alderine

Sepatah Kata

Senja Menjelma

leave a comment »

Senja menjelma lagi. Menyilaukan jika kau tatap langsung surya di ufuk barat sana, namun guratan lembayung senja di bidang langit meneduhkan mata.

Senja menjelma lagi. Di balik mega yang bernuansa jingga. Bersembunyi, sambil sesekali mengintip, seakan malu berhadapan langsung dengan penikmatnya.

Senja kini hampir pada puncaknya. Sekawanan burung menari-nari, menciprati kelam pada langit yang keunguan.

Senja masih tak ingin pergi. Meski rembulan sudah siap menyapa. Sabit itu beringsut terlalu cepat, ia hadir selagi surya masih unjuk gigi. Namun ia tidak peduli, lengkung senyumnya selalu terlukis menggantung.

Biru tua mulai menyergap, mengganti jingga yang semakin terbenam dan ungu yang ditelan kelam. Adzan memanggil-manggil, membubarkan anak-anak kecil di lapangan rumput. Berlarian menuju rumah. Sementara ayah yang baru datang bergegas pergi menuju langgar.

Senja kini telah berpamit. Menyisakan kelam di seluruh penjuru langit. Tak sempat aku menandai arah selagi terang, malah termangu dengan pesona si lembayung jingga keunguan. Sementara luna tak membantu.

Biar aku menunggu fajar esok hari dan bertemu lagi dengan senja. Bila masih diberi kesempatan.

===================================

Bandung, 28062012
08:19, di kamar kos yang masih saja dingin

Advertisements

Written by Alderine

June 28, 2012 at 1:29 am

Posted in Prosa Prematur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: