alderine

Sepatah Kata

Analisis Romantisme dalam Sudut Pandang Saya Sendiri

leave a comment »

Katakanlah saat ini saya sedang terjebak dalam sebuah hubungan. Antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dengan apa yang disebut cinta oleh masyarakat umum sebagai landasannya. Namun saya sendiri tidak berani menyebut cinta, terlalu dini untuk menafsirkan cinta. Saya akan menyebutnya afeksi. Karena afeksi bisa terlihat secara jelas intensitasnya dibanding cinta.

Dalam hubungan yang demikian, umumnya berjalan tanpa didasari latar belakang, alasan, serta tujuan yang jelas. Hubungan ini sangat manusiawi — memadukan antara hati nurani, perasaan/emosi, dan akal pikiran untuk menjaga keberlangsungannya. Keberlangsungan hubungan dijaga hanya dengan argumen perasaan/emosi. Karena jika sudah mulai menemukan alasan untuk bertahan, ketulusan dalam berhubungan mulai dipertanyakan. Keberlangsungan hanya akan berjalan selama alasan tersebut cukup kuat menopang. Sementara itu, jika hanya perasaan yang dilibatkan dalam menopang keberlangsungan hubungan, hubungan yang demikian tidaklah realistis. Diperlukan akal pikiran untuk merasionalisasi dan ‘merekayasa’ keberlangsungan, serta hati nurani untuk menyeimbangkan rasionalisasi dan rekayasa tersebut.

Hal lain yang dikejar dalam hubungan demikian selain keberlangsungan adalah intimacy. Intimacy tidak saja dapat diperoleh dengan sentuhan fisik seperti analisis-analisis yang dilakukan biro-biro jasa pelayanan konsultasi jodoh. Sentuhan fisik hanya salah satu cara mencapai intimacy. Peristiwa-peristiwa diskrit yang meningkatkan kadar intimacy saya definisikan sebagai romantisme. Romantisme saya rasa tidak hanya melalui kontak fisik, tetapi juga pada hal-hal kecil seperti perhatian (caring), penghargaan, pemberian (giving), dan lain-lain.

In other words, saya ingin menyampaikan bahwa romantisme tidak sekompleks candle light dinner berdua di cafe yang mahal, pegangan tangan, atau kegiatan apapun yang identik dengan kata romantis. Romantisme untuk dirasakan. Saya pribadi dapat menemukan romantisme ketika diantar pulang, mengantar dia pergi, makan bersama, diskusi hal-hal apapun yang terlintas di pikiran, atau ketika dia mengajak saya ke toko buku. Romantisme bisa sesederhana ketika saya dan dia terlarut dalam diskusi mengenai keharmonisan umat beragama, atau tokoh-tokoh seperti Bung Hatta, Cokroaminoto, hingga Tan Malaka. Romantisme bisa terasa seperti hadiah ketika dia mengajak saya ke tempat buku-buku bekas, atau ketika bersama-sama menemukan buku yang sangat langka.

Its simple, isnt it?

Advertisements

Written by Alderine

May 25, 2012 at 4:25 am

Posted in Seputar Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: