alderine

Sepatah Kata

Fragmen Memori: Ayah (part 2)

leave a comment »

1996. Ibu memasukkan ku ke Taman Kanak-Kanak. Saat itu aku masih berusia 3,5 tahun. Sebenarnya aku belum cukup usia untuk berada di Taman Kanak-Kanak. Namun saat itu aku telah mampu menyebutkan seluruh nama angka-angka yang terdapat di meteran kain untuk menjahit milik ibu, yang panjangnya kurang lebih 1,8 meter. Selain itu, aku mulai membaca koran yang datang setiap pagi ke rumah dan menanyakan maksud konten berita tersebut, yang tentu saja tidak cocok bagi anak berusia 3,5 tahun. Karena keingintahuanku yang mengkhawatirkan itulah, aku ‘dititipkan’ ke Taman Kanak-Kanak.

Namun ternyata dunia luar begitu kejam. Hari pertama, kami diajak bercita-cita. Melontarlah berbagai profesi keluar dari mulut kami, astronot, pilot, polisi, perawat, dokter, tentara, dokter gigi, insinyur, ilmuwan, atlet. Tiba giliranku ditanya. Karena aku sedang menyukai kebumian, kujawab saja: ahli geologi. Ibu guru tercenung, beberapa saat kemudian menanyakan pekerjaan ayah. Ah, aku tidak tahu, yang aku tahu kau sedang belajar di luar negeri tentang berbagai tanaman. Aku terdiam, tidak tahu. Ibu guru menanyakan apakah aku seorang anak yatim. Saat itu pula pertama kali aku mendengar kata yatim, dan mengerti maknanya. Aku tetap diam. Dipanggillah ibuku oleh ibu guru. Ah, maafkan aku ibu, di hari pertama sudah membuat masalah.

Tapi ternyata kerinduanku tidak berhenti sampai disitu, ayah. Kau tahu, kami pernah diajak menggambar sebuah keluarga. Aku menggambar ibu bersama mesin jahitnya, selagi aku dan kakak-kakakku berkejaran dan tertawa bahagia. Sungguh berbeda dengan teman-temanku, yang berisi ayah, ibu, dan anaknya sedang bergandeng tangan. Aku diolok-olok mereka. Mereka bilang, aku tak punya ayah. Aku tak cukup kuat menahan emosi, akhirnya aku berlari pulang.

Kau tahu ayah, betapa aku kadang ingin menggantikan posisimu, melindungi ibu. Betapa sedih ketika aku sudah mulai bermain keluar rumah, gunjingan itu sampai ke telingaku. Yah, temanku, teman bermainku, anak perempuan berusia 4 tahun. Bertanyalah ia, ke mana ayah pergi. Kujawab ayah sedang di luar negeri, menempuh studi. Lalu dengan mudahnya ia menuduh yang bukan-bukan pada ibu, dikatakan bahwa supir itu selingkuhan ibu. Awalnya aku tidak mengerti apa itu selingkuh, hingga ia menjelaskan.

Panas dingin rasanya, Ayah. Tak tahu ia jika supir itu berganti-ganti orangnya setiap hari. Bapak supir disediakan demi keselamatan ibuku yang praktik malam. Dapatkah kau bayangkan istrimu pulang jam 11 malam ke rumah yang jalannya penuh pepohonan tinggi besar di kiri-kanan seperti pinggiran hutan itu? Darimana mulut seorang gadis kecil itu bisa menyebutkan hal yang tidak-tidak? Terlalu muda ia untuk menerka hal-hal demikian. Ingin rasanya aku melayangkan tangan ke mulut cantik milik gadis itu, namun kuurungkan niatku. Aku berlari pulang. Memeluk ibu. Berharap ia memiliki kelapangan hati seluas samudera agar gunjingan yang tidak-tidak itu hanya setitik air hujan baginya, tak berarti.

Dari berbagai hal yang telah kulewati di luar rumah tanpamu, kadang aku ingin mengaku sebagai seorang anak yatim saja, terutama setelah aku tahu apa itu artinya yatim. Lebih mudah rasanya orang lain memaklumi ketidakhadiranmu bila kusebut begitu daripada harus repot-repot berkaca-kaca mengingat aku belum pernah bertemu denganmu. Namun, tidak, aku terlalu menghormatimu untuk menyebut kau telah tiada.

Advertisements

Written by Alderine

June 19, 2012 at 12:04 am

Posted in Seputar Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: