alderine

Sepatah Kata

Archive for April 2012

Karakter Hewan dan Saya

leave a comment »

Saya ingat sewaktu masih SMP, lebih tepatnya sekitar kelas VII semester 2. Jika ditanya lebih lanjut bulan hari tanggal saya sudah tidak ingat lagi pastinya,
Teman saya, Rania Fardyani atau yang akrab disapa acil oleh teman-teman (dan lebih sering disapa ‘teteh’ oleh saya) melontarkan sebuah pertanyaan (atau permainan? Saya sendiri juga tidak yakin)

Sebutkan 3 hewan yang kamu suka, sama karakter dari hewan itu yang membuat kamu suka. Urutkan dari yang pertama, kedua, sampai yang terakhir.

Dan ini jawaban saya, dan review bocoran dari teh acilnya juga.

1. Kuda Liar
Kuda itu kuat. Aku suka kuda, apalagi kuda yang liar, tidak terdomestifikasi, apalagi dipelihara. Hidupnya tak terkekang. Berlari ke sana kemari sesuai yang ia kehendaki. Menjelajahi padang rumput yang satu ke yang lainnya.
Kuda yang kelebihan energi ini juga bermanfaat bagi manusia, terutama tenaganya. Sejak zaman renaissance, manusia jika ingin membawa barang-barang yang banyak atau bepergian yang jauh, biasanya menggunakan kuda.
Tidak semua orang — apalagi newbie — dapat dengan mudah menjinakkan seekor kuda. Nah, ini yang bikin penasaran. Misterius πŸ™‚
But, once you get rid of them, you got an awesome power. Nyatanya, kuda juga dipakai buat perang, kan?
Selain itu, bagian-bagian tubuhnya hampir semua berguna, seperti filosofi tunas kelapa lambang pramuka. Meskidaya gunanya tak seekstrim kelapa, tapi coba lihat produksi dari living stock kuda. Daging, susu, rambutnya (terutama yang nylon), tulangnya, bahkan urinnya buat bahan obat!

Analisis teh acil: Its what you think who you are, and what you want people think of you.

Analisis gue: masa sih gan? Gue ngerasa masih terkungkung kewajiban. Belum bisa sepenuhnya do what I really want to do, learn what I really want to learn, and go wherever I want to go. Padahal keinginan-keinginan gue gak muluk dan berlebihan, rata-rata sederhana, reachable, dan visible. Masalah utamanya hanya prioritas dan waktu. Misal gue pengen belajar kebumian, atau baca novel sesuatu, pergi ke pantai, naik gunung, dst. Temen ada, uang ada, waktu yang ga ada.
Masalah bermanfaat, gue juga belum ngerasa bermanfaat banget buat orang kok. Masih parasit hahaha. Kuat? Energi berlebih? Aamiiin πŸ™‚
In the end, I assume that its more likely to be: ‘Its what you wanna be’, not what I think I am.

2. Kucing
Kucing itu manis, lucu, ngegemesin. Kadang kucing terlihat anggun, sering juga terlihat childish. Tapi kucing natural, anggun dan childishnya nggak dibuat-buat dan nggak liat tempat, alami keluar begitu aja. Aku suka kucing yang aktif, yang gampang diajak main, ramah sama semua orang. Melihat tingkah laku kucing bisa mencairkan suasana. Saat stress lalu bermain bersama kucing, rasanya relieve banget πŸ™‚
Selain itu, kucing juga bisa dilatih buat beradaptasi. Aku juga suka sama kucing yang udah sepuh. Yang jagoan. Yang ‘wilayah kerja’nya di mana-mana. Buat dapetin itu semua perlu kerja keras, kekuatan, dan waktu.

Analisis teh acil: Its what people think of you.
Saya: wah nggak ada komentar, saya juga nggak tau persis (dan nggak begitu peduli) dengan apa yang orang pikir tentang saya.

3. Beruang
Meski belum pernah ketemu langsung sama seekorpun spesies beruang, saya suka beruang. Dalam persepsi saya, beruang itu bermuka teduh. Nggak peduli kata orang kalo beruang itu mukanya gahar atau gimana.
Beruang juga andal dalam melindungi keluarganya, serta punya sifat kebapakan. Betinanya mandiri, bisa cari makan sendiri, nggak perlu nunggu (atau istilah saya: manja) sama jantannya. Betinanya bisa menjaga sarang dan anak-anaknya, tapi juga bisa mencariikan makan untuk anak-anaknya. Serba bisa. Beruang betina jadi salah satu pengejawantahan sosok mama saya, dan mama seperti apa aku yang aku inginkan di masa depan πŸ™‚
kesimpulan= keyword: muka teduh, serba bisa, melindungi

Analisis teh acil: Its who you are actually.
Saya: no comment

——————————————————–
Its mine, how about yours? Please tell me πŸ™‚

Written by Alderine

April 12, 2012 at 5:19 pm

Posted in Seputar Saya

Tagged with

Sepetak Tanah

leave a comment »

Didasari atas keserakahan manusia yang akhir-akhir ini terlihat di mana-mana, saya ingin mereview cerita lain dari Leo Tolstoy, How Much Land Does A Mand Need?
Cerita ini mengenai seorang petani. Dia merasa kurang dengan lahan yang dia miliki. Kemudian, dia berambisi untuk memiliki lahan seluas-luasnya. Dia berkata, “Jika saja aku punya lahan yang luas, aku tidak akan takut dengan setan!” Tanpa sepengetahuannya, setan berdiri di belakangnya mendengar ucapan petani itu.

Tidak lama kemudian, ada seorang pemilik tanah dekat rumahnya menjual tanah miliknya. Orang beramai-ramai membeli tanah miliknya sebanyak yang mereka mampu, begitupun petani itu. Akhirnya petani itu memiliki tanah yang lebih luas. Namun, dia masih berambisi untuk memiliki tanah yang lebih luas lagi.

Akhirnya petani itu pindah ke kota lain, dengan lahan yang lebih luas lagi tentunya. Di sini ia hidup berkecukupan, dengan hasil bercocok tanam yang lebih banyak pula. Namun ada hal yang mengganggunya, lahan tempatnya bercocok tanam merupakan tanah sewaan.

Untuk itu, ia pergi ke seorang pemilik tanah, dan menawar harga tanah miliknya semurah mungkin. Akhirnya pemilik tanah itu menawarkan tanahnya dengan kesepakatan yang unik. Untuk harga 1000 ruble (mata uang Rusia, maklum karangan Tolstoy), ia dapat memiliki lahan seluas yang ia mau, dibatasi parit kecil yang dibuat dengan sekop. Ia boleh memulai sejak matahari terbit, dan berhenti saat matahari terbenam. Jika ia dapat kembali saat sebelum matahari terbenam, seluruh tanah di dalam area yang ia tandai dengan parit menjadi miliknya. Tapi jika ia belum kembali ke tempat asalnya sebelum matahari terbenam, maka ia kehilangan uangnya dan tidak menerima tanah sedikitpun.

Petani itu senang sekali, membayangkan ia akan mendapat tanah seluas yang ia mau. Malam itu ia menyiapkan diri untuk esok hari. Namun ia bermimpi buruk. Dalam mimpinya, petani itu melihat dirinya terkulai mati di bawah kaki setan yang sedang tertawa.

Keesokan harinya, petani itu berusaha untuk menandai tanah sejauh yang ia bisa. Hingga ia tersadar, matahari sudah terbenam separuh. Namun ia terlalu jauh dari titik mula. Ia berlari sekencang-kencangnya untuk mencapai titik mula. Akhirnya petani itu sampai ke titik mula di mana pemilik tanah menunggunya, tepat saat matahari terbenam seluruhnya. Pemilik tanah menghargai hasil kerja petani itu, dan memberikan seluruh tanah yang sudah ditandai parit kecil itu menjadi miliknya. Namun karena terlalu kencang berlari, petani itu mati kelelahan. Pesuruhnya kemudian menguburnya dalam tanah berukuran 2 x 1 meter.

——————————————————–
Ironis, bukan?
(ditulis pada perjalanan pulang di tol Cipularang πŸ™‚ )

Written by Alderine

April 12, 2012 at 5:41 am

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,

Selagi Hari Terang, Aku Akan Selalu Ingat

leave a comment »

While The Light Lasts — Agatha Christie

Kumpulan cerpen ini merupakan satu-satunya buku Agatha Christie yang saya punya πŸ™‚ Kebetulan saya jarang beli buku, lebih suka parasit buat pinjem orang atau perpustakaan atau sekalian cari e-booknya. Tapi buku ini jaman saya masih SMP kelas 1 (atau kelas VII nyebutnya, hehe), saat e-book belum se widely used sekarang.

Meskipun bukan Agatha Christie pertama yang saya baca, buku ini merupakan salah satu Agatha Christie favorit saya. Buku ini tidak banyak mengisahkan pembunuhan yang psikopat maupun sadistik khas Agatha, tapi lebih banyak menonjolkan sisi psikologis manusia. Meski mungkin juga bercerita tentang kematian, tapi lebih banyak karena faktor psikologi si pemeran. Saya rasa salah kalo dibaca anak dibawah umur, karena saya sendiri pas baca pertama kali agak traumatik juga sama kontennya πŸ™‚

Ada 9 cerita di kumpulan cerpen ini, dan temanya macam-macam juga. Ada yang bertema petualangan seperti Petualangan Puding Natal (Christmas Adventure), Sang Aktris (The Actress) dan Manx Gold, sayang dua cerita ini nggak recommended karena adventurenya level anak kecil, nggak se kompleks Dan Brown sekarang, mungkin karena faktor cerpen juga. Ada juga yang tentang misteri pembunuhan, Misteri Peti Baghdad (The Mystery of the Baghdad Chest), yang munculin Hercule Poirot. Walaupun cuma satu yang pake bunuh-bunuhan tapi masih menggunakan alur khas Christie. Ada juga yang temanya romance macem Dewa yang Kesepian (The Lonely God) dan Selagi Hari Terang (While the Light Last). Menurut gue dua cerita ini, apalagi yang The Lonely God, bagus banget πŸ™‚

Ada quotes bagus dari cerita While the Light Lasts, yang juga saya suka πŸ™‚

While the light lasts, I shall never forget.
After the dark comes, I will always remember.

— While the Light Lasts, Agatha Christie

 

Tapi cerita favorit saya di buku ini ada 3, belum dibahas sama sekali. Temanya nggak jelas apa, romance nya ada, bunuh-bunuhan nggak tapi ngomongin kematian, cemburu, sakit jiwa, yah begitulah.

Favorit saya yang pertama Di Balik Dinding (Within the Wall). Sampai sekarang pun alurnya masih bikin penasaran. Gelap banget, terlalu banyak analogi yang nggak bisa dijelasin. Ceritanya tentang pelukis yang terjebak dalam cinta segitiga. Endingnya nggak jelas, diakhiri dengan teka-teki belum terpecahkan yang dibahas hampir seabad kemudian sampai sekarang (dari tahun 1926). Β Teka-tekinya itu’

Dalam dinding seputih susu,
dalam tirai selembut sutra,
bermandikan laut sejernih kristal,
muncullah apel emas.

Bahkan pembahasan tentang apel emas ini nggak habis-habis sampai sekarang.

Selanjutnya Tepi Jurang (The Edge) dan Rumah Impian (The House of Dreams). Dua cerita ini bener-bener bahasannya antara cinta dan psikologis manusia.

Buat remaja yang menuju dewasa, yang masih newbie masalah Agatha Christie, buku ini kumpulan cerpennya cocok banget buat jadi starter.

Written by Alderine

April 7, 2012 at 3:24 am

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,

What Men Lives By

leave a comment »

Ada cerita (semacam fairy tale, tapi bukan) yg pernah gw baca waktu masih kecil. Mungkin pernah didongengin juga cuma agak lupa persisnya, tapi kemungkinan besar baca sih.

Dan cerita ini punya quotes yg gw suka banget πŸ™‚

What dwells in men is love.

What is not given to men is to know his own needs.

What men lives by is thatΒ love exist in man.

—Β Leo Tolstoy, inΒ What Men Lives By

Ceritanya sebut saja tentang Simon, si pengrajin sepatu. Simon ini sangat miskin 😦 . Ceritanya udah mau winter, jadi dia susah-susah nabung buat beli bulu domba untuk dibikin coat di musim dingin (aih so sweet ya πŸ™‚ ). Simon mulai nabung, sampe akhirnya lumayan lah bisa buat beli, meski dia masih harus ngorbanin uang makan punya istrinya. Nah, berangkatlah Simon ke pasar.

Tapi sampai di pasar, ternyata uang dia ga cukup 😦 karena frustasi uangnya malah dipake buat minum-minum sama judi (namanya juga pasar, banyak godaan 😦 ). Tapi abis minum-minum dia nyesel, bingung mesti gimana. Bahan bikin coat ga ada, duit buat makan abis dipake minum-minum.

Di tengah kegalauannya itu, dia ketemu sama orang kurus kering di pojokan, ga pake baju. Simon bingung mesti gimana, tolong atau biarin aja?

 

Penasaran kan? Makanya baca bukunyaa πŸ˜€ #tabok

Written by Alderine

April 6, 2012 at 3:45 pm

Posted in Buku dan Sastra

Tagged with ,