alderine

Sepatah Kata

Fragmen Memori: Ayah (part 1)

with 4 comments

Juni 1993. Kau terbang meninggalkan ibu yang tengah mengandung. Aku — ya, aku masih di dalam kandungan, berusia 5 bulan. Dan manusia mulai menggunjing, mempertanyakan kehamilan ibuku. Benarkah kau ayahku? Sedang ibu tak ambil pusing, ini bukan pertama kalinya kau meninggalkan keluarga menyebrangi lautan di seberang batas teritorial. Mujur ibuku tangguh, siap mengasuh kedua kakak laki-lakiku yang belum genap berusia 6 tahun dan aku yang segera lahir. Bukan hanya mengasuh, tetapi juga menafkahi. Dan gunjingan semakin ramai.

November 1993. Ah, sungguh beruntung aku dilahirkan dengan paras yang sungguh mirip sepertimu — menurut orang-orang. Sehingga gunjingan yang tidak tidak itu mereda. Mereda, bukan hilang sama sekali. Masih saja kudengar celetuk (sampai saat ini), saat kau pertama bertemu ku nanti, kau tidak mau mengakuiku sebagai putrimu.

Putri. Padahal kau ingin memiliki anak laki-laki. Yang tangguh, kuat, tinggi, dan besar — baik secara jasmani maupun rohani, fisik maupun mental. Dan kau telah menyiapkan sebuah nama bagiku, Alder. Bahan disertasi doktoralmu, pembibitan spesies pinus ini, alder. Ternyata aku ditakdirkan sebagai seorang perempuan. Maka ibu menambahkan -ine di belakang namaku, agar terdengar lebih ‘manis’, tidak terlalu maskulin.

Hari-hari berlanjut, bulan demi bulan berganti. Tahun pun berganti. Ibuku yang membesarkanku. Padahal ia harus berjaga dari satu puskesmas ke puskesmas lain ketika matahari masih terlihat, dan ditambah lagi dengan praktik malam setiap hari Rabu-Jumat-Sabtu.

Padahal aku mudah menangis. Aku cengeng. Aku manja. Aku tidak mudah bersama dengan orang yang baru kukenal. Sehingga aku tidak bisa dititipkan ke orang lain. Namun ibu tidak pernah mengeluh. Aku yang masih kecil tidak mengerti, aku tetap manja. Maafkan aku, bu.

Pernah suatu ketika, seingatku, aku berumur 3 tahun. Aku tidak bisa tidur, meski kedua kakakku sudah berusaha sekeras mungkin menina-bobokan aku, membuatkan susu hangat, menyuapiku susu. Namun tangisku tidak reda juga. Malam semakin larut, hari mulai berganti. Ketika jarum jam mendekati angka 1, ibu baru pulang. Seketika ibu memelukku, kemudian berjanji tidak akan pulang larut malam lagi. Sejak itu, ia tak pernah pulang lewat dari pukul 11 malam.

Ah Ayah, andai kau ada saat itu. Tentu aku tak akan merengek-rengek manja seperti itu, setidaknya ada kau yang menenangkan aku. Tak perlu ibu memotong jam praktiknya, masih banyak yang membutuhkan pertolongannya di luar sana.

Tapi aku tak menyalahkanmu. Tak pernah terbersit sedikit pun rasa kecewa ataupun benci padamu. Karena aku tahu, kau tengah menjalani perjuangan, yang kutahu (dari ibuku, tentu saja) adalah baik bagi ilmu pengetahuan, bangsa, negara, dan keluarga tentu saja.

Ayah, kau tahu tidak? Buku favoritku, yang selalu kubuka setiap hari saat menunggu ibu pulang, adalah album fotomu. Betapa indahnya imaji yang terbangun atas sosok dirimu, dibangun dari foto-fotomu, cerita ibu dan kakak, juga postcard yang kau kirimkan. Kau tahu, saat kau menelepon, rasanya aku adalah gadis paling bahagia sedunia, maka hari-hari selanjutnya akan kulewati dengan penuh senyuman.
Setiap malam sebelum tidur, setelah ibu menuntunku membaca doa, aku menyisipkan sebait permohonan, agar aku dapat bertemu malam itu denganmu, meski hanya sebatas mimpi.

Kau tahu ayah, betapa aku kadang ingin menggantikan posisimu, melindungi ibu. Betapa sedih ketika aku sudah mulai bermain keluar rumah, gunjingan itu sampai ke telingaku. Yah, temanku, teman bermainku, anak perempuan 4 tahun. Bertanyalah ia, ke mana ayah pergi. Kujawab ayah sedang di luar negeri, menempuh studi. Lalu dengan mudahnya ia menudh yang bukan-bukan pada ibu, dikatakan bahwa supir itu selingkuhan ibu. Awalnya aku tidak mengerti apa itu selingkuh, hingga ia menjelaskan.

Panas dingin rasanya, Ayah. Tak tahu ia jika supir itu disediakan demi keselamatan ibuku yang praktik malam. Dapatkah kau bayangkan istrimu pulang jam 11 malam ke rumah yang jalannya penuh pepohonan tinggi besar di kiri-kanan seperti pinggiran hutan itu? Darimana mulut seorang gadis kecil itu bisa menerka yang tidak-tidak?

Advertisements

Written by Alderine

June 17, 2012 at 3:32 pm

Posted in Seputar Saya

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Adeuh de, kerjaan sy nanti jg penuh perantauan, bertahun2 & jarang bs pulang,
    Sedih jg ya kalo punya anak istri ditinggal2 gt, ahh bikin terharuu

    koeli minjak

    August 4, 2012 at 5:46 am

    • ini siapa kuli minyak? Wah itu kan sudah konsekuensi dapat pasangan orang lapangan, kayak tambang, geologi, kehutanan (ayah saya kehutanan). Makanya cari istri yang strong, biar dia sanggup jadi dua peran sekaligus, kayak mama saya :3

      alderine

      August 5, 2012 at 8:04 am

  2. ini skullers juga kok alde, bakal hidup di lapangan jg kebetulan
    walopun belom nikah, baca ini jd tau perasaan anak istri kalo bapak/suami nya merantau..
    mantap kali pun blog nya de!

    koeli minjak

    August 6, 2012 at 1:56 pm

    • tau kok kalo skullers nya mah, tap angkatan berapa bang? serius bang tenang aja ninggal anak istri, asal istrinya strong mah hehehe. nanti kalo udah gede anaknya jangan dicuekin ya, dideketin :3

      alderine

      August 7, 2012 at 3:17 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: