alderine

Sepatah Kata

Lapangan Rumput Kesepian

with one comment

(1)
Aku merindukan lapangan rumput penuh ilalang di sisi-sisinya. Ingin aku bercengkrama lagi, seperti masa kecilku dulu. Tempat kami bermain sepakbola, meski harus berebut dengan mereka yang sok penguasa. Kau pun kawan setia saat aku tidur-tiduran menatap langit penuh layang-layang berwarna-warni, bahkan menjadi saksi saat aku berhasil mengangkasakannya pertama kali. Kau tempat aku berkenalan dengan berbagai macam permainan yang kadang kami beri nama sesuka hati. Ah, sungguh aku rindu, duhai lapangan rumput penuh ilalang, yang kini tertutup semen dan menjadi lahan perumahan.

(2)
Naluri hidup adalah untuk tumbuh dan berkembang biak. Ya, itulah naluri semua makhluk hidup, untuk tumbuh-kembang, serta bereproduksi. Agar kejayaan spesies terus terjaga. Begitu juga kami, berbagai populasi pengisi lahan kosong. Ilalang, rumput teki, belalang hijau, belalang daun, wereng, rumput gajah, serta teman-teman yang belum disebutkan.

Generasi pendahuluku mengalami hidup yang sangat sulit. Hidup begitu dinamis. Harus cukup tegar untuk terinjak-injak anak-anak yang berlarian. Siap pula diterkam predator-predator yang kelaparan. Hidup menjadi begitu sulit. Hanya yang kuat yang dapat bertahan.
Namun kini tak ada anak kecil yang datang menginjak-nginjak kami, terhalang oleh tembok tinggi dan kawat berduri yang dipasang manusia asing yang mengatakan lahan ini miliknya. Predator pun segan untuk mengganjal perutnya dengan kami, mengingat pelbagai jebakan bagi hewan-hewan telah dipasang di tiap sudut. Kami hidup bahagia, tumbuh berkembang tanpa tahu dan siap akan kematian.

Ya, secara fisik kami lebih sejahtera. Namun apa artinya hidup tanpa perjuangan? Daya hidup dikebiri, kematian menjadi suatu hal yang asing, dan hidup menjadi terlalu mudah. Terlalu mudah. Terlalu mudah, sulit dihargai.
Aku merindukan kucing yang datang menangkap dan mengejar-ngejar berbagai serangga yang beterbangan dan berloncatan. Aku merindukan sapi-sapi, kambing, serta hewan ternak lainnya yang merumput, menggerogoti daun-daun yang paling segar diantara kami. Aku merindukan ayam yang mematuki tanah-tanah dan menemukan apa saja- kumbang, cacing gilig, hingga karet, ban, plastik dan rem tangan bekas anak kecil bermain.

Kini tantangan kami bukanlah injakan anak kecil, kucing, tikus, musang, kadal, ayam, sapi, kambing, ataupun makhluk hidup lainnya. Namun kami harus siap menghadapi langit. Langit tak sesegar dulu, hembusan anginnya kini penuh debu yang menutup dedaunan. Langit pun kian tak bersahabat, menyemai hujan yang semakin asing pada sel-sel kami.
Sedang kami tak diciptakan untuk itu.

Pasrah saja pada Tuhan, mungkin ini hanya salah satu mekanisme seleksi alam yang sedang Ia ciptakan.

Advertisements

Written by Alderine

June 26, 2012 at 2:06 am

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tidak membantu….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: