alderine

Sepatah Kata

Sesal Malam

leave a comment »

Aku terlalu asik mendesain pcb di depan layar. Membuatnya menjadi praktis atau membuatnya berbentuk unik dan rumit. Aku terhisap membayangkan dunia penyetruman ini, salah satu kesukaanku. Hingga tak sadar waktu kian berlari.

Hampir tengah malam, dan sialnya aku masih di kampus. Aku tersadar akan nyeri di lututku, hasil dari kelalaianku membawa sepeda petang tadi. Bodoh, buku kuliah rangkaian listrikku setebal 800an halaman itu kupegang dengan tangan kanan dan kukendalikan sepeda fixie kawanku dengan tangan kiri. Dan masih kucoba pula untuk melakukan lompatan kecil bunnyhop menaiki trotoar. Tentu saja hasilnya jeans yang robek serta luka di telapak tangan kanan dan lutut kiriku, tetapi aku cukup senang untuk menertawakan kebodohanku kali ini.

Segera kukemasi rekan kerjaku sejak SMA – laptop, kertas yang abstrak rupanya karena kugunakan untuk corat coret dan kotrat kotret. Hmm aku harus segera pulang. Jalan kaki, tentu saja karena sepedaku tentu jauh lebih parah kondisinya setelah keisengan-keisengan selama bersamaku.

Namun sendiri, hingga kamarku. Perasaanku aneh. Dalam 3 bulan terakhir, aku cenderung melakukan aktifitas bersama dan massal. Jarang sekali pulang larut malam berjalan kaki sendiri, jika tak ada sepedaku tersayang tentu banyak teman teman yang searah, atau teman laki-laki yang mengantar dengan kendaraan. Tapi sekarang? Ah, pikiranku berlebihan. Kutepis semua keraguanku. Aku adalah si pemberani. Bahkan teman-temanku tidak mengakuiku sebagai perempuan karena rasa takutku seolah sudah mati.

Kutegakkan badan, kudekap buku kuliah rangkaian listrikku dan kupercepat langkah. Jalan malam ini cukup sepi. Kulirik arloji di tangan kiriku yang agak baret setelah jatuh bersamaku. 23:47. Malam sekali.

Pedagang makanan yang biasa memenuhi jalan seperti pasar sudah tak terlihat.
Terngiang kata-kata Bang Napi di kepalaku,
“Ingat, kejahatan terjadi bukan karena hanya ada niat pelakunya, tapi juga ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalahh!!” Entah apa yang seharusnya kulakukan, kutingkatkan kewaspadaanku, meski kacamata sudah kulepas.

Aku semakin menyesal pulang larut malam seperti ini. Entah apa pandangan masyarakat melihat perempuan berjalan sendirian malam-malam sepertiku.
Tapi terdengar suara yang makin jelas. Celotehan anak-anak kecil. Kupicingkan mata mencari sumber suara. Ah, sekitar 400 meter dihadapanku ternyata.

Ibu muda yang kutebak usianya belum menginjak 30, namun beban di wajahnya nampak begitu berat. Perutnya terlihat membesar, sepertinya sedang hamil. Beliau sedang menggendong bayi.
Ada pula seorang anak perempuannya yang mungkin ada di usia taman kanak-kanak sedang duduk di atas 2 koper besar, menatap seorang bapak-bapak.

Aku tak berani lancang mengamati adegan itu
berlama-lama. Namun sepenggal saja, meninggalkan kesan di memori kalbuku.

“Ayah, selama ini ayah jarang pulang. Apa setelah ini ayah akan sering bertemu Ina, adik, dan mama?”
pandangan bola mata bening khas anak kecil tak berdosa itu tertuju pada satu sosok yang tegap itu, yang ia panggil ayah.

Namun yang dik Ina panggil ayah itu pergi. Menyeka air matanya. Hingga kata-kata lembut itu membalikkan badannya.

“Ayah, kita bertiga bermalam di mana?” tanya ibu yang terlihat semakin muram.

Yang mereka panggil ayah hanya berbalik untuk mendengarkan. Ia kembali berjalan menghampiri CR-V hitamnya, dan kemudian memacunya dengan kencang, tanpa melambai, mengucapkan perpisahan, ataupun doa.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Ah, apakah aku yang 17 tahun masih terlalu muda untuk mengerti hal ini?
Mengapa begitu sulit mengerti kejadian itu?

Aku tak ingin memperkeruh suasana.
Kupercepat langkah.
Bertindak apatis menjadi pilihanku.

Sementara ibu muda itu berlutut. Terduduk. Dan kemudian menangis. Tergugu. Di bawah hamparan langit merah malam kota kembang yang mendung.

Menyesalkah aku?

Bandung, 20 September 2011
kamar kos, based on true story, no change at all.

Advertisements

Written by Alderine

May 2, 2012 at 1:05 am

Posted in Prosa Prematur, Seputar Saya

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: