alderine

Sepatah Kata

Paramitha: Kesempurnaan dan Completedness

leave a comment »

Paramitha, atau dalam bahasa sansekerta (maaf ga punya font sansekerta) Pãramitã, adalah aturan dasar dalam agama Buddha. Dalam bahasa yang lebih luas dan wide-known, ajaran Paramitha ini lebih dikenal dengan “Six Perfection” (6 Pãramitã). Pãramitã merupakan kulminasi tertinggi dalam ajaran Buddha.

Pãramitã sendiri punya arti “kesempurnaan” atau completedness. Paramitha terdiri dari 6 ajaran utama (ada mazhab lain bilang 10, mungkin pake sistem bilangan basis 6 :p), yaitu dãna, síla, khsanti, vírya, prajñã, dan dhyana. Tapi saya cuma mau bahas 5 di awal, yang ada di literatur Sansekerta maupun Pãli (beda mazhab).

Dãna, dalam bahasa sansekerta atau Daan dalam bahasa Pãli artinya keikhlasan dalam memberi atau dalam bahasa yang lebih singkat, generousity. Dalam konteks paramitha, Dãna-Pãramitã adalah kesempurnaan keihklasan dalam memberi — the perfection of giving. Menurut ajaran dana-paramitha (nulis pake cureg2 ribet), semakin kita banyak memberi tanpa meminta balasan, maka semakin jiwa kita diperkaya, dan harta kita semakin berlimpah (mirip ajaran islam juga ya :p). Dana adalah salah satu dari kewajiban seorang budha (sila, dana, bhavana).
Cara memberi ini juga ada tingkatan-tingkatannya:
1. Vidya Dãna (vidya = ilmu, bila diadaptasi ke dalam bahasa jawa menjadi widya) atau memberi pengetahuan — sharing knowledge. Sesuai pepatah yang sering kita dengar, “Give a man a fish and you feed him for a day. Teach a man to fish and you feed him for a lifetime.” Ajaran ini mirip dengan Gift of Knowledge-nya Christianity.
2. Kanya Dãna (Kanya = anak perempuan), memberi anak perempuan untuk dinikahi.
3. Anna Dãna, memberi makan bagi mereka yang kurang mampu. Tapi kalo liat pepatah di poin satu, jadi mikir-mikir lagi ya.
4. Go Dãna, memberi donasi sapi.
5. Bhu Dãna, memberi sedekah tanah.
Sedang menurut ajaran Hindu, ada 10 dana (dasa dana), tambah emas, nasi, minyak, baju, perak, dan lain-lain.

Pãramitã yang kedua adalah Síla. Rasanya kata ini tidak asing di negeri kita, di negeri panca sila. Yap, sila memiliki makna aturan. Untuk mencapai kesempurnaan – paramitha, tentunya dalam hidup kita harus mengikuti aturan yang berlaku. Síla termasuk ke dalam 8 jalan hidup mulia (Noble eightfold path). Ajaran Síla mengajak manusia untuk menjaga keharmonian dan keseimbangan hidup alam semesta, serta berlaku adil tanpa kekerasan dan merusak alam semesta. Sila selain sebagai kewajiban, juga merupakan salah satu dasar Theravada, yaitu sila, samãdhi, dan prajna (dibahas kemudian).

Kemudian ajaran Kshanti atau Khanti (dalam bahasa Pãli). Kshanti bermakna kesabaran, kerelaan untuk menanggung beban, serta kelapangan dada untuk memaafkan (aih soo sweeet :3). Kshanti mengaplikasikan kesabaran dalam menghadapi kondisi yang tidak kita inginkan untuk sabar, seperti emosi, marah, dan sebagainya. Kshanti sendiri menurut ajaran Buddha adalah bakat yang ada dalam setiap diri manusia.
Dalam Dhammapada Khanti, dideskripsikan pula bagaimana seorang Brahman melakukan ajaran Khanti,

“He endures — unangered — insult
assault, & imprisonment.
His army is strength;
his strength, forbearance:
he’s what I call
a brahman.”

Kata kunci dalam ajaran Khanti adalah patience, forbearance, dam forgiveness.

Selanjutnya, Vírya. Jika diartikan secara harfiah, virya adalah keadaan manusia yang kuat, atau manliness. Makanya di Indonesia banyak laki-laki yang namanya wirya :p. Pada konteks ajaran paramitha, virya merupakan faktor mental. Virya digambarkan sebagai energi, antusiasme, keteguhan hati, kesungguhan, dan kerja keras. Virya merupakan dasar dalam berfikir positif bagi manusia.

Dan yang terakhir, Prajñã atau pañña dalam bahasa Páli. Bahkan ada versi lagu dance korea judulnya Banya (maaf ga punya font hangeul), artinya sama, mungkin filosofinya beda. Prajna adalah kebijkasanaan, kondisi ‘mengerti’ pada semua aspek. Menurut ajaran Budha, kebijaksanaan selevel prajna hanya dapat dicapai melalui meditasi (samádhi). Dalam ajaran buddha, prajna adalah kebijaksanaan yang berdasar dari realisasi langsung hal-hal seperti empat kebenaran mulia (four noble thruths), ketidak-kekalan, awal yang saling berhubungan, kehampaan, dan ke-aku-an. Katanya sih, kebahagiaan manusia adalah saat sudah mencapai kondisi prajñã, saat sudah menemukan apa itu spiritualitas.

Selanjutnya mungkin saya akan membahas tentang 4 kebenaran mulia dan 8 jalan mulia. Ditunggu saja 😀

Advertisements

Written by Alderine

May 3, 2012 at 12:31 am

Posted in Nilai dan Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: