alderine

Sepatah Kata

Reaktif

leave a comment »

Pucat. Kelu.

Itu katamu.
Menurutku biasa saja, bibirku masih saja membahanakan tawa ke penjuru udara. Hidup berhaha-hihi, menurut bahasaku.

Tapi tentu beda itu aku rasa juga. Beda saat pertama kita bertemu dengan saat ini. Saat aku, tentu saja masih berhaha-hihi dengan siapa saja yang baru kukenal, kau pasti tahu itu. Namun kau begitu diam. Begitu lugas. Hingga kelugasanmu itu menarik aku untuk mengenalmu lebih dalam. Dan kita menjadi begitu dekat.

Namun tidak saat ini. Kau semakin mudah tertawa. Semakin mudah panik. Semakin menampakkan emosimu dihadapanku. Semakin terlihat rapuh. Ternyata kelugasanmu semu, hanya sepuhan di depan topeng tebal yang mulai retak.

Sedang aku mulai memperisai diri. Tak ingin membagi lebih banyak lagi. Menahan emosi. Lebih merasionalkan perbuatan. Ah.

Mungkin persahabatan kita seperti reaksi kimia. Intensitas pelampiasan emosi kita dapat disimulasikan dengan persamaan laju terhadap waktu. Lajumu berkembang secara eksponensial, sedang aku meluruh secara eksponensial pula. Dan mungkin saat inilah kita sedang dalam titik setimbang.

Advertisements

Written by Alderine

July 15, 2012 at 6:06 am

Posted in Prosa Prematur, Seputar Saya

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: