alderine

Sepatah Kata

Archive for June 2012

Senja Menjelma

leave a comment »

Senja menjelma lagi. Menyilaukan jika kau tatap langsung surya di ufuk barat sana, namun guratan lembayung senja di bidang langit meneduhkan mata.

Senja menjelma lagi. Di balik mega yang bernuansa jingga. Bersembunyi, sambil sesekali mengintip, seakan malu berhadapan langsung dengan penikmatnya.

Senja kini hampir pada puncaknya. Sekawanan burung menari-nari, menciprati kelam pada langit yang keunguan.

Senja masih tak ingin pergi. Meski rembulan sudah siap menyapa. Sabit itu beringsut terlalu cepat, ia hadir selagi surya masih unjuk gigi. Namun ia tidak peduli, lengkung senyumnya selalu terlukis menggantung.

Biru tua mulai menyergap, mengganti jingga yang semakin terbenam dan ungu yang ditelan kelam. Adzan memanggil-manggil, membubarkan anak-anak kecil di lapangan rumput. Berlarian menuju rumah. Sementara ayah yang baru datang bergegas pergi menuju langgar.

Senja kini telah berpamit. Menyisakan kelam di seluruh penjuru langit. Tak sempat aku menandai arah selagi terang, malah termangu dengan pesona si lembayung jingga keunguan. Sementara luna tak membantu.

Biar aku menunggu fajar esok hari dan bertemu lagi dengan senja. Bila masih diberi kesempatan.

===================================

Bandung, 28062012
08:19, di kamar kos yang masih saja dingin

Advertisements

Written by Alderine

June 28, 2012 at 1:29 am

Posted in Prosa Prematur

Repost: Replies from CEO of J.P. Morgan to A Girl in Internet Forum

leave a comment »

A young and pretty lady posted this on a popular forum:

Title: What should I do to marry a rich guy?

I’m going to be honest of what I’m going to say here. I’m 25 this year. I’m very pretty, have style and good taste. I wish to marry a guy with $500k annual salary or above.
You might say that I’m greedy, but an annual salary of $1M is considered only as middle class in New York.
My requirement is not high. Is there anyone in this forum who has an income of $500k annual salary? Are you all married?
I wanted to ask: what should I do to marry rich persons like you?
Among those I’ve dated, the richest is $250k annual income, and it seems that this is my upper limit.
If someone is going to move into high cost residential area on the west of New York City Garden(?), $250k annual income is not enough.
I’m here humbly to ask a few questions:
1) Where do most rich bachelors hang out? (Please list down the names and addresses of bars, restaurant, gym)
2) Which age group should I target?
3) Why most wives of the riches are only average-looking? I’ve met a few girls who don’t have looks and are not interesting, but they are able to marry rich guys.
4) How do you decide who can be your wife, and who can only be your girlfriend? (my target now is to get married)
Ms. Pretty
==================================

A philosophical reply from CEO of J.P. Morgan:

Dear Ms. Pretty,
I have read your post with great interest. Guess there are lots of girls out there who have similar questions like yours. Please allow me to analyse your situation as a professional investor.
My annual income is more than $500k, which meets your requirement, so I hope everyone believes that I’m not wasting time here.
From the standpoint of a business person, it is a bad decision to marry you. The answer is very simple, so let me explain.
Put the details aside, what you’re trying to do is an exchange of “beauty” and “money”; Person A provides beauty, and Person B pays for it, fair and square.
However, there’s a deadly problem here, your beauty will fade, but my money will not be gone without any good reason. The fact is, my income might increase from year to year, but you can’t be prettier year after year.
Hence from the viewpoint of economics, I am an appreciation asset, and you are a depreciation asset. It’s not just normal depreciation, but exponential depreciation. If that is your only asset, your value will be much worse 10 years later.
By the terms we use in Wall Street, every trading has a position, dating with you is also a “trading position”.
If the trade value dropped we will sell it and it is not a good idea to keep it for long term – same goes with the marriage that you wanted. It might be cruel to say this, but in order to make a wiser decision any assets with great depreciation value will be sold or “leased”.
Anyone with over $500k annual income is not a fool; we would only date you, but will not marry you. I would advice that you forget looking for any clues to marry a rich guy. And by the way, you could make yourself to become a rich person with $500k annual income.This has better chance than finding a rich fool.

Hope this reply helps.
Signed,
J.P. Morgan CEO

Written by Alderine

June 27, 2012 at 4:22 pm

Posted in Opini

Tagged with

Kakek, dan Sebuah Kursi di KRL Ekonomi Jakarta-Bogor

leave a comment »

(2 tahun yang lalu)

Seorang kakek-kakek tua, lanjut usia, berdiri terantuk-antuk di hadapanku. Kami berangkat dari stasiun pertama, stasiun Bogor. Tidak tega, aku berdiri mempersilahkan kakek itu untuk duduk.

Namun sekonyong-konyong, seorang wanita muda, cantik, berpakaian dan berdandan layaknya seorang SPG (maaf mbak), langsung merebut kursi tersebut. Aku tersenyum masam, kecut sekali, jauh lebih kecut dari asam lambung sepertinya. Tetapi mbak-mbak SPG ini malah tersenyum, innocent sekali air mukanya.

Aku termenung. Teringat, di berbagai transportasi umum seperti busway, kereta listrik, bis kota, dan lain sebagainya, tentu yang diprioritaskan untuk duduk adalah seorang penyandang cacat, ibu hamil, wanita yang membawa anak-anak, serta lanjut usia seperti kakek tadi.

Ah, aku berbaik sangka saja. Mungkin mbak-mbak SPG tadi tanpa kita ketahui menyandang cacat (bukan cacat fisik mungkin, karena kita tak dapat melihatnya. Mungkin cacat hati?), mungkin juga sedang hamil muda (aneh juga mengingat raut mukanya menunjukkan umur akhir belasan atau awal 20an), atau mungkin dia tidak semuda penampakannya, — sesungguhnya dia lanjut usia?

Yang jelas, aku bersyukur. Masih muda (umurku masih 16 tahun saat itu), sehat, dan kuat, sehingga masih bisa memberi kesempatan orang lain untuk duduk.
🙂

(Jum’at, 22 Juni 2012 — sekitar pukul setengah sepuluh malam)

Seusai berpetualang mengadu nasib angkatan ke PT. A**** Honda Motor, kemudian berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta bersama pacar (ihiw), saatnya pulang, sudah malam. Aku berangkat dari stasiun kota kurang lebih pukul 21.10, menurut jadwal pemberangkatan di stasiun.

Aku jarang mengambil gerbong khusus wanita. Bagiku sama saja. Untungnya ketika berangkat kereta lumayan sepi, sehingga tempat duduk pun masih banyak bersisa.

Tiba di stasiun mangga besar, kereta semakin penuh. Tidak jauh dariku berdiri seorang kakek-kakek. Ia berdiri memegang tiang sabil terkantuk-kantuk. Matanya yang memerah terpejam, tangannya lunglai. Aku tidak tega, lalu berdiri menawarkan tempat duduk. Saat aku berdiri, barangkali sudah sampai stasiun Juanda. Namun kakek itu menolak. Aku menjadi agak memaksa. Namun kakek tetap tidak mau. Akhirnya malah seorang bapak-bapak muda (mungkin usianya 30an awal) yang terlihat masih muda dan kuat yang duduk. Ah. Aku kecele lagi.

————————————————————-

Ada berbagai pertanyaaan besar yang menari-nari di pikiranku. Engkau sudah tua, Kakek, mengapa semalam ini masih bergelantungan di kereta ekonomi? Ke manakah istri, anak-anak, dan cucu-cucumu?

Keriput kulitmu serta lunglainya persendianmu sudah cukup bercerita padaku tentang penderitaan yang kau alami semasa hidup. Maaf jika aku lancang, Kakek, mungkin tak pantas kusebut begitu. Mungkin perjuangan. Pengabdian. Pengorbanan. Asam-garam kehidupan tergambar sempurna dalam auramu.

Lalu mengapa, Kakek, jika kutawarkan sebuah kursi, hanya untuk menyangga tubuh yang letih? Sebentar saja, kakek, hanya 80 menit? Sesulit itukah kakek menerima kursi? Mengapa kakek? Aku tidak mengerti.

Apakah engkau merasa kursi itu jauh darimu. Kursi dan engkau bukanlah pasangan yang baik. Entah kursi yang terlalu buruk di kereta kelas ekonomi, atau engkau enggan duduk di bekas anak muda sepertiku.

Ah, kedua kakek ini memberikan aku pertanyaan, yang aku sendiri tidak tahu bagaimana menjawabnya.

Written by Alderine

June 26, 2012 at 10:05 am

Posted in Opini, Seputar Saya

Tagged with

Merah Kirmizi, Penengah Antara yang Hitam dan Putih

leave a comment »

“Thou your sins be as scarlet, they shall be as white as snow”
— Remy Sylado, dalam bukunya Kerudung Merah Kirmizi.

Saya membaca buku ini pada saat SMA, saat hasrat pada sastra mulai memudar, digantikan dengan keingintahuan akan fisika modern. Namun, perpustakaan yang telah menjadi sahabat sepertinya memahami kejemuan setelah 3,5 bulan — 1 semester di kelas akselerasi, bercumbu dengan jilid 1 Modern Physics bapak Arthur Beisser. Hanya jilid 1.

Kemudian tersembul cover buku warna hitam dengan selendang warna merah scarlet, atau merah kirmizi menurut cara bertutur bapak Remy, memanggil-manggil menarik perhatianku. Dan seperti biasa, aku melahap sastra dengan secepat kilat. 600an halaman ini habis dalam semalaman.

‘Kamu tahu merah kirmizi adalah merah kotor, tapi kamu dapat menyaksikan mukjizat melalui orang lain yang memberikanmu cinta, yang besar cinta itu dapat mengubahnya menjadi bersih seputih salju.’

Novel ini bertutur tentang perjalanan cinta antara seorang duda koboi, Luc Sondak, dengan penyanyi jazz di cafe, Myrna Andriono. Myrna yang mencoba setia dengan bayang almarhum suaminya, mencoba menolak kehadiran Luc. Oleh ibunya, Myrna diberi selendang-kerudung berwarna merah kirmizi, yang harus Myrna kenakan hingga menikah dengan Luc.

Kisah cinta antara Myrna dan Luc memang menjadi fokus dalam novel ini, namun seperti biasa, novel yang menjadi favorit saya adalah yang dapat merangkum kehidupan manusia. Novel ini mengawinkan pluralisme, politik, hingga sosialita.

Dari segi etnis, kita diajak menyelami berbagai nilai dan budaya dari pelaku-pelakunya: Myrna yang asli Sunda, almarhum suaminya, Andriono, yang berasal dari tanah Jawa, pak Luc yang dosen ilmu budaya, Pak Putu yang asli Bali, hingga Batak, Padang, dan Betawi.

Selain keberagaman etnis, novel ini sangat kental dengan nuansa ‘bekas orde baru’, sisa-sisa reformasi dan bekas kejayaan pejabat militer berbintang banyak hingga intrik-intrik busuk cukong kelas kakap hingga teri. Tak sampai di situ, gaya hidup dan culture shock ala orang kaya baru atau pejabat amatiran juga diselipkan.

Dengan kekayaan latar, novel ini saya rasa memang pantas mendapat penghargaan bergengsi Khatulistiwa Literary Award. Remy Sylado mengemas semuanya dengan cara yang apik, mempertemukan berbagai kutub yang berlawanan. Mungkin itu pesan yang ingin disampaikan oleh novel ini: ketika hitam dan putih berseteru, merah kirmizi lah yang menjadi penengahnya, karena tak mungkin manusia hitam legam tanpa kebaikan dan putih suci seutuhnya tanpa maksiat setitik pun.

Meskipun setting dan bahan-bahan dasar dalam novel ini sudah mendekati sempurna, namun sayangnya alur dalam novel ini tidak jauh berbeda seperti sinetron ftv, atau novel-novel teenlit lainnya. Endingnya dapat ditebak, kaya-raya, menikah, dan lived happily ever after. Tetapi overall, buku ini cukup baik dibaca, bagi anak muda penyicip sastra, terutama pemula dan anak SMA. 🙂

Written by Alderine

June 26, 2012 at 5:20 am

Posted in Buku dan Sastra

Inisiatif

leave a comment »

(Kamis, 21 Juni 2012)

Setelah kuliah pemrosesan sinyal berakhir, mendekati jam 4 sore. Aku bergegas, karena ingin pulang ke Bogor. Aku berjalan dari kampus menuju halte di depan Rumah Sakit Borromeus, menunggu bis kota Damri yang mengantar ke terminal Leuwi Panjang.
Jalanan cukup ramai. Agak lama aku menunggu, sekitar 35 menit akhirnya muncul juga bis kotak yang beroperasi sejak tahun 60’an itu.

Bis cukup penuh. Beberapa penumpang sudah berdiri. Aku pun tidak kebagian tempat duduk. Namun tiba-tiba seorang akang-akang berdiri dan mempersilakan aku duduk. Aku mengucap terima kasih. Kucuri-curi pandang, mencoba mencari informasi tentang dia yg memberikan aku tempat duduk.

Aku memulai dari jaketnya. Jaketnya, jaket yang menunjukkan afiliasi pada organisasi tertentu. Rohis dari SMA yang paling bergengsi seantero kota kembang, persis seperti milik seniorku. Kutaksir lagi ia adalah mahasiswa tingkat 4. Namun aku tidak memperhatikan wajahnya. Biar Tuhan saja yang membalas kebaikannya.

Jalanan cukup lancar. Tak terasa dari Jalan Juanda — atau lebih dikenal dengan Dago, sudah meluncur saja ke Pasar Baru. Seperti biasa, jalanan di Pasar Baru cukup padat. Tak lama kemudian, banyak penumpang-penumpang baru dari Pasar Baru naik bis damri ini. Beberapa saat kemudian, naiklah seorang ibu-ibu ke atas bis damri yang menuju Leuwi Panjang ini.

Aku sudah pernah bertemu beberapa kali dengan ibu-ibu ini sebelumnya. Ibu-ibu ini berdagang di Pasar Baru, terkadang mengajak cucu laki-lakinya ikut. Ia pulang sore hari menuju Soreang, sedang datang pukul 8 pagi. Tanpa pikir panjang, aku berdiri kemudian mempersilakan ibu-ibu itu duduk di tempatku.

Mangga calik, ibu..” (silahkan duduk, ibu)
Aduh, neng geulis, hatur nuhun” (aduh, dik, terima kasih banyak)
Bade ka Soreang, ibu?” (mau ke Soreang, bu?)
Sumuhun, geulis. Geus rengse kuliahna? Bade uih ka Bogor?” (betul, dik. Sudah selesai kuliahnya? Mau pulang ke Bogor?)
Sumuhun, ibu..” (Betul, ibu..)

Dan kemudian kami berbincang chit-chat saja, tentang dagangannya hari ini, cucu laki-lakinya, ‘pameugeut’ nya, namun ternyata ibu-ibu ini terlihat cukup lelah hingga ia terkantuk-kantuk.

Tapi tidak lama, setelah aku mempersilakan ibu-ibu itu duduk, tiba-tiba para bapak-bapak dan laki-laki lain yang tadinya duduk dengan adem ayemnya, tiba-tiba berdiri. Menawarkan para mbak-mbak — yang rata-rata masih muda, untuk duduk. Padahal mereka sudah berdiri sejak di Dago, dan ini sudah sampai Tegallega. Cukup jauh, setengah lebih perjalanan sudah terlewati. Tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini di bis damri selama 2 tahun. Biasanya mereka hanya duduk tanpa rasa bersalah, atau malah tidur, pura-pura tidak tahu, tidak melihat, atau tidak sadar.

——————————————————–

Ah, ironis. Sudah lunturkah budaya timur di kota kembang ini, mempersilakan orang tua dan wanita untuk lebih dahulu duduk?

Atau mungkin mereka malu, meski ini hanya asumsi. Asumsi loh. Saya tegaskan lagi, hanya asumsi. Karena beberapa hari kemudian saya naik damri, tetap saja keadaannya begitu. Bapak-bapak, akang-akang, jarang sekali yang mempersilakan duduk seorang lanjut usia, ataupun ibu-ibu yang membawa anaknya.

Mungkin, budaya Timur ini sudah luntur. Budaya Timur yang menghormati orang yang lebih tua, serta wanita.

Atau mungkin mereka butuh trigger. Di sinilah diperlukan inisiatif dari kita. Inisiatif untuk tetap melestarikan budaya-budaya timur yang sopan, beretika, dan nyaman.

Saya jadi teringat ketika MOS masuk SMA tahun 2008 dulu. Teriakan-teriakan mereka (senior) bergaung lagi. ‘Manaa inisiatifnya?’, ‘Kalo ngomong dipikir dulu!!’, ‘Jangan kelamaan mikir, bertindak!!’, ‘Jangan cuma ngebebek doang bisanyaa!!’

Terutama kalimat terakhir, jangan cuma ngebebek doang bisanya. Ah saya rasa membebek dalam kebaikan tidak ada salahnya. Apalagi jika kita melakukan kebaikan dan ‘dibebeki’ oleh orang lain. Maka dari itu, inisiatif sangat diperlukan.

Mungkin, alumni SMA saya pun akan berpikir hal yang sama melihat para mas-mas yang tiba-tiba berdiri itu. Ingin berteriak, ‘Bebek lu semuaa!’ 🙂

Written by Alderine

June 26, 2012 at 3:10 am

Posted in Opini, Seputar Saya

Lapangan Rumput Kesepian

with one comment

(1)
Aku merindukan lapangan rumput penuh ilalang di sisi-sisinya. Ingin aku bercengkrama lagi, seperti masa kecilku dulu. Tempat kami bermain sepakbola, meski harus berebut dengan mereka yang sok penguasa. Kau pun kawan setia saat aku tidur-tiduran menatap langit penuh layang-layang berwarna-warni, bahkan menjadi saksi saat aku berhasil mengangkasakannya pertama kali. Kau tempat aku berkenalan dengan berbagai macam permainan yang kadang kami beri nama sesuka hati. Ah, sungguh aku rindu, duhai lapangan rumput penuh ilalang, yang kini tertutup semen dan menjadi lahan perumahan.

(2)
Naluri hidup adalah untuk tumbuh dan berkembang biak. Ya, itulah naluri semua makhluk hidup, untuk tumbuh-kembang, serta bereproduksi. Agar kejayaan spesies terus terjaga. Begitu juga kami, berbagai populasi pengisi lahan kosong. Ilalang, rumput teki, belalang hijau, belalang daun, wereng, rumput gajah, serta teman-teman yang belum disebutkan.

Generasi pendahuluku mengalami hidup yang sangat sulit. Hidup begitu dinamis. Harus cukup tegar untuk terinjak-injak anak-anak yang berlarian. Siap pula diterkam predator-predator yang kelaparan. Hidup menjadi begitu sulit. Hanya yang kuat yang dapat bertahan.
Namun kini tak ada anak kecil yang datang menginjak-nginjak kami, terhalang oleh tembok tinggi dan kawat berduri yang dipasang manusia asing yang mengatakan lahan ini miliknya. Predator pun segan untuk mengganjal perutnya dengan kami, mengingat pelbagai jebakan bagi hewan-hewan telah dipasang di tiap sudut. Kami hidup bahagia, tumbuh berkembang tanpa tahu dan siap akan kematian.

Ya, secara fisik kami lebih sejahtera. Namun apa artinya hidup tanpa perjuangan? Daya hidup dikebiri, kematian menjadi suatu hal yang asing, dan hidup menjadi terlalu mudah. Terlalu mudah. Terlalu mudah, sulit dihargai.
Aku merindukan kucing yang datang menangkap dan mengejar-ngejar berbagai serangga yang beterbangan dan berloncatan. Aku merindukan sapi-sapi, kambing, serta hewan ternak lainnya yang merumput, menggerogoti daun-daun yang paling segar diantara kami. Aku merindukan ayam yang mematuki tanah-tanah dan menemukan apa saja- kumbang, cacing gilig, hingga karet, ban, plastik dan rem tangan bekas anak kecil bermain.

Kini tantangan kami bukanlah injakan anak kecil, kucing, tikus, musang, kadal, ayam, sapi, kambing, ataupun makhluk hidup lainnya. Namun kami harus siap menghadapi langit. Langit tak sesegar dulu, hembusan anginnya kini penuh debu yang menutup dedaunan. Langit pun kian tak bersahabat, menyemai hujan yang semakin asing pada sel-sel kami.
Sedang kami tak diciptakan untuk itu.

Pasrah saja pada Tuhan, mungkin ini hanya salah satu mekanisme seleksi alam yang sedang Ia ciptakan.

Written by Alderine

June 26, 2012 at 2:06 am

Fragmen Memori: Ayah (part 2)

leave a comment »

1996. Ibu memasukkan ku ke Taman Kanak-Kanak. Saat itu aku masih berusia 3,5 tahun. Sebenarnya aku belum cukup usia untuk berada di Taman Kanak-Kanak. Namun saat itu aku telah mampu menyebutkan seluruh nama angka-angka yang terdapat di meteran kain untuk menjahit milik ibu, yang panjangnya kurang lebih 1,8 meter. Selain itu, aku mulai membaca koran yang datang setiap pagi ke rumah dan menanyakan maksud konten berita tersebut, yang tentu saja tidak cocok bagi anak berusia 3,5 tahun. Karena keingintahuanku yang mengkhawatirkan itulah, aku ‘dititipkan’ ke Taman Kanak-Kanak.

Namun ternyata dunia luar begitu kejam. Hari pertama, kami diajak bercita-cita. Melontarlah berbagai profesi keluar dari mulut kami, astronot, pilot, polisi, perawat, dokter, tentara, dokter gigi, insinyur, ilmuwan, atlet. Tiba giliranku ditanya. Karena aku sedang menyukai kebumian, kujawab saja: ahli geologi. Ibu guru tercenung, beberapa saat kemudian menanyakan pekerjaan ayah. Ah, aku tidak tahu, yang aku tahu kau sedang belajar di luar negeri tentang berbagai tanaman. Aku terdiam, tidak tahu. Ibu guru menanyakan apakah aku seorang anak yatim. Saat itu pula pertama kali aku mendengar kata yatim, dan mengerti maknanya. Aku tetap diam. Dipanggillah ibuku oleh ibu guru. Ah, maafkan aku ibu, di hari pertama sudah membuat masalah.

Tapi ternyata kerinduanku tidak berhenti sampai disitu, ayah. Kau tahu, kami pernah diajak menggambar sebuah keluarga. Aku menggambar ibu bersama mesin jahitnya, selagi aku dan kakak-kakakku berkejaran dan tertawa bahagia. Sungguh berbeda dengan teman-temanku, yang berisi ayah, ibu, dan anaknya sedang bergandeng tangan. Aku diolok-olok mereka. Mereka bilang, aku tak punya ayah. Aku tak cukup kuat menahan emosi, akhirnya aku berlari pulang.

Kau tahu ayah, betapa aku kadang ingin menggantikan posisimu, melindungi ibu. Betapa sedih ketika aku sudah mulai bermain keluar rumah, gunjingan itu sampai ke telingaku. Yah, temanku, teman bermainku, anak perempuan berusia 4 tahun. Bertanyalah ia, ke mana ayah pergi. Kujawab ayah sedang di luar negeri, menempuh studi. Lalu dengan mudahnya ia menuduh yang bukan-bukan pada ibu, dikatakan bahwa supir itu selingkuhan ibu. Awalnya aku tidak mengerti apa itu selingkuh, hingga ia menjelaskan.

Panas dingin rasanya, Ayah. Tak tahu ia jika supir itu berganti-ganti orangnya setiap hari. Bapak supir disediakan demi keselamatan ibuku yang praktik malam. Dapatkah kau bayangkan istrimu pulang jam 11 malam ke rumah yang jalannya penuh pepohonan tinggi besar di kiri-kanan seperti pinggiran hutan itu? Darimana mulut seorang gadis kecil itu bisa menyebutkan hal yang tidak-tidak? Terlalu muda ia untuk menerka hal-hal demikian. Ingin rasanya aku melayangkan tangan ke mulut cantik milik gadis itu, namun kuurungkan niatku. Aku berlari pulang. Memeluk ibu. Berharap ia memiliki kelapangan hati seluas samudera agar gunjingan yang tidak-tidak itu hanya setitik air hujan baginya, tak berarti.

Dari berbagai hal yang telah kulewati di luar rumah tanpamu, kadang aku ingin mengaku sebagai seorang anak yatim saja, terutama setelah aku tahu apa itu artinya yatim. Lebih mudah rasanya orang lain memaklumi ketidakhadiranmu bila kusebut begitu daripada harus repot-repot berkaca-kaca mengingat aku belum pernah bertemu denganmu. Namun, tidak, aku terlalu menghormatimu untuk menyebut kau telah tiada.

Written by Alderine

June 19, 2012 at 12:04 am

Posted in Seputar Saya