alderine

Sepatah Kata

Aforisma dalam Prosa yang Prematur

leave a comment »

The only way to read a book of aphorisms without being bored is to open it at random and, having found something that interests you, then immediately close the book and meditate.
Prince Charles-Josef de Ligne (1735 – 1814), Austrian field marshal and writer

Kau berlindung di balik bayangan dirimu sendiri. Bayangan yang kau pahat dengan sempurna, dan melesakkan bit-bit pesona yang mengesankan.

Kau bilang prosa satu dekade. Mereka bilang kau tak menggurui. Namun terlalu dini menyebutnya prosa. Dan aforismamu tergesa. Rimamu pun menari terbata. Turbulen. Serupa angin bertiup, tak sama di sini dan di atas langit. Kata-kata bercuat tak beratur, bagai buah fikir pada ambang peradilan.

Meski prosa dan aforismamu prematur. Masih kau sajikan secarik filosofi dihadapnya. Tak perlu risau, tak semua dapat mengambil setumpuk makna darimu.

Karena sastra bagai warna. Sastra hanya representasi lain dari seni. Preferensimu menggambar kecocokan emosi bagi mereka.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Sebua kritik untuk seorang penulis, mungkin karena brandingnya terlalu bagus, antara endorser dan isi buku tak seiring.

Coba tak vulgar, belajar figuratif. Karena saya sendiri tak tertarik dengan sastra yang vulgar.

Advertisements

Written by Alderine

May 2, 2012 at 10:38 pm

Posted in Prosa Prematur

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: