alderine

Sepatah Kata

Antara yang Nyata dan Tidak

with 3 comments

Sentuhan yang lembut itu akhirnya sampai pada parietal lobe di cerebrum setelah melewati beberapa perjalanan panjang. Lapisan epidermis dan diteruskan ke corpuscle Paccini, Ruffini, dan Meissner dan diubah menjadi 3 impuls yang berbeda. Hangatnya, tekanannya, getarannya. Sel Merkel menunggu di akhir untuk menggabungkannya kembali dan mengubahnya menjadi impuls listrik yang diteruskan oleh dendrit neuron sensorik yang berselubung mielin untuk mempercepat jalannya impuls.
Perjalanan masih jauh, masih harus melewati kumpulan badan sel di ganglion simpatetik, kemudian berpindah melalui axosomatic synaps ke interneuron, barulah perjalanan menuju cerebrum dilanjutkan. Setelah sampai di cerebrum, melejitlah aku ke ubun-ubun, tempat di mana parietal lobe bersemayam. Ternyata impuls masih dibagi-bagi lagi ke bagian-bagian parietal lobe, namun sebagian besar dari impuls ku sampai ventral intraparietal untuk direpresentasikan sebagai sentuhan yang utuh. Ah, perjalanan panjang ini ternyata hanya menghabiskan waktu 0,03 milidetik!

Begitupula ceritanya dengan penglihatan,
pendengaran, dan pembauku. Setelah getaran dari suara merdu-merayu nya itu dikumpulkan oleh pinna, getaran itupun dirambatkan sebagai gelombang, masuk ke dalam melalui meatus auditorius eksternus, dan menggetarkan tympanic membrane. Ternyata
perjalanan masih jauh, masih harus melewati trio malleus, incus, dan stapes. Stapes yang bergetar merambatkan getarannya pada fenestra vestibuli yang membantu menguatkan Intensitas gelombang hingga 20 kali yang diterima pinna, dan dilanjutkan pada fenestra rotunda. Sampailah pada cochleae, dan menggetarkan prelimfe. Getaran terus merambat, melaju dan meresonansikan ruang hingga menggetarkan basilar membrane dalam organo corti. Rambut-rambut kecil dan halus yang terperangkap dalam basilar membran pun ikut bergetar, hingga ke akarnya yang tertanam di tectorial membrane, dan dirubah menjadi impuls oleh neuron sensorik. Impuls pun dilanjutkan ke saraf VIII vestibulocochlear. Dari sini, dikirimlah ke temporal lobe di dekat pelipis. Disini impuls dibagi-bagi menjadi memori, bahasa, dan verbal.
Ah, perjalanan yang tak kalah panjangnya ini pun hanya ditempuh dalam beberapa milidetik!

Seandainya imaji itu hanya gambaran persepsi inderawi, yang terbentuk dari gelombang suara yang diubah menjadi impuls listrik, atau sentuhan dan cahaya, akankah dunia ini tampak seperti sekarang jika susunan panca indra kita diganti? Dengan mata milik lebah, peraba milik ikan hiu, pembau milik beruang, dan pendengar milik kelelawar? Atau bagaimana, jika gelombang itu dimanipulasi
inputnya, jika impuls listrik itu digantikan oleh impuls dari mesin, jika gelombang suara diganti amplitudo, frekuensi, dan intensitas nya? Bisakah kita menginterpretasi segala yang kita dapat dari dunia ini, dengan sudut pandang bukan dari persepsi inderawi kita?
Karena panca indera kita penuh keterbatasan..
Tentunya Tuhan memberikan kita indera yang jauh lebih peka dari segala indera. Bisakah? Jika bisa, bagaimana caranya membedakan yang nyata dan tidak?
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
semangat Fisika Teknik 2010! 😀
Pemikiran aneh yang tiba-tiba muncul setelah obrolan taun bari tentang personal reality, dan pemikiran tentang paradigma memandang masalah.

Ah, I am lost.

 

 

010111 — benda reblog 😀

Advertisements

Written by Alderine

May 5, 2012 at 10:56 am

Posted in Prosa Prematur

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. kalau seperti itu, apa kata Gaarder dalam “Gadis Jeruk” menjadi relevan, “Lihatlah dunia saat kamu belum menjejali dirimu dengan terlalu banyak fisika dan kimia.” Mungkin dengan begitu realitas bisa terbedakan. Tapi terkadang juga lebih enak kalau kita menikmati dunia yang ajaib ini

    Mbak alderine mahasiswa teknik fisika itb juga ya?

    nacksomat

    May 29, 2012 at 8:02 am

  2. Jostein Gaarder kah yang dimaksud? Saya belum baca itu, masih Dunia Sophie di awal-awal. Okay masuk list.

    Realitas ya? Gimana kalo realitas itu hanya ada di pikiran kita? Atau ternyata realitas itu hanya kesepakatan antar manusia atas persepsi hal-hal yang terjadi? Padahal persepsi sangat dipengaruhi dari inputan inderawi

    Contoh, buat orang buta warna, warna hijau-merah berbeda sama yang normal. Nah kita tau dari mana kalau kita bisa melihat ‘normal’? Gimana kalau ternyata persepsi mata kita akan warna hijau sebenarnya beda-beda, hanya saja kita sepakat kalau dari hal-hal yang berbeda tadi kita definisikan hijau.

    Jangan dianggap serius, itu cuma masalah persepsi :p

    iya bang, aku FT2010, adek tingkat nih hehe. Rasanya baru kemarin osjur terus minta tanda tangannya hehe

    alderine

    May 29, 2012 at 12:33 pm

    • oke, ga usah dianggap serius. tapi paling tidak kalau sudah tahu begitu kita menjadi tidak gampang menyalahkan tindakan orang lain

      nacksomat

      May 30, 2012 at 3:08 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: