alderine

Sepatah Kata

Kakek, dan Sebuah Kursi di KRL Ekonomi Jakarta-Bogor

leave a comment »

(2 tahun yang lalu)

Seorang kakek-kakek tua, lanjut usia, berdiri terantuk-antuk di hadapanku. Kami berangkat dari stasiun pertama, stasiun Bogor. Tidak tega, aku berdiri mempersilahkan kakek itu untuk duduk.

Namun sekonyong-konyong, seorang wanita muda, cantik, berpakaian dan berdandan layaknya seorang SPG (maaf mbak), langsung merebut kursi tersebut. Aku tersenyum masam, kecut sekali, jauh lebih kecut dari asam lambung sepertinya. Tetapi mbak-mbak SPG ini malah tersenyum, innocent sekali air mukanya.

Aku termenung. Teringat, di berbagai transportasi umum seperti busway, kereta listrik, bis kota, dan lain sebagainya, tentu yang diprioritaskan untuk duduk adalah seorang penyandang cacat, ibu hamil, wanita yang membawa anak-anak, serta lanjut usia seperti kakek tadi.

Ah, aku berbaik sangka saja. Mungkin mbak-mbak SPG tadi tanpa kita ketahui menyandang cacat (bukan cacat fisik mungkin, karena kita tak dapat melihatnya. Mungkin cacat hati?), mungkin juga sedang hamil muda (aneh juga mengingat raut mukanya menunjukkan umur akhir belasan atau awal 20an), atau mungkin dia tidak semuda penampakannya, — sesungguhnya dia lanjut usia?

Yang jelas, aku bersyukur. Masih muda (umurku masih 16 tahun saat itu), sehat, dan kuat, sehingga masih bisa memberi kesempatan orang lain untuk duduk.
šŸ™‚

(Jum’at, 22 Juni 2012 — sekitar pukul setengah sepuluh malam)

Seusai berpetualang mengadu nasib angkatan ke PT. A**** Honda Motor, kemudian berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta bersama pacar (ihiw), saatnya pulang, sudah malam. Aku berangkat dari stasiun kota kurang lebih pukul 21.10, menurut jadwal pemberangkatan di stasiun.

Aku jarang mengambil gerbong khusus wanita. Bagiku sama saja. Untungnya ketika berangkat kereta lumayan sepi, sehingga tempat duduk pun masih banyak bersisa.

Tiba di stasiun mangga besar, kereta semakin penuh. Tidak jauh dariku berdiri seorang kakek-kakek. Ia berdiri memegang tiang sabil terkantuk-kantuk. Matanya yang memerah terpejam, tangannya lunglai. Aku tidak tega, lalu berdiri menawarkan tempat duduk. Saat aku berdiri, barangkali sudah sampai stasiun Juanda. Namun kakek itu menolak. Aku menjadi agak memaksa. Namun kakek tetap tidak mau. Akhirnya malah seorang bapak-bapak muda (mungkin usianya 30an awal) yang terlihat masih muda dan kuat yang duduk. Ah. Aku kecele lagi.

————————————————————-

Ada berbagai pertanyaaan besar yang menari-nari di pikiranku. Engkau sudah tua, Kakek, mengapa semalam ini masih bergelantungan di kereta ekonomi? Ke manakah istri, anak-anak, dan cucu-cucumu?

Keriput kulitmu serta lunglainya persendianmu sudah cukup bercerita padaku tentang penderitaan yang kau alami semasa hidup. Maaf jika aku lancang, Kakek, mungkin tak pantas kusebut begitu. Mungkin perjuangan. Pengabdian. Pengorbanan. Asam-garam kehidupan tergambar sempurna dalam auramu.

Lalu mengapa, Kakek, jika kutawarkan sebuah kursi, hanya untuk menyangga tubuh yang letih? Sebentar saja, kakek, hanya 80 menit? Sesulit itukah kakek menerima kursi? Mengapa kakek? Aku tidak mengerti.

Apakah engkau merasa kursi itu jauh darimu. Kursi dan engkau bukanlah pasangan yang baik. Entah kursi yang terlalu buruk di kereta kelas ekonomi, atau engkau enggan duduk di bekas anak muda sepertiku.

Ah, kedua kakek ini memberikan aku pertanyaan, yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Advertisements

Written by Alderine

June 26, 2012 at 10:05 am

Posted in Opini, Seputar Saya

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: