alderine

Sepatah Kata

Sepetak Tanah

leave a comment »

Didasari atas keserakahan manusia yang akhir-akhir ini terlihat di mana-mana, saya ingin mereview cerita lain dari Leo Tolstoy, How Much Land Does A Mand Need?
Cerita ini mengenai seorang petani. Dia merasa kurang dengan lahan yang dia miliki. Kemudian, dia berambisi untuk memiliki lahan seluas-luasnya. Dia berkata, “Jika saja aku punya lahan yang luas, aku tidak akan takut dengan setan!” Tanpa sepengetahuannya, setan berdiri di belakangnya mendengar ucapan petani itu.

Tidak lama kemudian, ada seorang pemilik tanah dekat rumahnya menjual tanah miliknya. Orang beramai-ramai membeli tanah miliknya sebanyak yang mereka mampu, begitupun petani itu. Akhirnya petani itu memiliki tanah yang lebih luas. Namun, dia masih berambisi untuk memiliki tanah yang lebih luas lagi.

Akhirnya petani itu pindah ke kota lain, dengan lahan yang lebih luas lagi tentunya. Di sini ia hidup berkecukupan, dengan hasil bercocok tanam yang lebih banyak pula. Namun ada hal yang mengganggunya, lahan tempatnya bercocok tanam merupakan tanah sewaan.

Untuk itu, ia pergi ke seorang pemilik tanah, dan menawar harga tanah miliknya semurah mungkin. Akhirnya pemilik tanah itu menawarkan tanahnya dengan kesepakatan yang unik. Untuk harga 1000 ruble (mata uang Rusia, maklum karangan Tolstoy), ia dapat memiliki lahan seluas yang ia mau, dibatasi parit kecil yang dibuat dengan sekop. Ia boleh memulai sejak matahari terbit, dan berhenti saat matahari terbenam. Jika ia dapat kembali saat sebelum matahari terbenam, seluruh tanah di dalam area yang ia tandai dengan parit menjadi miliknya. Tapi jika ia belum kembali ke tempat asalnya sebelum matahari terbenam, maka ia kehilangan uangnya dan tidak menerima tanah sedikitpun.

Petani itu senang sekali, membayangkan ia akan mendapat tanah seluas yang ia mau. Malam itu ia menyiapkan diri untuk esok hari. Namun ia bermimpi buruk. Dalam mimpinya, petani itu melihat dirinya terkulai mati di bawah kaki setan yang sedang tertawa.

Keesokan harinya, petani itu berusaha untuk menandai tanah sejauh yang ia bisa. Hingga ia tersadar, matahari sudah terbenam separuh. Namun ia terlalu jauh dari titik mula. Ia berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai titik mula. Akhirnya petani itu sampai ke titik mula di mana pemilik tanah menunggunya, tepat saat matahari terbenam seluruhnya. Pemilik tanah menghargai hasil kerja petani itu, dan memberikan seluruh tanah yang sudah ditandai parit kecil itu menjadi miliknya. Namun karena terlalu kencang berlari, petani itu mati kelelahan. Pesuruhnya kemudian menguburnya dalam tanah berukuran 2 x 1 meter.

——————————————————–
Ironis, bukan?
(ditulis pada perjalanan pulang di tol Cipularang šŸ™‚ )

Advertisements

Written by Alderine

April 12, 2012 at 5:41 am

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: