alderine

Sepatah Kata

Kerudung, Jilbab, Hingga Hijab(ers)

with 4 comments

“Setelah berjilbab, kamu lanjutkan dengan berhijab…..”

kata-kata itu terngiang lagi, ditrigger oleh percakapan di twitter dengan kak Naya dan Yoga. Awalnya, kak Naya ngetwit begini @nayasaa: ‘Kamu kerjaannya beli buku muluk sih, jdinya ga ada duit lgi bt beli baju2 kayak hijabers2 gitu’ – omelan menohok ibu hri ini. Pffffft.

Kemudian saya iseng nanya, emang baju hijabers itu yang kaya gimana? Kak Naya bilang, cewek2 jilbab nan imut dan cantik jelita. Karena bawa-bawa cantik yaa saya penasaran lah :p akhirnya googling, dan ternyata keluarlah berbagai gambar wanita berbusana muslimah yang modis. Teramat modis malah, mengingatkan pada baju-baju yang dikenakan boneka barbie, atau dress-dress eropa abad pertengahan yang ribet, meskipun cantik.

Maka saya menyimpulkan, hijabers adalah istilah yang digunakan untuk se muslimah yang dress-like, dan ribet, yang biasanya digunakan oleh tante-tante arisan. Mengapa tante-tante arisan? Karena dalam kehidupan saya sejauh ini, jarang sekali saya menemukan mbak-mbak/ibu-ibu yang berdandan sepenuh hati seperti itu, kecuali tante-tante arisan. Atau mungkin wanita karir, tapi tidak semuanya, mungkin hanya di televisi karena saya jarang melihat. Nyatanya ibu saya, guru-guru serta dosen berdandan ala kadarnya saja.

Fenomena hijabers ini sangat menarik. Wanita-wanita berbusana muslimah yang (seharusnya) sudah mengikuti ajaran agama, dapat tetap tampil menarik, bermotif-motif, berwarna-warni. Yaa sebenarnya tampil bermotif atau berwarna bisa kapan aja sih, nggak harus nunggu model hijabers ini. Cuma sekarang lebih booming karena semakin banyak toko busana muslim yang menjual baju-baju seperti itu.

Maka saya mengingat lagi saat-saat pertama berkerudung. Ketika masih kelas 4 SD. Dulu, satu sekolah hanya saya yang berkerudung. Bahkan ibu pun belum berkerudung, namun dia tetap mensupport saya untuk terus berkerudung. Awal-awal menggunakan kerudung jelas tidak mudah, sulit karena baju seragam yang panjang tidak banyak. Juga baju-baju keluar rumah, saya kan tidak pernah beli baju, mostly baju saya merupakan lungsuran ayah-ibu, kakak, sepupu, bahkan kakek-nenek.

Yang paling saya ingat adalah ketika kepala sekolah saya waktu itu, Bapak Ibr*h*m, memanggil saya ke ruangannya. Beliau menegur saya, menyarankan saya untuk melepas kerudung. Merusak keseragaman pakaian siswi, katanya. Jelas saya hiraukan. Namun di pertemuan kami selanjutnya, beliau sedikit memaksa saya untuk melepas jilbab. Sejak itu, saya selalu menghindar dari keberadaan bapak. Beruntung, tidak lama setelah itu, bapak pensiun.

Kakak saya yang pertama, Mas Adit, saat itu sedang SMA. Dia cukup aktif di lembaga dakwah sekolah, DKM Ar Rahman, di SMA tempatnya (dan saya kemudian hari). Dia juga sangat mendukung, dengan bacaan-bacaan tentunya. Hmm. Juga kata-kata penyemangat.

Dia juga yang membuat saya mendefinisikan kerudung, jilbab, dan hijab. Mas Adit bilang, kerudung itu kain asal sampir di atas kepala. Mungkin rambutnya nyempil-nyempil banyak atau celananya legging atau auratnya ada yang terlihat. Kalau jilbab, sudah nggak ada yang ketat, sudah menutup dada, tapi masih kurang lengkap. Kemudian hijab..

Hijab itu yang sempurna. Lahir dan batin. Bukan sekedar pakaian, tetapi juga akhlak. Karena sejatinya, berhijab bertujuan agar mata tak ternoda, maka seharusnya, berhijab pun tak menarik perhatian. Yang demikian seharusnya.

“Setelah jilbab, kamu lanjutkan dengan berhijab..”

Jika diingat-ingat lagi, maka saya yang paling jauh baru berjilbab. Itupun hanya ketika SMP-SMA tahun pertama. SMA tahun kedua hingga TPB, tabiat saya yang tidak peduli penampilan mulai keluar lagi 😦 dan setelah TPB, saya sedikit trauma memakai rok, karena cara saya berjalan yang nggak efektif kalau pake rok krubat-krubut.

Akhirnya sekarang saya masih begini. Kemungkinan besar suatu kemunduran, menjadi hampir tiap hari memakai celana jeans (padahal sebelumnya setahun 2 kali, itupun belum tentu). Seperti kata kakak saya, sudah nggak ketat, sudah menutup dada, tapi masih kurang lengkap.

Hijab? Masih jauh.. Entah dari pakaian, yang masih yaaaa begitulah. Apalagi perilaku, kecenderungan saya lebih mudah bergaul bukan dengan perempuan 😦

Lalu fenomena hijabers ini memaksa saya meredefinisi ulang apa itu hijab. Hijab? Sekedar kerudung kah? Atau hijab mengalami pergeseran makna, yang dipaksa oleh para pemegang komoditi pasar?

Entahlah.

R. Seminar TF 2 lantai 4, labtek VI
12 Juli 2012, 15:21
di sela-sela kuliah pemrosesan sinyal dan tiupan angin setelah hujan deras

Advertisements

Written by Alderine

July 12, 2012 at 8:31 am

Posted in Opini, Seputar Saya

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. ihiy alde punya blog ya ternyata :3
    fenomena ‘hijabers’ juga menurut aku unik banget loh haha, kirain cuma di kota besar aja kan ya (jakarta, bandung), pas aku KP di Merak ternyata cewek2 di sana juga pake jilbab2 gaya.

    menurut aku fenomena ‘hijabers’ ini karena kebutuhan dasar perempuan, sadar gak sadar, karena ingin diperhatikan. Kebutuhan ‘perhatian’ itu yang bikin fashion berkembang. Baju unik dan permainan warna pasti bikin orang lain jadi melirik kan. Di sisi lain, Islam mengajarkan untuk membalut aurat. Dan ta-dah! Muncullah jalan tengah, ya itulah fenomena gaya berpakaian unik dan model jilbab yang semriwet tapi cakep. Kalo menurutku sih, hal ini jadi mempersempit arti ‘keindahan berhijab’ jadi sekadar baju dan jilbab cantik. Sayang sih sebenernya.

    sebenernya sih ini buat jadi bahan renungan aja. merawat diri kan tetap perlu, tapi jangan sampelah ‘merawat diri’ (berdandan dan make baju cantik ala ‘hijabers’) itu jatohnya bikin fokus ke mana-mana, mendahulukan kepentingan kita dengan-Nya atau malah mempersulit beribadah (taulah, kerudung sekarang kan ribet hehe). gitu aja sih

    Anin

    July 15, 2012 at 4:17 am

    • aduh kak anin, tau aja aku punya wp, jadi maluuuuuuuu :’)

      iyaa setuju banget sama kak anin, ples sejutaa. Yaa sebenernya sih aku cuma mau membahas fenomena hijabers ini dan ngaitin ke diri aku sendiri, udah sejauh mana hijab aku? Masih sangat jauh dari sempurna ya ternyata 😦

      oh iya kalo Merak-Cilegon, kayanya sih emang wajar aja deh fashion di sana update, kan di sana daerah urbanisasi juga. Mungkin kita tanya yang KP di darajat seperti kak Aneu, atau yang daerah asalnya Temanggung seperti om Luhur, apakah hijabers juga mulai merasuk? Hehehe.

      alderine

      July 15, 2012 at 5:06 am

  2. […] Baru hingga sekitar 5-7 tahun setelah reformasi. Mungkin anda cukup rendah hati untuk mencari tahu perjuangan menggunakan jilbab pada saat-saat itu, atau analisis yang cukup komprehensif tentang jilbab dan […]

  3. Tulisan bagus, menginspirasi 🙂

    Lihin

    April 3, 2014 at 8:40 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: