alderine

Sepatah Kata

Archive for July 2012

Sederhanakah Kedewasaan?

with one comment

Aku rindu hidup dengan sederhana. Rindu membaca buku hanya karena penasaran, bukan karena gengsi menyelesaikan list target. Rindu belajar karena ingin tahu, bukan demi indeks yang lebih baik. Rindu pada hidup yang dijalankan dengan motivasi sederhana, keinginan.

Aku jenuh karena keadaan yang begitu kaku, begitu banyak aturan, tidak bebas. Aku lelah mengebiri rasa dan keinginan, yang hanya berhasil di tahun-tahun pertama.

Aku muak harus menyelesaikan yang ini untuk melakukan itu. Aku bosan jika harus terus merencanakan hidup, yang akan tanpa kejutan-kejutan membahagiakan seperti sebelumnya.

Aku tak sanggup jika hidup harus terus berlari, seperti sebuah lomba marathon tanpa garis finish.

Di titik ini, aku sadar, aku belum sepenuhnya dewasa. Aku memalingkan muka dan menjauh dari apa yang menjadi tanggung jawab atas hidup (kata orang banyak, aku sendiri belum sepenuhnya setuju dengan pernyataan barusan). Aku masih ingin bermain.

Sebegitu rumitkah menjadi dewasa? Pernahkah manusia benar-benar bijaksana?

Advertisements

Written by Alderine

July 25, 2012 at 5:43 am

Posted in Seputar Saya

Terakhir Kali Menangis

leave a comment »

Terakhir kali menangis itu kurang lebih setahun yang lalu. Masa diklat PROKM. Dan kurasa, worthed lah alasan menangis ini menjadi sesuatu yang terakhir ditangisi. Di mana alasan ini hanya aku, Yoga, dan Tuhan yang tau. Yoga? Kenapa Yoga? Aku sendiri nggak tau, kenapa waktu itu ceritanya sama Yoga, tapi ya sudahlah.

Setahun. Menyimpan air mata. Karena sudah bertahun-tahun air mata terbuang percuma. Melewati malam-malam yang nggak pernah luput dari yang sesenggukan hingga yang menghasilkan residu berupa setumpuk tissu. Yah.

Bertahun-tahun. Tidak mudah ya. Wasted 9 tahun, yang setengahnya (atau mungkin lebih) penuh air mata.

Aku (masih) takut jatuh cinta lagi.

Written by Alderine

July 17, 2012 at 6:13 pm

Posted in Seputar Saya

Tagged with

Maintaining the Good Relationship

leave a comment »

“To be happy with a man you must understand him a lot and love him a little.
To be happy with a woman you must love her a lot and not try to understand her at all.”
Helen Rowland

Quote ini saya temukan di salah satu bukunya mbak Helen Rowland, tapi saya lupa yang mana. Yang jelas ada dua buku beliau yang pernah saya baca, The Widow dan Reflections of a Bachelor Girl. Keduanya dibuat di 1900an awal (atau 1800 akhir? Saya lupa persisnya, dekat pergantian abad yang jelas).

Sekali membaca quote ini, jelas langsung ingat, sulit sekali melupakannya. Untuk berbahagia dengan pria, seorang wanita perlu memahami, dan mencintai secukupnya. Untuk berbahagia dengan wanita, seorang pria tidak perlu memahaminya, cukup mencintai saja sepenuh hati. Seems legit.

Bukankah jika dipikir ulang, seseorang yang mencintai pasti memahami? Logikanya begitu, tetapi nyatanya tidak. Karena memahami tidak membutuhkan cinta, hanya membutuhkan empati serta kemampuan analisis. Dan terkadang, meskipun kita sudah mencintai sepenuh hati, kita belum bisa memahami keadaan orang yang kita cintai. Betul, tidak?

Kembali ke quotes tadi. Kalimat pertama. To be happy with a man, you must understands him a lot and love him a little. Mengapa demikian?

Sebagai perempuan, saya sangat setuju dengan kalimat ini. Ketika cinta seorang perempuan bertambah besar, umumnya seorang wanita hanya menuruti emosinya, sedang cinta adalah salah satu bentuk emosi. Wanita makhluk perasa, cenderung menggunakan emosinya dalam memutuskan sesuatu. Semakin besar cintanya, semakin besar emosinya, betul tidak?
Nah sayangnya, emosi yang besar ini nggak selalu dalam bentuk emosi yang positif. Mungkin yang laki-laki tau lah ya para cewek ABG labil sesering apa mengatakan ‘Jadi kamu udah nggak sayang sama akuh?’ dengan logat FTV gitu. Yaa itu salah satu bentuk cinta yang uncontrolled. Padahal nggak ada yang salah dengan cinta yang besar. Jadi bagaimana seharusnya?
Saran saya seperti kata mbak Helen Rowland. Memahami. Baik saja mencintai sebesar mungkin, tetapi jangan lupa untuk memahami lebih lagi. Dengan memahami, kita dapat mengikuti alur berpikir laki-laki dan perempuan yang berbeda. Dengan memahami, kita dapat mengerti behaviour seorang laki-laki, alasan dari segala perbuatan, hingga apa yang akan dilakukannya nanti 😉

Kebetulan selama 2 tahun terakhir saya nggak ada masalah dalam berhubungan dengan laki-laki. Ada sih, tapi nggak diaggap :-p Naah kalau hubungan pertemanan dengan perempuan, saya jenuh juga. Mungkin karena nggak merasa urgency untuk loving others yaa, selain orang-orang yang istimewa seperti keluarga (dan calon keluarga). Makanya saya sering kesal sendiri. Ketika PMS galau nggak karuan, eh ketika senang saya ditinggal. Giliran saya butuh, eh malah ditinggal ke diskon di toko. Oke maaf ini curhat hahaha.

Tetapi adakah yang bisa memberi saya advice dalam maintaining good friendship with the other woman, untuk wanita yang (agak) nggak wajar seperti saya?

Written by Alderine

July 17, 2012 at 10:27 am

Posted in Opini, Seputar Saya

Tagged with

Sembunyi, Tuhan, dan Cacat

leave a comment »

“Aku tahu siapa kamu sebenarnya, meskipun kamu selalu bersembunyi,” kata Saras ketika mereka mulai dekat.
Budi mula-mula masih mencoba untuk megelak. Tapi karena terus-menerus ditatap akhirnya ia menyerah juga.
“Siapa yang sudah mengkhianati aku?” tanyanya kemudian setelah mereka mulai intim.

Saras hanya tersenyum.

“Kenapa mesti harus ada seorang pengkhianat untuk membuat yang gelap jadi terang. Apa kamu pikir kamu sudah begitu hebatnya lari menyembunyikan diri kamu, sehingga Tuhan pun tidak bisa melihatnya?”
“Kamu jangan bawa-bawa Tuhan.”
“Kenapa?”
“Karena persoalannya tidak akan bisa lagi diamati obyektif kalau belum apa-apa kamu sudah membawa nama Tuhan.”
“Apa lagi yang bisa aku bawa untuk membuat orang yang begitu pe de seperti kamu untuk mengerti dan berpikir kembali, bahwa kamu tidak sepintar yang kamu sangka, kalau bukan Tuhan?”
“Ternyata kamu sama saja!”
“Maksudmu?”
“Membuat Tuhan sebagai tempat pelarian!”
“Itu bukan pelarian!”
“Apa pun yang mau kamu sebut, silakan. Tapi kamu sudah mempergunakan Tuhan!”
“Aku tidak mempergunakan, aku yang sudah Dia pergunakan! Dan aku membiarkan diriku untuk dipergunakan sebab aku percaya!”
“Itu sama saja, hanya cara mengatakannya lain.”
“Kamu salah!”
“Terserah! Itu persoalan kamu! Siapa yang sudah menceritakan siapa aku kepada kamu?”
“Aku sendiri!”
“Bohong!”
“Hah! Kamu selalu mengira semua celah sudah kamu tutupi! Padahal?”
“Celah yang mana?”
“Masak kamu tidak tahu?”
“Aku yang bertanya!”

Saras tersenyum.

“Tidak perlu terlalu pintar untuk melihat kekurangan orang lain. Yang memerlukan kepintaran adalah melihat kekurangan diri sendiri.”
“Nyindir kamu?”
“Boleh dianggap nyindir, tapi itu sebenarnya kritik. Kritikku kepada kamu.”
“Kenapa mesti mengkritik aku, emang kurang kerjaan.”
“Sebab aku sudah menganalisa kamu.”
“Kenapa? Emang lhu tertarik sama gue?”
“Ya! Karena kamu terlalu sombong. Aku tidak pernah melihat orang sesombong kamu.”
“Kamu aja yang mengatakan itu kesombongan. Aku hanya berusaha tidak mengganggu orang lain.”
“Nah. Hanya orang yang tidak mau diganggu yang selalu berusaha menghindar dari orang lain. Dan orang yang selalu menghindar dari orang lain adalah orang yang punya rahasia. Dan rahasia yang paling ditakuti anak muda brilian yang memiliki masa depan cemerlang adalah kalau ia memiliki cacat.”

——————————————————–
dialog yang paling saya sukai di novel ‘Mala’, buku kedua tetralogi dangdut karya Bapak Putu Wijaya.

Written by Alderine

July 17, 2012 at 9:57 am

Posted in Buku dan Sastra, Prosa Prematur

Tagged with ,

Pada Padangan Pertama

leave a comment »

Banyak yang ragu dengan cinta pada pandangan pertama. Banyak yang nggak percaya. Banyak yang dikecewakan karena ekspektasinya ternyata meleset jauh. Banyak yang menyesal. Semakin banyak lagi yang skeptis setelah mendengar kegagalan dari cerita-cerita cinta pada pandangan pertama. “Hanya ada di sinetron FTV itu, dek!”, kata seseorang pada saya.

Ada juga kaum yang berpendapat sejalan dengan pepatah Jawa, “Witing tresno, jalaran soko kulino”, yang berarti cinta tumbuh karena sering bertemu. Yaah seiring berjalannya waktu, dengan kedekatan yang semakin rekat, cinta mulai tumbuh.

Kali ini saya nggak akan bahas mana yang benar, apakah love at first sight itu benar-benar bullshit, atau cinta memang tumbuh seiring berjalannya waktu. Wah bukan urusan saya, cinta itu urusannya dengan hati masing-masing. Cinta belum bisa disimulasikan, maka saya nggak berhak menjudge mana yang benar. Saya sendiri percaya, banyak jalan, ada seribu alasan, untuk jatuh cinta.

Dan bagi yang skeptis tentang cinta pada pandangan pertama, saya mau mebagi cerita nih, tentang love at first sight yang (hopefully, insya Allah) last forever. Tentang ayah dan ibu saya. Tapi dari sudut pandang ibu ya, maklum

Waktu itu tengah tahun, pengumuman ujian-ujian, nilai, dan kelulusan. Banyak yang deg-degan, termasuk ibu saya. Karena dia pernah nggak naik tingkat sekali, di tingkat 2. Maklum lah, ibu saya nggak suka biologi tapi kuliah kedokteran. Ibu saya aslinya pintar di matematika dan fisika, cita-citanya menjadi insinyur sipil. Tapi menurut lah dengan kata orang tua.
Singkat cerita, setelah tingkat 1 yang cemerlang (karena masih pelajaran dasar, ada fisika kalkulusnya macam TPB), tingkat 2 pertama yang gak bener, tingkat 2 kedua yang berjuang setengah mati, dan tingkat 3 di tahun ke empat yang, yaaa gitu, deg degan nunggu pengumuman. Dan akhirnya… Ibu saya nggak naik tingkat lagi.

Sedih? Jelas. Kuliah kedokteran sudah jadi rahasia umum bukan sesuatu yang murah. Belum lagi kakek saya hanya seorang guru fisika SMA. Ibu saya memiliki 3 orang kakak, saat itu 2 masih berkuliah sarjana, dan juga 2 orang adik. Biaya kuliah ibu ditanggung sepenuhnya oleh beasiswa dari kakaknya yang pertama, yang saat itu sedang apply master ke luar negeri.

Di tengah perasaan yang linglung itu ibu berjalan limbung, nggak jelas juntrungannya, di sekitar jalan Kaliurang. Kemudian ada mas-mas dengan motor vespanya menyapa, “Mau diantar nggak mbak?” Ibuku yang sedang linglung itu menurut saja. Tanpa prasangka yang aneh-aneh, naiklah ibu ke sadel belakang motor vespa itu.

Tapi tiba-tiba mas-mas ini menanyakan sesuatu hal, yang langsung mebuat ibu panik. “Mbak kosnya di mana?” Ibu bilang, rasanya langsung campur aduk. Panik karena ternyata yang memboncengnya ini bukan orang yang dikenal. Padahal tadi dipikirnya teman dari masnya yang kedua, biasalah cowok-cowok teknik. Ternyata bukan. Rasanya ingin loncat saja.

Tapi mas-mas yang ternyata ayah saya di kemudian hari ini pandai menenangkan ibu saya. Dia mengenalkan diri, mahasiswa tingkat akhir fakultas kehutanan. Rumahnya di Klitren, Jogja. Kemudian ibu melunak, diberi tahu alamat kosannya. Sampai di kosan pun Bapak nggak langsung pulang, masih ‘ngetem’ dulu, mengajak ngobrol, nanya-nanya hal-hal cecerepet, yaa begitulah.

Adanya mas-mas asing dan ganteng (bapak saya pas masih muda ganteng lho, kata banyak orang begitu) bertandang ke kosan perempuan dan mengobrol dengan ibu saya cukup lama ternyata mengundang perhatian banyak orang. Termasuk adik ibu saya yang sekamar, jurusan arsitektur. Setelah dicie-ciein sama teman sekosan yang lain, tiba-tiba ibu saya dibilang murahan. Oleh adiknya sendiri, (almarhumah) tante saya.

Jelas ibu saya semakin kalut. Akhirnya ibu pulang ke Solo, membeli kain 5 macam, masing-masing 5 meter. Dan menghabiskan membuat 25 daster, masing-masing kain 5 model yang berbeda, untuk 5 orang perempuan di rumah Solo, nenek, kakaknya ibu (bude), ibu, dan 2 orang adiknya. Produktif sekali ya stress ala ibu saya.

Setelah itu datang lagi masa kuliah. Tingkat 3 yang kedua kalinya. Selang beberapa bulan dari perkenalan pertama, ayah saya datang lagi. Setiap hari. Yaa wanita mana yang nggak luluh dipedekatein begitu :3

Kalau dilengkapi dengan cerita versi bapak, jadi ceritanya setelah pertemuan pertama bapak datang ke kosan ibu, setiap hari, sekitar 2 minggu. Tapi sayangnya ibu pulang ke Solo. Akhirnya bapak patah hati deh </3

Tetapi saat ujian pendadaran (sidang TA), bapak bertemu dengan seniornya, yang teman satu kos ibu. Setelah sepik-sepik dikit nayain kabar ibu, akhirnya bapak ngapel lagi deh. Terus jadian deh. 3 tahun pacaran, terus nikah deh :3

15 Juli 2012
Selamat aniversary nikah yang ke 29 yaa bapak ibu, hopefully this love at first sight would last forever :3

Written by Alderine

July 17, 2012 at 1:20 am

Posted in Seputar Saya

Tagged with ,

Lemah

leave a comment »

Selewat mendengar di radio, tentang seseorang yang polos kemudian di brainwash, agar melakukan hal-hal tertentu oleh pihak tertentu pula, setelah pihak tertentu ini melihat potensi yang dimiliki anak polos baik hati ini. Hmm.

Yaa memang hal yang biasa, terkadang kita yang memiliki kekuatan lebih tentu ingin menguasai, bukan? Seperti kata dosen saya, kebutuhan ke empat manusia: kekuasaan.

Sejujurnya saya pun pernah mengalami hal seperti itu, terbrainwash oleh pihak tertentu. Kebetulan pihak tertentunya ini personal sih, bukan pihak yang merujuk pada sekumpulan orang. Bila bisa membandingkan, jelas sebelum dan sesudah dicuci otaknya sangat jauh berbeda keadaannya. Hmm.

Ada keuntungan yang didapat dari pengalaman terbrainwash ini, yang jelas menjadi jauh lebih ekstrim skeptisnya. Jauh lebih berprasangka dengan orang lain. Hmm nggak segitunya juga sih, mungkin lebih tepatnya memperisai diri ketika ada orang yang masuk ke inner circle. Hmm.

Selain itu, saya jadi berasumsi kalau kelemahan itu sifatnya nggak tetap. Karena kalau kita sadar kelemahan kita apa, kita jadi bisa menyiasatinya jika dihadapkan pada kondisi ‘lemah’ suatu hari. Seperti kata pepatah, keledai pun nggak akan jatuh ke lubang yang sama.

Tapi ada yang tiba-tiba saya takutkan. Takut kalau suatu saat, orang-orang yang mengetahui titik lemah saya, — termasuk pihak yang pernah mencuci-otak saya dulu, menggunakan titik lemah saya kembali, hanya dengan cara yang lebih halus, lebih lembut, sehingga tidak disadari oleh saya. Hmm.

Ya, saya jauh lebih takut dengan orang yang sudah mengenal saya cukup jauh. Bukan dengan orang asing yang baru dikenal. Saya takut dengan orang yang mengetahui seluk-beluk saya, dan kemudian menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Hmm.

Itulah salah satu kelemahan saya, yang saya akui paling lemah. Prasangka timbul seiring dengan kedekatan yang bertambah, bukan sebaliknya.

Tapi bagaimana dengan yang gagal dicegah, dan sudah terlanjur mengetahui kelemahan-kelemahan saya?

Insecure.

Written by Alderine

July 16, 2012 at 4:08 pm

Posted in Opini, Seputar Saya

Tagged with ,

Raw Materials

leave a comment »

Kamar saya berantakan. Sangat berantakan. Kertas-kertas bercampur baur, antara bekas corat-coret penurunan persamaan sinyal sistem, dengan berbagai surat. Surat? Ya, surat.

Surat-surat ini yang memenuhi kamar. Mulai lecek karena sering dibaca – diletakkan – dibaca – diletakkan. Surat ini bermacam-macam, ada yang satu surat hanya 2 kalimat di kertas A6, sampai ada yang berlembar-lembar kertas A4. Tapi satu hal yang membuat mereka sama, saya tidak pernah berniat memberikan surat-surat itu pada orang yang dituju. Kenapa ya? Malu? Bukan juga, tetapi mungkin juga.

Semua ini berawal dari produktifitas menulis (atau mungkin nyampah) di buku harian yang melejit drastis, semenjak, ehm ya taulah ya. Ditambah ditinggal ke Jakarta, saya jadi sering jalan-jalan sendirian, dan menemukan banyak hal menarik. Tapi sayang kapasitas buku terbatas, layaknya storage data, punya limit sob. Akhirnya notes di Handphone jadi sasaran. Tapi lama kelamaan cachenya pun penuh 😦 yak daaan akhirnya kertas-kertas putih tak berdosa itu pun menjadi korban.

Kemudian semua cerita itu berubah menjadi surat. Surat yang sepertinya lebih cocok ditujukan pada diri saya sendiri. Yang bercerita tentang buku aneh yang baru saja selesai dibaca, gadis bermata sayu yang ditemui di Rangga Malela, sampai pengakuan paling jujur tentang rasanya jatuh cinta (ehem).

Semua surat itu jujur, dengan bahasa yang sangat terburu-buru. Ya biasalah, kalau kata guru kimia saya waktu SMA, tangan dan pikiran tidak sejalan. Tangan baru sampai mana, eeeh pikiran udah lari sampai mana.

Yak ini dia postingan bingung. Bingung karena pengen nulis di buku harian tapi ga ada tempat. Di notes hape, cache nya udah penuh. Tanpa editan maupun pemanis. Makanya dikasih judul raw materials 🙂

Written by Alderine

July 15, 2012 at 3:44 pm

Posted in Seputar Saya

Tagged with ,