alderine

Sepatah Kata

Archive for May 2012

Analisis Romantisme dalam Sudut Pandang Saya Sendiri

leave a comment »

Katakanlah saat ini saya sedang terjebak dalam sebuah hubungan. Antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dengan apa yang disebut cinta oleh masyarakat umum sebagai landasannya. Namun saya sendiri tidak berani menyebut cinta, terlalu dini untuk menafsirkan cinta. Saya akan menyebutnya afeksi. Karena afeksi bisa terlihat secara jelas intensitasnya dibanding cinta.

Dalam hubungan yang demikian, umumnya berjalan tanpa didasari latar belakang, alasan, serta tujuan yang jelas. Hubungan ini sangat manusiawi — memadukan antara hati nurani, perasaan/emosi, dan akal pikiran untuk menjaga keberlangsungannya. Keberlangsungan hubungan dijaga hanya dengan argumen perasaan/emosi. Karena jika sudah mulai menemukan alasan untuk bertahan, ketulusan dalam berhubungan mulai dipertanyakan. Keberlangsungan hanya akan berjalan selama alasan tersebut cukup kuat menopang. Sementara itu, jika hanya perasaan yang dilibatkan dalam menopang keberlangsungan hubungan, hubungan yang demikian tidaklah realistis. Diperlukan akal pikiran untuk merasionalisasi dan ‘merekayasa’ keberlangsungan, serta hati nurani untuk menyeimbangkan rasionalisasi dan rekayasa tersebut.

Hal lain yang dikejar dalam hubungan demikian selain keberlangsungan adalah intimacy. Intimacy tidak saja dapat diperoleh dengan sentuhan fisik seperti analisis-analisis yang dilakukan biro-biro jasa pelayanan konsultasi jodoh. Sentuhan fisik hanya salah satu cara mencapai intimacy. Peristiwa-peristiwa diskrit yang meningkatkan kadar intimacy saya definisikan sebagai romantisme. Romantisme saya rasa tidak hanya melalui kontak fisik, tetapi juga pada hal-hal kecil seperti perhatian (caring), penghargaan, pemberian (giving), dan lain-lain.

In other words, saya ingin menyampaikan bahwa romantisme tidak sekompleks candle light dinner berdua di cafe yang mahal, pegangan tangan, atau kegiatan apapun yang identik dengan kata romantis. Romantisme untuk dirasakan. Saya pribadi dapat menemukan romantisme ketika diantar pulang, mengantar dia pergi, makan bersama, diskusi hal-hal apapun yang terlintas di pikiran, atau ketika dia mengajak saya ke toko buku. Romantisme bisa sesederhana ketika saya dan dia terlarut dalam diskusi mengenai keharmonisan umat beragama, atau tokoh-tokoh seperti Bung Hatta, Cokroaminoto, hingga Tan Malaka. Romantisme bisa terasa seperti hadiah ketika dia mengajak saya ke tempat buku-buku bekas, atau ketika bersama-sama menemukan buku yang sangat langka.

Its simple, isnt it?

Advertisements

Written by Alderine

May 25, 2012 at 4:25 am

Posted in Seputar Saya

Alter Ego

leave a comment »

Sejumput ragu menyirami beribu tanya, terbungkam deras metafor klise. Terseret semakin jauh, berpaling.

Jejak terekam, tercecer dalam fragmen-fragmen antara belenggu hari kemarin dan refleksi kemudian. Dian menyapa nanar. Memaksa menyeruput luka, memuntahkan rasa. Pahit.

Mengikuti naluri, yang tanpa sadar terbudak nafsu. Alter ego berkuasa, memaki eksistensi nurani. Ego berkelit, berambisi menang.

Dalam sekedip bayang, refleksi menghantui. Dua hati tercabik, konsekuensi bagi kejayaan ego dan nurani yang terabai. Semakin jauh, semakin kuat.

Ya, jalan sudah ditempuh, ego yang memilih. Nurani berontak. Haruskah kembali ke persimpangan jalan?

Homogenic – Seringan Awan

Written by Alderine

May 7, 2012 at 12:41 am

Posted in Prosa Prematur

Antara yang Nyata dan Tidak

with 3 comments

Sentuhan yang lembut itu akhirnya sampai pada parietal lobe di cerebrum setelah melewati beberapa perjalanan panjang. Lapisan epidermis dan diteruskan ke corpuscle Paccini, Ruffini, dan Meissner dan diubah menjadi 3 impuls yang berbeda. Hangatnya, tekanannya, getarannya. Sel Merkel menunggu di akhir untuk menggabungkannya kembali dan mengubahnya menjadi impuls listrik yang diteruskan oleh dendrit neuron sensorik yang berselubung mielin untuk mempercepat jalannya impuls.
Perjalanan masih jauh, masih harus melewati kumpulan badan sel di ganglion simpatetik, kemudian berpindah melalui axosomatic synaps ke interneuron, barulah perjalanan menuju cerebrum dilanjutkan. Setelah sampai di cerebrum, melejitlah aku ke ubun-ubun, tempat di mana parietal lobe bersemayam. Ternyata impuls masih dibagi-bagi lagi ke bagian-bagian parietal lobe, namun sebagian besar dari impuls ku sampai ventral intraparietal untuk direpresentasikan sebagai sentuhan yang utuh. Ah, perjalanan panjang ini ternyata hanya menghabiskan waktu 0,03 milidetik!

Begitupula ceritanya dengan penglihatan,
pendengaran, dan pembauku. Setelah getaran dari suara merdu-merayu nya itu dikumpulkan oleh pinna, getaran itupun dirambatkan sebagai gelombang, masuk ke dalam melalui meatus auditorius eksternus, dan menggetarkan tympanic membrane. Ternyata
perjalanan masih jauh, masih harus melewati trio malleus, incus, dan stapes. Stapes yang bergetar merambatkan getarannya pada fenestra vestibuli yang membantu menguatkan Intensitas gelombang hingga 20 kali yang diterima pinna, dan dilanjutkan pada fenestra rotunda. Sampailah pada cochleae, dan menggetarkan prelimfe. Getaran terus merambat, melaju dan meresonansikan ruang hingga menggetarkan basilar membrane dalam organo corti. Rambut-rambut kecil dan halus yang terperangkap dalam basilar membran pun ikut bergetar, hingga ke akarnya yang tertanam di tectorial membrane, dan dirubah menjadi impuls oleh neuron sensorik. Impuls pun dilanjutkan ke saraf VIII vestibulocochlear. Dari sini, dikirimlah ke temporal lobe di dekat pelipis. Disini impuls dibagi-bagi menjadi memori, bahasa, dan verbal.
Ah, perjalanan yang tak kalah panjangnya ini pun hanya ditempuh dalam beberapa milidetik!

Seandainya imaji itu hanya gambaran persepsi inderawi, yang terbentuk dari gelombang suara yang diubah menjadi impuls listrik, atau sentuhan dan cahaya, akankah dunia ini tampak seperti sekarang jika susunan panca indra kita diganti? Dengan mata milik lebah, peraba milik ikan hiu, pembau milik beruang, dan pendengar milik kelelawar? Atau bagaimana, jika gelombang itu dimanipulasi
inputnya, jika impuls listrik itu digantikan oleh impuls dari mesin, jika gelombang suara diganti amplitudo, frekuensi, dan intensitas nya? Bisakah kita menginterpretasi segala yang kita dapat dari dunia ini, dengan sudut pandang bukan dari persepsi inderawi kita?
Karena panca indera kita penuh keterbatasan..
Tentunya Tuhan memberikan kita indera yang jauh lebih peka dari segala indera. Bisakah? Jika bisa, bagaimana caranya membedakan yang nyata dan tidak?
– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –
semangat Fisika Teknik 2010! 😀
Pemikiran aneh yang tiba-tiba muncul setelah obrolan taun bari tentang personal reality, dan pemikiran tentang paradigma memandang masalah.

Ah, I am lost.

 

 

010111 — benda reblog 😀

Written by Alderine

May 5, 2012 at 10:56 am

Posted in Prosa Prematur

I am 18 and I act 21 :(

leave a comment »

[x] You know how to make a pot of coffee
[ ] You keep track of dates using a calendar
[ ] You own a credit card (punyanya debit card :p)
[x] You know how to change the oil in a car
[x] You’ve done your own laundry
[x] You can vote in an election
[x] You can cook for yourself
[x] You think politics are interesting
TOTAL SO FAR : 6

[x] You show up for school late a lot
[ ] You always carry a pen/pencil in your bag/purse/pocket
[x] You’ve never gotten a detention
[x] You have forgotten your own birthday
[x] You like to take walks by yourself
[x] You know what credibility means, without looking it up
[x] You drink caffeine at least once a week
TOTAL SO FAR : 6

[x] You know how to do the dishes
[ ] You can count to 10 in another language
[ ] When you say you’re going to do something you do it
[x] You can mow the lawn
[x] You study even when you don’t have to
[x] You have hand washed a car before
TOTAL SO FAR : 4

[ ] You can spell experience, without looking it up
[ ] The people at Starbucks know you by name
[ ] Your favorite kind of food is take out
[ ] You can go to the store without getting something you don’t need
[x] You understand political jokes the first time they are said
[ ] You can type pretty quick
TOTAL SO FAR : 1

[ ] Your only friends are from your place of employment
[ ] You have been to a Tupperware party
[x] You have realized that practically no one will take you seriously unless you are over the age of 25 and have a job.
[ ] You have more bills than you can pay
[x] You have been to the beach
[x] You use the internet every day
[ ] You have travelled overseas for more than 5 times
[ ] You make your bed in the morning
[x] You realised people of the opposite gender might just make better friends.
TOTAL: 4

GRAND TOTAL: 21

bosen nih post yang serius-serius, mau yang main-main dulu aja 🙂
ini repost dari yang dulu waktu di multiply, almost 2 years ago. Waktu itu hasilnya pas, udah (hampir, kurang 2 bulan) umur 17, dan hasilnya 17
pas diliat lagi soalnya sih ekspektasi udah yakin kalo bakal lebih gede, eh bener 🙂
well, bentar lagi 19 sih *ngarep
padahal 6 bulan lagi — setengah tahun!! 🙂

Written by Alderine

May 3, 2012 at 4:08 am

Posted in Seputar Saya

Paramitha: Kesempurnaan dan Completedness

leave a comment »

Paramitha, atau dalam bahasa sansekerta (maaf ga punya font sansekerta) Pãramitã, adalah aturan dasar dalam agama Buddha. Dalam bahasa yang lebih luas dan wide-known, ajaran Paramitha ini lebih dikenal dengan “Six Perfection” (6 Pãramitã). Pãramitã merupakan kulminasi tertinggi dalam ajaran Buddha.

Pãramitã sendiri punya arti “kesempurnaan” atau completedness. Paramitha terdiri dari 6 ajaran utama (ada mazhab lain bilang 10, mungkin pake sistem bilangan basis 6 :p), yaitu dãna, síla, khsanti, vírya, prajñã, dan dhyana. Tapi saya cuma mau bahas 5 di awal, yang ada di literatur Sansekerta maupun Pãli (beda mazhab).

Dãna, dalam bahasa sansekerta atau Daan dalam bahasa Pãli artinya keikhlasan dalam memberi atau dalam bahasa yang lebih singkat, generousity. Dalam konteks paramitha, Dãna-Pãramitã adalah kesempurnaan keihklasan dalam memberi — the perfection of giving. Menurut ajaran dana-paramitha (nulis pake cureg2 ribet), semakin kita banyak memberi tanpa meminta balasan, maka semakin jiwa kita diperkaya, dan harta kita semakin berlimpah (mirip ajaran islam juga ya :p). Dana adalah salah satu dari kewajiban seorang budha (sila, dana, bhavana).
Cara memberi ini juga ada tingkatan-tingkatannya:
1. Vidya Dãna (vidya = ilmu, bila diadaptasi ke dalam bahasa jawa menjadi widya) atau memberi pengetahuan — sharing knowledge. Sesuai pepatah yang sering kita dengar, “Give a man a fish and you feed him for a day. Teach a man to fish and you feed him for a lifetime.” Ajaran ini mirip dengan Gift of Knowledge-nya Christianity.
2. Kanya Dãna (Kanya = anak perempuan), memberi anak perempuan untuk dinikahi.
3. Anna Dãna, memberi makan bagi mereka yang kurang mampu. Tapi kalo liat pepatah di poin satu, jadi mikir-mikir lagi ya.
4. Go Dãna, memberi donasi sapi.
5. Bhu Dãna, memberi sedekah tanah.
Sedang menurut ajaran Hindu, ada 10 dana (dasa dana), tambah emas, nasi, minyak, baju, perak, dan lain-lain.

Pãramitã yang kedua adalah Síla. Rasanya kata ini tidak asing di negeri kita, di negeri panca sila. Yap, sila memiliki makna aturan. Untuk mencapai kesempurnaan – paramitha, tentunya dalam hidup kita harus mengikuti aturan yang berlaku. Síla termasuk ke dalam 8 jalan hidup mulia (Noble eightfold path). Ajaran Síla mengajak manusia untuk menjaga keharmonian dan keseimbangan hidup alam semesta, serta berlaku adil tanpa kekerasan dan merusak alam semesta. Sila selain sebagai kewajiban, juga merupakan salah satu dasar Theravada, yaitu sila, samãdhi, dan prajna (dibahas kemudian).

Kemudian ajaran Kshanti atau Khanti (dalam bahasa Pãli). Kshanti bermakna kesabaran, kerelaan untuk menanggung beban, serta kelapangan dada untuk memaafkan (aih soo sweeet :3). Kshanti mengaplikasikan kesabaran dalam menghadapi kondisi yang tidak kita inginkan untuk sabar, seperti emosi, marah, dan sebagainya. Kshanti sendiri menurut ajaran Buddha adalah bakat yang ada dalam setiap diri manusia.
Dalam Dhammapada Khanti, dideskripsikan pula bagaimana seorang Brahman melakukan ajaran Khanti,

“He endures — unangered — insult
assault, & imprisonment.
His army is strength;
his strength, forbearance:
he’s what I call
a brahman.”

Kata kunci dalam ajaran Khanti adalah patience, forbearance, dam forgiveness.

Selanjutnya, Vírya. Jika diartikan secara harfiah, virya adalah keadaan manusia yang kuat, atau manliness. Makanya di Indonesia banyak laki-laki yang namanya wirya :p. Pada konteks ajaran paramitha, virya merupakan faktor mental. Virya digambarkan sebagai energi, antusiasme, keteguhan hati, kesungguhan, dan kerja keras. Virya merupakan dasar dalam berfikir positif bagi manusia.

Dan yang terakhir, Prajñã atau pañña dalam bahasa Páli. Bahkan ada versi lagu dance korea judulnya Banya (maaf ga punya font hangeul), artinya sama, mungkin filosofinya beda. Prajna adalah kebijkasanaan, kondisi ‘mengerti’ pada semua aspek. Menurut ajaran Budha, kebijaksanaan selevel prajna hanya dapat dicapai melalui meditasi (samádhi). Dalam ajaran buddha, prajna adalah kebijaksanaan yang berdasar dari realisasi langsung hal-hal seperti empat kebenaran mulia (four noble thruths), ketidak-kekalan, awal yang saling berhubungan, kehampaan, dan ke-aku-an. Katanya sih, kebahagiaan manusia adalah saat sudah mencapai kondisi prajñã, saat sudah menemukan apa itu spiritualitas.

Selanjutnya mungkin saya akan membahas tentang 4 kebenaran mulia dan 8 jalan mulia. Ditunggu saja 😀

Written by Alderine

May 3, 2012 at 12:31 am

Posted in Nilai dan Budaya

Aforisma dalam Prosa yang Prematur

leave a comment »

The only way to read a book of aphorisms without being bored is to open it at random and, having found something that interests you, then immediately close the book and meditate.
Prince Charles-Josef de Ligne (1735 – 1814), Austrian field marshal and writer

Kau berlindung di balik bayangan dirimu sendiri. Bayangan yang kau pahat dengan sempurna, dan melesakkan bit-bit pesona yang mengesankan.

Kau bilang prosa satu dekade. Mereka bilang kau tak menggurui. Namun terlalu dini menyebutnya prosa. Dan aforismamu tergesa. Rimamu pun menari terbata. Turbulen. Serupa angin bertiup, tak sama di sini dan di atas langit. Kata-kata bercuat tak beratur, bagai buah fikir pada ambang peradilan.

Meski prosa dan aforismamu prematur. Masih kau sajikan secarik filosofi dihadapnya. Tak perlu risau, tak semua dapat mengambil setumpuk makna darimu.

Karena sastra bagai warna. Sastra hanya representasi lain dari seni. Preferensimu menggambar kecocokan emosi bagi mereka.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

Sebua kritik untuk seorang penulis, mungkin karena brandingnya terlalu bagus, antara endorser dan isi buku tak seiring.

Coba tak vulgar, belajar figuratif. Karena saya sendiri tak tertarik dengan sastra yang vulgar.

Written by Alderine

May 2, 2012 at 10:38 pm

Posted in Prosa Prematur

Tagged with ,

Keadilan Mayoritas

leave a comment »

Kaum mayoritas,
terkadang melihat permasalahan kompleks dari
sudut pandangnya sendiri. Entah, terlalu marginalkah orang yang bersudut pandang lain untuk diajak bertukar asa, atau doktrinasi bahwa yang banyak selalu benar terlalu kuat.

Kaum mayoritas,
merasa bahwa dirinya yang sempurna, tanpa cela.
Merasa bahwa kekuasaan ada di genggaman
tangan.
Merasa bahwa kapabilitas hanya tersimpan pada golongan mayor, tak memberi celah bagi kaum marginal untuk sekedar mepertunjukkan kepemilikan, apalagi mengasah potensi!

Kaum mayoritas,
tak pernah berfikir bila mungkin saja selama ini
salah.
Entah salah karena mengkapitaliskan suasana
di negeri pancasila ini, atau salah karena tak kritis,
menelan mentah dogma yang tak habis.

Mungkin jua, salah karena TAK BERLAKU ADIL?

Kota Kembang, 011111, 21:11:01
atas keadilan dalam ketidakadilan

Written by Alderine

May 2, 2012 at 1:12 am

Posted in Opini, Prosa Prematur

Tagged with ,