alderine

Sepatah Kata

Mengikat Makna

leave a comment »

Sepotong scene dalam kehidupan saya, semasa SMA, tiba-tiba terpampang jelas — setelah membaca catatan harian.

Saat itu, saya bertanya pada pengajar biologi saya. Beliau seorang dosen di sebuah Institut ternama di Bogor. Saya cukup menghormati beliau. Yang saya tanyakan adalah,
‘Pak, kira-kira bagaimana agar kita selalu ingat? Tidak pernah lupa?’
Kala itu, saya sebenarnya sedang bertanya, bagaimana mengingat materi biologi yang begitu banyaknya itu. Tidak seperti matematika dan fisika, yang rumus-rumusnya bisa diturunkan sendiri, buat saya sedikit sulit menghadapi biologi dan kimia, kecuali dengan sering membaca dan membuat resume flowchart. Namun jawaban yang saya dapat lebih dari itu.

‘Ya, bapak ingin mencoba meringkas tentang mengingat. Bapak menyebutnya dengan mengikat ilmu. Mengikat ilmu ada tiga tahapannya. Yang pertama, proses transfer. Dengan membaca, mendengarkan, pokoknya input dari luar masuk ke alam pikiran kamu. Yang kedua, proses analisis. Kamu memikirkan hal ini lebih jauh. Lebih baik lagi kalau ditulis. Yang ketiga, proses sintesis. Ya, sintesis dari apa yang kamu pikirkan, dilakukan dalam perbuatan sehari-hari. Kalau semuanya dilakukan, dijamin selalu ingat.’

Ya. Begitu, saya rasa banyak benarnya. Namun Pak, maafkan saya yang selalu skeptis dalam berbagai hal, saya pun masih skeptis perihal metode mengikat ilmu dari bapak.

Ya, metode ini hanya efektif bagi diri sendiri, dengan output dari luar. Bagaimana jika saya berulang kali menjalani proses originate ideas, yang berarti sintesis dari pemikiran saya sendiri?

Lebih jauh lagi, masalah mengikat ilmu bagi diri sendiri menurut saya terlalu berbahaya. Bagaimana jika saya menyimpan sangat banyak informasi/ilmu/pengetahuan, namun tiba-tiba tanpa direncanakan saya mengalami kematian?

Kemudian pada poin mengikat ilmu pada benda materiil, dengan menuliskannya. Menurut saya, hal ini juga berisiko tinggi. Saya rasa buku-buku tulis SD-SMP saya sudah hilang entah di mana, dijadikan barang loak. Sementara buku-buku SMA masih aman di dalam perlindungan. Menulis digital? Hmm sama saja jika seluruh server di dunia ini down, maka ucapkanlah selamat tinggal pada data-data anda.

Oleh karena itu, saya ingin mencoba mengimprovisasi. Saya namakan hal ini mengikat makna. Makna, buah dari alam pikiran atas suatu fenomena yang terjadi di alam semesta 🙂

Ya, cara mengikat makna menurut saya tidak jauh berbeda. Hanya ada satu hal penting, bahwa setiap makna yang kita dapatkan, haruslah dibagi kepada orang lain. Dan orang lain pun berusaha mengikat makna dengan membagikannya pada orang lain pula. Dengan demikian, makna tak pernah terputus, selalu terregenerasi dari masa ke masa.

Namun, makna hanya akan tumbuh selama ras manusia ada. Ya, karena tidak ada yang abadi di alam semesta ini.

Advertisements

Written by Alderine

June 9, 2012 at 6:18 pm

Posted in Nilai dan Budaya

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: