alderine

Sepatah Kata

Merah Kirmizi, Penengah Antara yang Hitam dan Putih

leave a comment »

“Thou your sins be as scarlet, they shall be as white as snow”
— Remy Sylado, dalam bukunya Kerudung Merah Kirmizi.

Saya membaca buku ini pada saat SMA, saat hasrat pada sastra mulai memudar, digantikan dengan keingintahuan akan fisika modern. Namun, perpustakaan yang telah menjadi sahabat sepertinya memahami kejemuan setelah 3,5 bulan — 1 semester di kelas akselerasi, bercumbu dengan jilid 1 Modern Physics bapak Arthur Beisser. Hanya jilid 1.

Kemudian tersembul cover buku warna hitam dengan selendang warna merah scarlet, atau merah kirmizi menurut cara bertutur bapak Remy, memanggil-manggil menarik perhatianku. Dan seperti biasa, aku melahap sastra dengan secepat kilat. 600an halaman ini habis dalam semalaman.

‘Kamu tahu merah kirmizi adalah merah kotor, tapi kamu dapat menyaksikan mukjizat melalui orang lain yang memberikanmu cinta, yang besar cinta itu dapat mengubahnya menjadi bersih seputih salju.’

Novel ini bertutur tentang perjalanan cinta antara seorang duda koboi, Luc Sondak, dengan penyanyi jazz di cafe, Myrna Andriono. Myrna yang mencoba setia dengan bayang almarhum suaminya, mencoba menolak kehadiran Luc. Oleh ibunya, Myrna diberi selendang-kerudung berwarna merah kirmizi, yang harus Myrna kenakan hingga menikah dengan Luc.

Kisah cinta antara Myrna dan Luc memang menjadi fokus dalam novel ini, namun seperti biasa, novel yang menjadi favorit saya adalah yang dapat merangkum kehidupan manusia. Novel ini mengawinkan pluralisme, politik, hingga sosialita.

Dari segi etnis, kita diajak menyelami berbagai nilai dan budaya dari pelaku-pelakunya: Myrna yang asli Sunda, almarhum suaminya, Andriono, yang berasal dari tanah Jawa, pak Luc yang dosen ilmu budaya, Pak Putu yang asli Bali, hingga Batak, Padang, dan Betawi.

Selain keberagaman etnis, novel ini sangat kental dengan nuansa ‘bekas orde baru’, sisa-sisa reformasi dan bekas kejayaan pejabat militer berbintang banyak hingga intrik-intrik busuk cukong kelas kakap hingga teri. Tak sampai di situ, gaya hidup dan culture shock ala orang kaya baru atau pejabat amatiran juga diselipkan.

Dengan kekayaan latar, novel ini saya rasa memang pantas mendapat penghargaan bergengsi Khatulistiwa Literary Award. Remy Sylado mengemas semuanya dengan cara yang apik, mempertemukan berbagai kutub yang berlawanan. Mungkin itu pesan yang ingin disampaikan oleh novel ini: ketika hitam dan putih berseteru, merah kirmizi lah yang menjadi penengahnya, karena tak mungkin manusia hitam legam tanpa kebaikan dan putih suci seutuhnya tanpa maksiat setitik pun.

Meskipun setting dan bahan-bahan dasar dalam novel ini sudah mendekati sempurna, namun sayangnya alur dalam novel ini tidak jauh berbeda seperti sinetron ftv, atau novel-novel teenlit lainnya. Endingnya dapat ditebak, kaya-raya, menikah, dan lived happily ever after. Tetapi overall, buku ini cukup baik dibaca, bagi anak muda penyicip sastra, terutama pemula dan anak SMA. 🙂

Advertisements

Written by Alderine

June 26, 2012 at 5:20 am

Posted in Buku dan Sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: