak, diberi tahu alamat kosannya. Sampai di kosan pun Bapak nggak langsung pulang, masih ‘ngetem’ dulu, mengajak ngobrol, nanya-nanya hal-hal cecerepet, yaa begitulah.

Adanya mas-mas asing dan ganteng (bapak saya pas masih muda ganteng lho, kata banyak orang begitu) bertandang ke kosan perempuan dan mengobrol dengan ibu saya cukup lama ternyata mengundang perhatian banyak orang. Termasuk adik ibu saya yang sekamar, jurusan arsitektur. Setelah dicie-ciein sama teman sekosan yang lain, tiba-tiba ibu saya dibilang murahan. Oleh adiknya sendiri, (almarhumah) tante saya.

Jelas ibu saya semakin kalut. Akhirnya ibu pulang ke Solo, membeli kain 5 macam, masing-masing 5 meter. Dan menghabiskan membuat 25 daster, masing-masing kain 5 model yang berbeda, untuk 5 orang perempuan di rumah Solo, nenek, kakaknya ibu (bude), ibu, dan 2 orang adiknya. Produktif sekali ya stress ala ibu saya.

Setelah itu datang lagi masa kuliah. Tingkat 3 yang kedua kalinya. Selang beberapa bulan dari perkenalan pertama, ayah saya datang lagi. Setiap hari. Yaa wanita mana yang nggak luluh dipedekatein begitu :3

Kalau dilengkapi dengan cerita versi bapak, jadi ceritanya setelah pertemuan pertama bapak datang ke kosan ibu, setiap hari, sekitar 2 minggu. Tapi sayangnya ibu pulang ke Solo. Akhirnya bapak patah hati deh </3

Tetapi saat ujian pendadaran (sidang TA), bapak bertemu dengan seniornya, yang teman satu kos ibu. Setelah sepik-sepik dikit nayain kabar ibu, akhirnya bapak ngapel lagi deh. Terus jadian deh. 3 tahun pacaran, terus nikah deh :3

15 Juli 2012
Selamat aniversary nikah yang ke 29 yaa bapak ibu, hopefully this love at first sight would last forever :3

Advertisements

Written by Alderine

July 17, 2012 at 1:20 am

Posted in Seputar Saya

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: